Categories
Blogs internet

Bandwith Limit Exceeded

Bandwidth Limit Exceeded
Bandwidth Limit Exceeded

Ough, it’s my first!
*berasa seleblog* 8)

Categories
off topic

Out of Topic

Hari ini sebenarnya saya ingin memposting tentang kebatalan kunjungan tim Manchester United ke Indonesia. Entah kenapa akhirnya saya malah nyasar ke situs salah satu partai di Amerika Serikat yang mempunyai nama unik: Boston Tea Party.

Jadi, begini ceritanya (gambar berubah ngeblur kayak di tipi-tipi):

Categories
social

Calo 3 in 1

Di dekat kantor saya, persis di seberang jalan depan kantor, sering saya jumpai banyak orang berjajar di trotoar sambil mengacungkan jari kepada setiap mobil yang melintas. Dulu saat pertama datang di Jakarta, saya tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Biasanya orang melakukan itu untuk “mencegat” angkot atau bus kota agar berhenti dan mereka bisa naik. Tapi ini mereka lakukan kepada mobil-mobil pribadi, dan banyak di antaranya adalah mobil dengan merk-merk mewah. Jadi tak mungkin kalau mereka mau “numpang” di situ. Seorang kawan saya waktu itu memberi tahu kepada saya, bahwa orang-orang itu adalah calo 3 in 1. Dia lalu menjelaskan bahwa di Jakarta ada beberapa jalan protokol yang dalam waktu-waktu tertentu tidak boleh dilewati mobil yang berisi kurang dari 3 orang. Jadi para calo tersebut menawarkan jasa agar para pengendara mobil dapat melintasi jalan-jalan tersebut tanpa ditilang pak polisi bertampang galak yang suka malak. Bagaimana caranya? Ya mereka akan berpura-pura menjadi penumpang dalam mobil tersebut, sehingga ketentuan 3 orang dalam mobil bisa terpenuhi.

Pekerjaan seperti ini memang sangat menggiurkan. Hampir tidak dibutuhkan skill apapun untuk melakukannya. Hanya perlu kesabaran untuk mencegat setiap mobil yang lewat, plus dandanan yang rapi dan sopan. Yah, mungkin agar calon pemakai jasa mereka, yang sebagian besar adalah orang-orang berduit tidak risih dengan penampilan mereka saat mau menggunakan layanan mereka. Seringkali ketika saya berangkat ke kantor, saya berjalan bareng dengan seorang yang tampak seperti orang kantoran: menggunakan kemeja & celana kain + sepatu kulit. Rapi sekali, tapi ketika sampai di tempat biasanya calon-calo ini mangkal, eh, dia kok ikut-ikut mengacungkan jari mencegat mobil.

Uang yang dihasilkan pun terhitung lumayan. Saya pernah bertanya kepada sopir pribadi direktur tempat saya bekerja. Menurut beliau, biasanya pak direktur paling sedikit memberi uang sepuluh ribu rupiah jika menggunakan jasa para calo. Kalau jarak yang ditempuh lumayan jauh, biasanya dari Senayan ke Thamrin, pak direktur memberi 20 ribu. Dan kalau sedang baik hati, tak jarang uang lima puluh ribuan yang diberi. Tidak ada tarif resmi, kata pak sopir saya. Semua tergantung tingkat kebaikan si pemakai jasa.

Tapi yang saya sayangkan, tampaknya pihak Satpol PP dan pra petugas yang lain tidak setuju dengan kehadiran para calo ini. Sering saya jumpai mereka semua lari berhamburan ketika mendengar sirene mobil patroli Satpol PP, atau suara derap sepatu bot para petugas yang tengah mencari ceperan bertugas. Entah apa alasan para petugas yang menghalau kehadiran mereka. Toh, mereka tidak melakukan hal-hal yang merusak. Mereka hanya stand-by di saat-saat tertentu, saat jam 3 in 1 aktif. Merusak ketertiban kota? Saya rasa tidak, mereka toh hanya berbaris dengan stelan rapi di sepanjang trotoar, mereka juga tidak merugikan pengguna jalan lain atau pejalan kaki (alasan yang biasanya dipakai alasan untuk mengobrak PKL).

