Categories
off topic

Out of Topic

Hari ini sebenarnya saya ingin memposting tentang kebatalan kunjungan tim Manchester United ke Indonesia. Entah kenapa akhirnya saya malah nyasar ke situs salah satu partai di Amerika Serikat yang mempunyai nama unik: Boston Tea Party.

Jadi, begini ceritanya (gambar berubah ngeblur kayak di tipi-tipi):

Categories
miscellanous

TransJakarta vs MetroMini / Kopaja

Siapa yang tak kenal TransJakarta? Sistem transportasi umum terobosan Pemda DKI yang memiliki jalur tersendiri (yang kemudian memunculkan kekeliruan penyebutan armada bis ini menjadi Busway) ini seolah sudah menjadi salah satu ciri khas ibukota. “Belum lengkap kalau ke Jakarta tapi tidak ke Monas dan naik Busway”, begitu kelakar yang saya pernah dengar dari seorang teman yang sempat berkunjung ke Jakarta.

Lalu MetroMini dan Kopaja? Bagi yang sudah cukup lama tinggal di Jakarta pasti sudah paham dengan duet maut raja jalanan ini. Bus-bus kota yang “diproduksi” dua perusahaan tersebut memang cukup dikenal dengan tingkah sopirnya yang ugal-ugalan, dan suka berhenti semaunya sendiri, bahkan di tengah jalan.

Membandingkan TransJakarta dengan MetroMini / Kopaja hampir sama seperti membandingkan surga dan neraka. Salah satu pihak adalah sebuah proyek prestise yang mendapat support penuh dari pemerintah, serta identik dengan hal-hal mewah dan fasilitas-fasilitas yang sungguh nyaman. Jalur tersendiri, AC, BBG, halte-halte yang telah diatur sehingga penumpang tidak bisa naik atau turun seenaknya, suara cewek dingin yang menyebutkan pemberhentian selanjutnya serta sopir berdasi dan berkacamata hitam jelas menggambarkan TransJakarta seperti sebuah “kehidupan beradab”. Tak seperti pihak yang lain, yang identik dengan bus kumuh dan kotor, penuh corat-coret, cara mengemudi ugal-ugalan, panas, pengamen, pengemis, tukang minta sumbangan masjid, teriakan kondektur serta ketukan nyaring di kaca jendela. Tampak sangat biadab dan barbar.

Tapi tak selamanya TransJakarta yang modern itu dianggap selalu lebih unggul dengan MetroMini & Kopaja yang primitif. Berikut beberapa review saya tentang TransJakarta dan MetroMini / Kopaja:

– TransJakarta, sebagai anak emas Pemprov, tentu akan berusaha menampakkan wajah baik dan penurut. Lihat saja, mereka selalu mengalah bila ada kendaraan lain melintas di jalurnya. Bus-bus TransJakarta juga hampir tidak pernah terlihat melaju dengan kecepatan tinggi, paling-paling kecepatan standar 60 – 70 kmph. Tapi justru di situ bisa menjadi blunder, mereka akan patuh sepatuhnya pada peraturan, tak peduli apakah sedang macet dan sedang ada penumpang di dalamnya yang sudah deg-degan karena akan tertinggal kereta atau sejenisnya. Ini Jakarta Bung! Jakarta itu keras, hanya yang berani ambil resiko yang bisa mencapai tujuannya dan tepat waktu. Bandingkan dengan MetroMini atau Kopaja itu, yang dengan beraninya menembus kerumunan mobil-mobil pribadi yang ber-merk tapi terlalu pengecut itu. Jakarta tidak akan terlalu macet bagi mereka.

– Pangaturan halte, memang bisa jadi merupakan sebuah solusi ketika transportasi-transportasi primitif selalu dikeluhkan sebab tidak menggunakan halte pinggir jalannya dengan sebaik-baiknya dan malah suka berhenti sewaktu-waktu di sembarang tempat. Tapi lagi-lagi, ini bisa jadi merupakan bumerang, ketika para calon penumpang datang berduyun-duyun ke satu halte dan saling berdesak-desakan seperti sarden. Apalagi di sebagian besar halte masih belum terpasangi sistem AC yang layak. Tidak seperti saat kita hendak naik MetroMini / Kopaja, bisa saja kita menunggu di bawah naungan pohon rindang, tidak terbatas pada satu tempat tertentu.

