Categories
Web Development

Javascript: Google Closure Library vs jQuery

Google Closure

Bahasa pemrograman Javascript adalah salah satu fitur utama, bahkan termasuk salah satu yang utama di dalam dunia web development saat ini. Di era yang katanya 3.0 ini boleh dibilang hampir semua web developer memakai Javascript untuk membuat tampilan web mereka lebih dinamis dan interakitf.

Berbagai macam library Javascript pun bermunculan untuk mendukung hal tersebut. Dan tentu saja, yang paling fenomenal adalah jQuery, pernah dengar? jQuery sebenarnya berawal dari sebuah library sederhana yang digunakan untuk mempermudah proses selecting elemen DOM pada website. Tapi kemudian library ini berkembang hingga hampir seluruh proses manipulasi DOM dapat dilakukan dalam jQuery. Mulai dari mengubah atribut, menambahkan CSS style, melakukan AJAX request hingga yang paling keren membuat animasi.

Tak ayal, library ini menjadi populer dengan sangat cepat. Bahkan bisa dibilang lebih terkenal dari Javascript itu sendiri. Banyak web developer mengatakan mereka belajar tentang Javascript justru setelah beberapa lama menggunakan jQuery. Sampai-sampai ada jargon “too much jQuery” atau “there’s jQuery for that” yang menyindir fenomena penggunaan jQuery secara berlebihan untuk perintah-perintah sederhana yang sebenarnya bisa dilakukan di Javascript biasa.

Categories
Technology

CodeIgniter 2.0

CodeIgniter
CodeIgniter

Akhir bulan Januari kemarin (ya, ini memang basbang), EllisLab merilis versi 2.0 dari CodeIgniter, framework PHP bikinan mereka. Ada yang spesial di rilis kali ini. Sebab ini untuk pertama kalinya CodeIgniter ikut digarap oleh orang-orang di luar EllisLab. Memang sejak Desember kemarin EllisLab mengumpulkan orang-orang di komunitas CI untuk bergabung & membentuk tim “CodeIgniter Reactor” yang nantinya akan menjadi core developers CI.

Pada akhirnya, hal ini akan menjadi seperti hubungan antara Automattic & WordPress. FYI, sejak lama platform CMS WordPress memiliki tim developer sendiri yang bertugas mengembangkan kode-kode WordPress. Automattic sudah tidak bertanggung jawab lagi terhadap perkembangan WordPress, seluruhnya sudah dilepas kepada tim tersebut. Mereka hanya fokus ke bisnis mereka sendiri.

Hal ini jelas menjadi kabar baik bagi pengembang yang menggunakan CodeIgniter. Sebab nantinya mereka akan bisa ikut memberikan sumbangsih lebih terhadap perkembangan CI tanpa terus bergantung kepada EllisLab.

Categories
wordpress

Get Your TwentyTen Ajaxified!

Smells Like Facebook may have been suspended, but it doesn’t mean we can’t use it (or part of it) anymore. In Open Hack session at Wordcamp Indonesia 2011, I came up with an idea to utilize the Javascript used in Smells Like Facebook to ajaxify the WordPress default theme, TwentyTen.

And this is it, as you can see in this site, the TwentyTen has been enhanced by AJAX features, just like we did in Smells Like Facebook (try to click a link!). Right now, it comes as a child theme, so you’ll need WordPress version 3.0 above to use it. But soon in the future it will be available as plugin too, if you have another child theme installed already.

Categories
event wordpress

WordCamp Indonesia 2011, Bandung

Wordcamp Indonesia 2011 logo
Wordcamp Indonesia 2011

Puji Tuhan, akhirnya salah satu mimpi saya terwujud. Hari Sabtu & Minggu kemarin (29-30/01) untuk pertama kalinya saya bisa menghadiri WordCamp, event tahunan para pengembang serta peminat WordPress. Gugur sudah salah satu rukun WordPress saya, meski sebenarnya agak sayang, karena bro Matt Mullenweg si empunya WordPress tidak bisa menghadiri event kemarin.

Bagaimana acaranya? Lumayan. Ya, lumayan. Saya belum pernah ikut Wordcamp sebelumnya, jadi tidak bisa membandingkan dengan event sebelumnya. Yang jelas event kali ini yaaa.. lumayan. Materi yang dibawakan banyak yang bagus, meski ada juga beberapa yang, sorry to say, kurang menarik. Kalau mau tahu lebih lengkap jalannya acaranya, silakan baca saja di sana.

Categories
wordpress

How to Make Your Own Plugins/Themes Updating Service

INTRO

Several times ago, my Smells Like Facebook theme was suspended from being updated in WordPress Theme Directory. It’s still being available to download, but I can’t submit a new version, therefore the theme users can’t get a notification and auto update from their dashboard.