Bagi saya calo-calo itu hanya orang-orang yang berusaha mencari rejeki dengan cara yang halal tanpa meminta-minta. Tapi entah mengapa para Satpol PP yang seharusnya mengayomi masyarakat-masyarakat kecil seperti mereka justru menjadi musuh yang menakutkan. Bila sedang ada patroli, tak jarang beberapa calo laki-laki memanjat pagar besi untuk bersembunyi di dalam lingkungan Gelora Bung Karno. Yang lain biasanya lari dan sembunyi di gedung-gedung lain di sekitarnya. Mereka bersembunyi begitu ketakutan, saya pernah melihat dengan mata saya sendiri, seorang calo, wanita muda yang tengah hamil tampak begitu takut bersembunyi di halaman gedung kantor saya. Dia bersembunyi sambil mengintip-intip apakah para petugas mencari ke tempat dia bersembunyi.

Entahlah, terkadang bila saya merasa hidup saya kekurangan, setiap memandang orang-orang seperti calo-calo ini, saya jadi merasa tertohok. Masih ada yang hidup jauh lebih susah daripada saya. Toh, saya tidak perlu berdiri berjam-jam mencegat setiap mobil menawarkan jasa untuk mendapat uang. Saya juga tak perlu khawatir bakal ada petugas yang mengobrak dan mengejar-ngejar saya. Humpf…

Categories
internet Technology

Statpress vs Google Analytics

Seperti layaknya seorang bloger (halah), tentu saya ingin tahu tentang statistik kunjungan orang lain ke blog saya. Tidak bermaksud munafik, tentu saja saya masih merasa senang bila ternyata blog saya banyak dikunjungi. Berarti tulisan saya memang layak baca. Berarti pula popularitas saya meningkat, dan statu seleblog sudah semakin dekat 8) .

Okay, forget it, intinya saya ingin tahu tentang data-data orang yang mengujungi blog saya. Titik. Nah, maka daripada itu, dulu saat awal-awal meng-install WordPress di domain ini, saya menggunakan salah satu plugin-nya yang bernama Statpress. Statpress ini akan mencatat semua kunjungan (kecuali user yang login tentu sajah) dan disimpan di dalam database kita, tidak seperti plugin-plugin statistik pada umumnya, yang menggunakan third-party, alias server orang lain, sehingga kita nggak punya hak penuh dan hanya bisa pasrah kepada siapa data itu dititipkan :mrgreen: .

Awalnya cool, karena semua data, mulai dari referrer dari mana si visitor datang, sampai keyword apa yang dia pakai di search engine sehingga bisa nyasar ke sini, semuanya terekam dengan baik. Tapi… karena jumlah kunjungan semakin banyak (yang berarti saya semakin terkenal 8) ) *ahem*, jumlah data yang dimasukkan ke dalam database blog ini juga semakin banyak. Ya mau bagaimana lagi, setiap ada kunjungan, si Statpress ini pasti nambahin satu row di database. Dan bayangkan, sudah berapa juta orang yang berkunjung ke blog ini? *lebay* Sudah pasti database saya kebanjiran data. Dan mulai beberapa hari yang lalu, permasalahan ini semakin serius, saya semakin lemot membuka dashboard WordPress, apalagi membuka report statistik, sounds impossible.

