Categories
internet

Up to date

Salah seorang teman saya, di suatu malam sepulangnya ia kerja, dengan bangga mempertontonkan laptop-nya sambil berkata, “Lihat nih, operating system-nya sudah saya update, sekarang sudah pake Ususbuntu versi Jangkrik Jamput. Ini yang pertama lho, bahkan dirilis saja belum, tapi saya sudah up to date.” Tapi setelah itu, yang dibuka ya tetep Music Player, PDF Reader dan hal-hal lain yang sebenarnya sudah ada di versi sebelumnya.

Heran rasanya, buat apa membuang bandwith sebanyak itu, tapi tidak ada peningkatan fungsi yang dirasakan? Kalau memang cuma memakai “itu-itu” saja, kan bisa memakai versi sebelumnya. Apakah label “up-to-date” itu sedemikian pentingnya? Kalau saya pribadi sih, bila tidak ada kegunaan yang penting, saya malas untuk upgrade software-software yang saya pakai. Daripada buang-buang waktu & bandwith sia-sia.

Tapi kalau memang jelas ada manfaatnya, baru saya akan upgrade. Seperti WordPress yang dipakai sebagai engine blog ini. Saya upgrade langsung ke versi 2.7 karena saya memang ingin memanfaatkan fungsi Automatic Upgrade-nya. Versi-versi di antara 2.5 sampai 2.7 sama sekali tidak saya gunakan. Toh, di changelog-nya sendiri biasanya cuma minor change saja.

Tampilan yang lebih bagus, biasanya menjadi faktor yang membuat orang mau repot-repot untuk upgrade. Padahal dia tidak mengetahui ada apa di balik versi yang terbaru itu. Upgrade Windows XP ke Vista, karena tampilannya lebih cool. Lebih nggilap. Padahal ya sama saja, cuma dipakai nge-game yang itu-itu saja. Kalau memang dipakai buat game khusus Vista sih mungkin tak masalah.

Tapi yah, itu kembali ke masing-masing individu. Memang ada beberapa orang yang ingin selalu tampil “baru” atau “mengikuti trend”. Padahal yah, kalau dengan yang lama saja sudah bisa, buat apa repot-repot cari yang baru?

Categories
internet tips

Open IE-only site using Firefox

Beberapa situs penting di internet, seperti layanan internet banking, memerlukan Internet Explorer agar bisa dibuka. KlikBCA misalnya. Tapi situs yang satu ini masih agak mending. Bila Anda memaksa membuka dengan browser lain, situs tersebut akan tetap terbuka, meski ada beberapa fungsi tambahan yang tidak bisa berjalan baik seperti di IE. Bank Mega yang parah. Jika Anda membuka dengan browser lain, situs ini akan menampilkan pengumuman yang berbunyi “This site can only be opened using IE bla bla bla bla”. Sangat merepotkan memang, apalagi bagi Anda para pengguna Linux.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini:

1. Menginstall OS Microsoft Windows di komputer Anda, baik diinstal secara langsung ke Hard Disk (dual boot) atau diinstal ke Linux Anda dengan software virtual machine seperti VMWare atau VirtualBox. Ini cara yang paling merepotkan memang. Selain lebih susah, mahal (jika menggunakan lisensi asli), juga boros space hard disk.

2. Menginstall program IEs for Linux, yaitu sebuah program yang mengemulasikan IE di Linux Anda. Dengan program ini seolah-olah Anda mempunyai browser IE di Linux, sehingga Anda bisa membuka situs-situs tersebut. Cara ini lebih mudah, tapi masih ada cara yang jauh lebih mudah lagi.

3. Menggunakan Firefox. Caranya? Anda harus menginstall sebuah add-on khusus bernama User Agent Switcher, yang bisa Anda download di sini. Add-on ini berguna untuk menyamarkan Firefox Anda, sehingga ketika Anda mengakses situs-situs tersebut, situs tersebut akan mengira bahwa Anda menggunakan IE. Untuk menggunakannya, setelah menginstall dan merestart Firefox Anda, klik Tools -> User Agent Switcher -> Internet Explorer. Lakukan sebelum Anda mengakses situs tersebut. Dan jangan lupa untuk mengembalikan ke default setelah Anda selesai.

Happy browsing.. 🙂