How to Make Your Own Plugins/Themes Updating Service

INTRO

Several times ago, my Smells Like Facebook theme was suspended from being updated in WordPress Theme Directory. It’s still being available to download, but I can’t submit a new version, therefore the theme users can’t get a notification and auto update from their dashboard.

So I try how to override WordPress auto update check routine and make it check the latest version of Smells Like Facebook to my own server. Here’s how:

Continue reading

Up to date

Salah seorang teman saya, di suatu malam sepulangnya ia kerja, dengan bangga mempertontonkan laptop-nya sambil berkata, “Lihat nih, operating system-nya sudah saya update, sekarang sudah pake Ususbuntu versi Jangkrik Jamput. Ini yang pertama lho, bahkan dirilis saja belum, tapi saya sudah up to date.” Tapi setelah itu, yang dibuka ya tetep Music Player, PDF Reader dan hal-hal lain yang sebenarnya sudah ada di versi sebelumnya.

Heran rasanya, buat apa membuang bandwith sebanyak itu, tapi tidak ada peningkatan fungsi yang dirasakan? Kalau memang cuma memakai “itu-itu” saja, kan bisa memakai versi sebelumnya. Apakah label “up-to-date” itu sedemikian pentingnya? Kalau saya pribadi sih, bila tidak ada kegunaan yang penting, saya malas untuk upgrade software-software yang saya pakai. Daripada buang-buang waktu & bandwith sia-sia.

Tapi kalau memang jelas ada manfaatnya, baru saya akan upgrade. Seperti WordPress yang dipakai sebagai engine blog ini. Saya upgrade langsung ke versi 2.7 karena saya memang ingin memanfaatkan fungsi Automatic Upgrade-nya. Versi-versi di antara 2.5 sampai 2.7 sama sekali tidak saya gunakan. Toh, di changelog-nya sendiri biasanya cuma minor change saja.

Tampilan yang lebih bagus, biasanya menjadi faktor yang membuat orang mau repot-repot untuk upgrade. Padahal dia tidak mengetahui ada apa di balik versi yang terbaru itu. Upgrade Windows XP ke Vista, karena tampilannya lebih cool. Lebih nggilap. Padahal ya sama saja, cuma dipakai nge-game yang itu-itu saja. Kalau memang dipakai buat game khusus Vista sih mungkin tak masalah.

Tapi yah, itu kembali ke masing-masing individu. Memang ada beberapa orang yang ingin selalu tampil “baru” atau “mengikuti trend”. Padahal yah, kalau dengan yang lama saja sudah bisa, buat apa repot-repot cari yang baru?

Just Blog It!

Sebegitu susahnya kah menulis blog? Masak cuma sebegitu doang?

Nggak begitu susah sih, cuma males saja…

Wah, kalo males sih mending gak usah ngeblog.. Gak bagus tahu..

Hey!! Gak ada yang nyuruh kamu baca blog-ku.. Kalau nggak suka ya sudah, jangan dibaca.. Aku memang gak bisa terus-terusan nulis bagus kayak kamu.. Tapi apa gara-gara itu aku gak boleh ngeblog? Gak ada aturan bahwa orang ngeblog itu harus panjang lebar, bagus, dan harus bikin yang mbaca mikir! Lagipula ini kan blog-ku sendiri, ngapain kamu pake nyuruh-nyuruh aku gak usah ngeblog, hah?? HAH!!

*mulai emosi dan ad-hominem*

:-j

Bagaimana bila tak ada apapun yang didapat?

Saya kira blogger ndak akan kewalahan. Mereka ndak akan kurang akal. Bahkan ketika tak punya apa pun, mereka bisa menulis kata “kosong” atau sekadar secuil titik dan koma di layar.

Ndorokakung – http://ndorokakung.com/2008/02/08/blogisme-pecas-ndahe/