Categories
my life

Pekerjaan: Freelance

Terhitung sejak tanggal 1 Februari kemarin, saya resmi menjadi seorang yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Perusahaan tempat saya bekerja, sebuah perusahaan koran yang petingginya dipenjara (?) karena terlibat dalam kasus pembunuhan, secara sepihak memutus hubungan kerja saya dan rekan-rekan satu divisi. Tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mereka (para direksi) beralasan bahwa perusahaan akan melakukan audit aset-asetnya, jadi kami diminta (atau dipaksa?) untuk berhenti bekerja selama proses audit berjalan. Kata mereka, kami akan dipanggil lagi dalam waktu 2 minggu. Tapi, dalam sebuah surat yang kami terima, yang berisi tentang keputusan untuk “meniadakan hubungan antara karyawan dan perusahaan” yang harus kami tanda tangani, sama sekali tidak ada kata-kata akan dipanggil kembali. Kami pun mengerti bahwa itu adalah surat pemecatan secara sepihak. Kata-kata mereka tentang pemanggilan itu hanya abang-abang lambe, pemanis mulut, supaya kami mau-mau saja diputus hubungan kerjanya.

Tentu ini tidak adil, tapi yah, sudahlah, mau bagaimana lagi. Berurusan dengan orang berduit memang bukan hal yang mudah. Bisa-bisa saya mendahului Pak Nasrudin kembali ke pangkuan Malaikat Izrail. Ikhlaskan saja, easy come, easy go. Sejak saat itu, kehidupan saya dan beberapa rekan berubah. Yang tadinya bisa berfoya-foya terpaksa harus meniadakan beberapa kebiasaan yang cukup menghabiskan banyak dana. Tapi selain kondisi ekonomi, yang paling terasa perubahannya adalah status sosial. Ibu kost sudah cukup curiga melihat tingkah saya dan beberapa rekan yang terus-terusan ada di rumah. Mungkin kuatir kami akan ngutang duit kos bulan depan. Pada saat saya pulang kampung untuk ikut Pemilu Legislatif kemarin, banyak teman, tetangga dan saudara yang sudah lama tidak berjumpa, bertanya kepada saya: di Jakarta kerja di mana? Walhasil, saya pun kebingungan. Bagaimana tidak, bila saya jujur, bisa hancur image anak kebanggaan orang tua saya, yang pergi mencari kerja di ibukota dalam usia yang masih cukup belia seperti saya. Tentu, ini aib yang harus ditutup rapat. Saya pun menjawab: Freelance. Bukan sebuah kebohongan, karena memang saya sedang memiliki beberapa proyek freelance kala itu.

Categories
internet Technology

iBerry: Indosat Blackberry Mobile Portal

Finally, sebuah beban berat terangkat dari ubun-ubun saya. Hari Senin kemarin, Indosat meluncurkan mobile portal untuk pengguna Blackberry Indosat bersamaan dengan launching produk terbaru mereka, Indosat Blackberry Storm di Senayan City. Portal tersebut diberi nama: iBerry. Para pengguna Blackberry Indosat dapat mengakses portal tersebut lewat Blackberry browser mereka di url http://i-berry.mobi/.

Setelah melakukan registrasi & aktivasi account, para pengguna bisa mendapatkan promo menarik dari merchant-merchant yang telah melakukan kerjasama dengan Indosat, serta memperoleh theme-theme menarik untuk mempercantik Blackberry mereka. Semuanya gratis. Tak lupa juga, banyak info serta tips & trik seputar dunia Blackberry.

Lantas apa hubungannya antara portal ini dengan saya? Yaa.. soalnya saya yang bikin itu portal 😛 Karena itulah, saya jarang online akhir-akhir ini, online hanya untuk coding saja. Update blog & blogwalking hanya kadang-kadang saja. Yang paling parah adalah para pengguna theme WordPress bikinan saya, Smells Like Facebook. Banyak yang mengirim pertanyaan & request untuk Smells Like Facebook versi 2.0, tapi dengan terpaksa saya abaikan karena tuntutan tugas.

Tapi sekarang saya sudah sedikit bebas (karena masih ada banyak bug fixing, serta fitur-fitur baru yang harus ditambahkan), so bersiaplah untuk Smells Like Facebook 2.0! Yay!