So I try how to override WordPress auto update check routine and make it check the latest version of Smells Like Facebook to my own server. Here’s how:

Categories
Technology

My Samsung Spica with Android

Akhirnya keinginan saya untuk njajal smartphone Android kesampaian juga. Alhamdulillah THR dari kantor ternyata cukup buat tambahan beli.

Dan pilihan saya pun jatuh kepada Samsung Galaxy Spica. Bukan yang Galaxy S lho ya. Nama beda dikit tapi harga beda jauh, bung 😀 . Kenapa Spica? Ya karena hanya Spica yang menawarkan fitur maksimal dengan harga yang cukup terjangkau. Meski Android bawaannya masih versi Eclair bukannya Froyo yang terbaru, bukan masalah, toh kan bisa bereksperimen upgrade di tengah jalan. Memang maunya sih nabung lagi buat beli entah Motorola Milestone atau Sony Ericsson Xperia2, tapi berhubung ponsel saya sebelumnya, Blackberry 8320 sudah sekarat, jadinya ya beli yang semampunya saja.

Lantas kenapa ganti haluan dari Blackberry ke Android? Karena harga iPhone masih tidak manusiawi 😀 . Yah, bisa dibilang masih ikut-ikut tren juga sih, penasaran dengan teknologi handphone besutan Tuhan Google. Maklum saya kan Googlism. Nggak afdol rasanya kalo belum memakai ciptaannya yang satu ini. Yah semoga saja kali ini awet dan tidak cepat membosankan 😀

dikirim dengan aplikasi WordPress for Android

Categories
internet Technology

How to Create Twitter Bot using OAuth

Twitter has announced to shut down the Basic Authentication API on August 31st and recommend Twitter application developers to migrate their apps to OAuth Authentication. What about bots? That’s the same. If you have bot created using Basic Authentication, then you should migrate your bot to OAuth. Here’s how, but first..

What is OAuth?

OAuth is a new authentication method that doesn’t use plain username & password to authenticate. OAuth uses a pair of tokens to check your credentials, therefore you don’t need to worry about leaking your password. These tokens are unique per user and per application. For further info about OAuth, check http://oauth.net/

So how?

Categories
internet Technology

Firefox: Persona vs Theme

Recently, Mozilla launches a new feature for their Firefox browser, called as Firefox Persona. It’s an addon that allow you to change the skin of your Firefox with your favorite brands. They’ve made a new site for the Persona Gallery where you can download the Personas made by many designers. One thing in my mind when I know this: “What about the Firefox theme?”.

As you know Firefox has already had the Theme Gallery, which is integrated to the Addon Gallery. What about them after the Persona is launched? In their FAQ page, they said that Persona is a special type of theme that changes the look of your browser without changing the navigation buttons, toolbars, and menus, while Themes change the appearance of Firefox.

Still curious, then I made a test: install Persona and a theme at the same time. And here is my conclusion: Persona is made to re-skin your Firefox, it is only capable to give a new background for toolbar and statusbar, while it can’t make any modification to the style of the buttons, tabs and any color like Themes do. Imagine that installing Persona is like making a tattoo to your body, while installing theme is like getting a plastic surgery on it. And happily, you can combine both!

Here is the screenshot of my Firefox tattoo-ed with WordPress Vintage Persona and altered with Vista-aero theme. Nice, eh?

Firefox Persona
Firefox Persona

Oh, I just realize that the Personas is much like Google Chrome themes. Hmm..

Categories
wordpress

WordPress Bahasa Jawa

Setelah tersedia dalam bahasa Sunda, kini WordPress juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Versi ini dapat diunduh di http://jv.wordpress.org/.

Adalah mas Mova Nugraha, aktor intelek di balik semua ini (setidaknya begitulah kesimpulan dari website di atas). Dia yang menerjemahkan sekaligus mengirim ke repositori WordPress. Sebelumnya dia telah mengembangkan file bahasa Jawa untuk WordPress yang bisa diinstal secara terpisah. Dan sekarang, dia sedang terlibat dalam proyek translasi Facebook ke dalam bahasa Jawa.

Jujur, tanpa bermaksud SARA, saya sebagai orang Jawa bangga atas hal ini. Meski memang saya masih belum menggunakan versi Jawa tersebut, karena masih nyaman dengan versi bahasa Inggris. Lagipula saya kurang begitu mengerti dengan beberapa kata Jawa yang ada di situ. Istilahnya, wong jawa ga weruh jawane :blush:

Saat WordPress bahasa Sunda dirilis, memang langsung muncul ide untuk membuat versi bahasa Jawa di forum WordPress Indonesia. Saya sebenarnya ikut tertarik waktu itu, tapi seingat saya ide tersebut sempat terkendala oleh beragamnya kultur bahasa Jawa. Meski begitu, versi yang ada sekarang tampaknya sudah cukup bisa diterima. Kalau memang masih ada yang dirasa kurang, sampeyan masih bisa urun rembug kok. Isi saja form contact di sana.