– Kedua hal di atas, akan semakin diperparah dengan terbatasnya armada bus, terutama untuk koridor-koridor tertentu. Sudah armadanya terbatas, di jalan selalu terhambat kendaraan lain, dengan antrian menumpuk yang tidak hanya ada di halte Anda, bisa dipastikan Anda akan semakin lama tersiksa menunggu bus TransJakarta datang. Berbeda dengan bila Anda menunggu MetroMini / Kopaja, bila Anda merasa penumpang lain terlalu banyak, Anda bisa pindah ke tempat lain, tanpa harus takut dipungut biaya.

Jadi pesan moral postingan ini: “Jangan pernah naik TransJakarta bila Anda sedang terburu-buru”

Categories
lingkungan my life social

Home Shit Home

Tak terasa sudah sebulan saya kembali pulang ke tanah kelahiran saya. Kembali bergumul dengan hawa dinginnya yang membuat saya kembali jarang mandi, kabut di pagi harinya dan segala kehidupan rural-nya. Ah, ya.. saya seperti kembali ke jaman saya muda kecil dulu. Dimana hidup dimulai dengan gedoran mama tercinta di pintu kamar, kucuran air dingin yang menusuk ke dalam tulang, membuyarkan sisa mimpi yang bergelayut di ujung pelipis mata, dan berangkat ke masjid kala subuh sembari gemetaran menahan dingin. makanya saya jarang mandi.. *ngeyel

Ada setitik rindu pada tanah yang saya tinggalkan di ujung sana. Bagaimanapun, di sanalah saya memulai sebuah episode baru kehidupan saya sebagai pribadi independen yang sudah tidak lagi numpang makan dan tidur di rumah orang yang dulu melahirkan saya. Serta di sanalah saya mulai mengenal dunia blog yang laknat ini.

Tapi ada satu hal yang saya kecewakan dari tempat ini. Kota kecil ini menggeliat dan membengkak, mencoba menjadi tempat yang saya tinggalkan dulu. Ya ya, perkembangan jaman, modernisasi segala sesuatunya itu. Pohon-pohon besar di kedua tepi jalan, yang ujung dahannya saling berkait membentuk terowongan hijau, yang memberi sedikit angin segar dan lindungan dari matahari bagi pemakai jalan kala melintasinya itu, sudah tiada. Diganti batang-batang besi dan beton yang ditanam menghujam tanah dengan biadab dengan nama “kemajuan”. Lapangan rumput dan sawah tempat berbagai makhluk hidup mencari kehidupan, kini sudah ditumbuhi tanaman-tanaman yang bewarna-warni, namun keras dan sama sekali tak sejuk, bernama RUKO!

Ahaha, ya, benar kata seorang teman, kota ini memang sudah selayaknya mendapat gelar baru setelah Makobu (Malang Kota Bunga), yaitu Makoko (Malang Kota Ruko) ;)) Entah apa yang dipikirkan orang-orang di balai kota sana. Tampaknya sih, semakin bingung mengurusi pilkada yang makin dekat. Ya, ya, mereka mungkin sama sekali tidak pernah merasakan kehidupan jelata seperti saya, di mana alam-lah yang menjadi teman bermain masa kecilnya. Mungkin mereka selalu hidup dengan gaya metropolis dan segala ke-perlente-annya, sehingga mereka berusaha menyulap tempat ini seperti kota-kota impian mereka.

Ah, sudahlah, saya ndak punya hak untuk menyalahkan pemerintah. Sebab saya tidak ikut andil dan tidak akan pernah, mungkin memberi kesempatan pada orang-orang itu duduk di pusat pemerintahan. Saya hanya curhat soal kerinduan saya pada sejuknya masa kecil saya dulu. Jangan sampai saya merasa seperti tamu di rumah saya sendiri, di mana saya tidak akan tahu bedanya tempat ini dengan neraka di ujung sana.

Baiklah, saya mau bergumul dengan udara dingin lagi biar ada alasan untuk tidak mandi, sekedar memecah kantuk yang mulai semakin berat ini.