Categories
off topic social

Sepakbola, Drama & Emosi

Anda menonton pertandingan Chelsea vs Barcelona tadi pagi? What a game! Sebuah drama yang sangat emosional. Bagaimana tidak? Setelah satu kaki Chelsea sudah ada di Roma, tempat final Liga Champions digelar, di menit terakhir, Iniesta membuyarkan segalanya. Keunggulan 1-0 yang tampaknya sudah akan menjadi hasil akhir, musnah dengan satu gol, yang membuat Barcelona lolos karena unggul dalam away goal. Fans Chelsea yang sudah terbang di atas langit, seolah langsung jatuh berdebam di tanah yang keras. Sementara fans Barcelona yang sudah pasrah, seolah merasa surga pindah ke bumi. Saya memang bukan fans keduanya, tapi saya menjadi saksi euforia salah seorang fans tersebut.

Tapi bukan itu maksud postingan ini. Tapi lihatlah bagaimana reaksi manusia-manusia yang terlibat dalam drama tersebut. Drogba mungkin memang emosi dan mengejar wasit dan melontarkan kata-kata yang pedas padanya seusai pertandingan. Tapi ya itu saja, tidak ada bogem yang melayang atau kaki yang tiba-tiba terangkat. Begitu pula dengan Ballack saat ia memprotes keputusan wasit yang tidak memberikan penalti. Dengan berteriak-teriak penuh emosi, ia mengejar wang wasit. Tapi ya cuma itu saja.

Josep Guardiola, pelatih Barcelona, bahkan menyalami Hiddink saat ia mengira tim-nya sudah kalah. Kalo soal pelatih Chelsea, Guus Hiddink, saya benar-benar menaruh hormat padanya. Ia sama sekali tak terprovokasi dengan tensi panas yang terjadi di dalam lapangan. Ia tetap memasang tampang cool. Tidak ada aksi caci maki atau bahkan tendang-tendangan.

Fans, bagian yang paling rentan, pun bereaksi sama. Mereka memang menangis dan beberapa kali melontarkan hinaan kepada wasit. Tapi ya itu saja, tidak ada batu atau botol minuman yang terbang ke lapangan. Tidak ada yang ngguruduk ke lapangan sambil mempertontonkan jurus karate.

Ah, tampaknya kita masih jauh dari itu. *menghela nafas*

Categories
internet

Up to date

Salah seorang teman saya, di suatu malam sepulangnya ia kerja, dengan bangga mempertontonkan laptop-nya sambil berkata, “Lihat nih, operating system-nya sudah saya update, sekarang sudah pake Ususbuntu versi Jangkrik Jamput. Ini yang pertama lho, bahkan dirilis saja belum, tapi saya sudah up to date.” Tapi setelah itu, yang dibuka ya tetep Music Player, PDF Reader dan hal-hal lain yang sebenarnya sudah ada di versi sebelumnya.

Heran rasanya, buat apa membuang bandwith sebanyak itu, tapi tidak ada peningkatan fungsi yang dirasakan? Kalau memang cuma memakai “itu-itu” saja, kan bisa memakai versi sebelumnya. Apakah label “up-to-date” itu sedemikian pentingnya? Kalau saya pribadi sih, bila tidak ada kegunaan yang penting, saya malas untuk upgrade software-software yang saya pakai. Daripada buang-buang waktu & bandwith sia-sia.

Tapi kalau memang jelas ada manfaatnya, baru saya akan upgrade. Seperti WordPress yang dipakai sebagai engine blog ini. Saya upgrade langsung ke versi 2.7 karena saya memang ingin memanfaatkan fungsi Automatic Upgrade-nya. Versi-versi di antara 2.5 sampai 2.7 sama sekali tidak saya gunakan. Toh, di changelog-nya sendiri biasanya cuma minor change saja.

Tampilan yang lebih bagus, biasanya menjadi faktor yang membuat orang mau repot-repot untuk upgrade. Padahal dia tidak mengetahui ada apa di balik versi yang terbaru itu. Upgrade Windows XP ke Vista, karena tampilannya lebih cool. Lebih nggilap. Padahal ya sama saja, cuma dipakai nge-game yang itu-itu saja. Kalau memang dipakai buat game khusus Vista sih mungkin tak masalah.

Tapi yah, itu kembali ke masing-masing individu. Memang ada beberapa orang yang ingin selalu tampil “baru” atau “mengikuti trend”. Padahal yah, kalau dengan yang lama saja sudah bisa, buat apa repot-repot cari yang baru?

Categories
off topic politic

Goltup

Pengumuman sebelum membaca: theme Smells Like Facebook telah dirilis untuk umum. Silakan lihat di sini.

Judul di atas bukanlah sebuah typo. Silakan baca lebih lanjut untuk mengetahui artinya. 8)

Ternyata, Tuhan memang berkehendak lain. Minggu lalu, ternyata saya berhasil mendapatkan tiket pulang ke kampung halaman, meski harus antri mulai jam 6 pagi. Keinginan saya untuk mengikuti pemilu untuk pertama kalinya akan menjadi nyata! Saya akan ikut menjadi orang yang ikut menentukan nasib bangsa ini! Berbunga-bunga rasanya saat saya menjadi orang yang sangat penting bagi kelangsungan negara Indonesia yang tercinta ini.

Tapi.. lagi-lagi Tuhan berkehendak lain. Saya sampai di Malang, di stasiun Kota Baru tepatnya, kira-kira pukul 9 pagi. Setelah sarapan dan bersih-bersih sebentar, saya pun bertolak ke rumah yang lebih pelosok lagi 😛. Sekitar pukul 10 pagi sampailah saya di kampung halaman saya. Lega rasanya! Merasakan sejuknya udara serta jalanan yang sangat lengang. Setelah sungkem kepada kedua orang tua saya, saya diajak ke rumah saudara-saudara saya, sekedar untuk bersilaturahmi setelah lama tak bertemu. Setelah itu, baru saya dan kedua orang tua berangkat menuju TPS. Dan ternyata…. TPS telah ditutup oleh panitia. Gara-garanya ayah saya mengira jam tutupnya TPS adalah jam 12.30 seperti waktu Pilkada tahun lalu. Ternyata kali ini TPS ditutup jam 12, dan saya sekeluarga baru sampai sekitar pukul 12.15. Jadilah, saya sekeluarga masuk Goltup (golongan ketutupan) 😀

Yah, tak apalah, setidaknya saya kan sudah berniat untuk tidak golput. “Yang penting kan niatnya!!™. Toh, kalaupun kami ternyata ikut memberi suara, itupun tidak akan mengubah hasil Quick Count yang telah diumumkan itu. Jadinya, nothing to lose laah.. 😛

Categories
Blogs internet

Blocks the Annoying goooogleadsence.biz Iframe

Hey, in the middle of my work finishing the Smells Like Facebook Theme, I realize that somehow my blog always load something from http://goooogleadsence.biz/. The browser status bar always show “Connecting to http://goooogleadsence.biz/” every time I load my blog page. I thought it is my ads script. But after I check, it isn’t. Then scan blog directories and found some malicious script in some files like this

echo “?click=7B42BF“;

Feeling suspicious, I google about it. Then I find this post: http://www.diovo.com/2009/03/hidden-iframe-injection-attacks/. I finally know that the script was added somehow to my files by a virus. Yes, it is my own mistake. I often connect to my blog ftp to edit themes in a public computers. After I clean all the script from my blog directories and change my ftp password, the script always get back to the files. I don’t know why. I’m very afraid that Google will index my blog as a malicious site because of that script.

Then I got an idea. I made a very simple plugin that will end the execution of PHP script after the theme footer is loaded. So the malicious script will never be executed and the iframe will never shown in the blogpage. Of course, the plugin doesn’t remove the script, it just prevent the iframe for being shown. You’ll still need to remove the script from your files manually (or if you’ve found tool to do it). This plugin also useful in case the script get back to your files somehow after you removed them.

You can download the plugin here. It is still in beta version, so if you found some bugs, please report it here. Oh yes, you’ll need to make sure that your theme have a call to wp_footer() function right before </body> close tag.

PS: some of Joomla users have found the tool to remove the script, but.. it has a price, not free. Thanks God, I’m using WordPress..