Monggo dipunsekeca’aken 😀

Categories
budaya Movie social Technology

Surrogates: A More Modern, Meaningless Life

Surrogates
Surrogates

Bumi 17 tahun di masa mendatang. Teknologi manusia diceritakan mencapai puncak tertinggi. Revolusi paling besar dalam sejarah umat manusia. Surrogates, adalah istilah untuk menyebut robot pengganti manusia. Dengan Surrogates, manusia tidak perlu melakukan semua aktivitas outdoor-nya dengan diri mereka sendiri. Mereka cukup mengendalikan robot mereka dari dalam rumah menggunakan semacam sensor yang dihubungkan dengan otak mereka. Dikatakan sebagai revolusi terbesar dalam sejarah umat manusia, karena dengan Surrogates, mereka bisa tetap beraktivitas tanpa khawatir terkena masalah. Mereka bisa berkendara tanpa khawatir cedera karena kecelakaan lalu lintas. Mereka bisa berhubungan dengan orang lain tanpa tertular penyakit.

Cerita film ini sendiri dimulai ketika 2 buah Surrogates ditemukan hancur. Belakangan diketahui bahwa “pilot” kedua robot tersebut ternyata ikut mati. Hal yang menghancurkan Surrogates mereka ternyata ikut membunuh mereka, padahal salah satu fitur Surrogates adalah sang pengendali tak perlu khawatir mendapat cedera seandainya terjadi kecelakaan terhadap Surrogates mereka. Agen FBI Tom Greer (Bruce Willis) ditugaskan menyelidiki hal ini. Ia menemukan bahwa kedua Surrogates tersebut diserang oleh seseorang menggunakan sebuah senjata misterius yang dapat menghancurkan Surrogates sekaligus menembus sistem pertahanan yang melindungi pengendalinya. Kasus tersebut semakin dalam saat diketahui bahwa salah satu Surrogates yang hancur adalah milik Dr. Lionel Carter (James Cromwell), penemu Surrogates. Pengendali Surrogates tersebut, yang ikut mati adalah putranya, Jared Carter.

Greer berhasil melacak penyerang kedua Surrogates tersebut. Ia adalah salah seorang dread, orang-orang yang menentang penggunaan Surrogates atas dasar moral dan agama. Sayang dalam pengejarannya, Surrogates milik Greer dihancurkan para dread. Greer memutuskan untuk melanjutkan pengejarannya dengan dirinya sendiri, tanpa robot pengganti. Tapi sayang, sang penyerang telah ditemukan tewas. Greer curiga bahwa sang Prophet, pemimpin para dread ada di balik peristiwa tersebut.

Di sisi lain, ia mengalami masalah rumah tangga dengan istrinya, yang selalu menggunakan Surrogates tanpa pernah menjalani kehidupan dengan dirinya sendiri. Istrinya masih mengalami trauma karena mereka telah kehilangan putra mereka satu-satunya dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Dari segi cerita, film ini memang cukup bagus. Meski terdapat beberapa “hole”, tapi alurnya cukup menarik untuk diikuti. Banyak twist yang terjadi yang cukup mengejutkan, meski mungkin dapat dengan mudah ditebak oleh Anda yang sering menonton film macam begini.

Tapi ada satu hal lain yang membuat saya suka film ini, yaitu pesan moralnya. Bahwa tindakan manusia yang semakin mengeksploitasi ilmu pengetahuan justru membuat mereka semakin kehilangan arti hidup. Sains yang diciptakan untuk membantu hidup mereka justru malah membuat manusia lupa siapa diri mereka sebenarnya. Surrogates ini adalah salah satu contohnya, bagaimana manusia telah kehilangan arti diri mereka. Apa pentingnya tubuh mereka, jika mereka bisa menggunakan sebuah tubuh yang tidak bisa merasa sakit. Definisi manusia sendiri telah menyempit menjadi sebuah gumpalan sel bernama otak. Ya, hanya otak lah satu-satunya tanda keberadaan manusia.

Cogito ergo sum, memang Descartes pernah mengatakan hal tersebut. Tapi ada alasan kenapa Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan perangkat tubuhnya, tak hanya dengan segumpal otak untuk berpikir dan merasakan kenikmatan saja. Agar manusia sadar, bahwa dirinya adalah makhluk lemah, yang dapat merasakan sakit. Agar mereka tahu, bahwa ada batas-batas di setiap perbuatan mereka. Agar mereka tidak semena-mena terhadap diri mereka dan orang lain.

Saya teringat kepada film lain yang juga bercerita tentang manusia yang sudah keblabasan: Wall-E. Dalam film animasi tersebut, bahkan manusia sudah lupa cara berjalan. Mereka tidak perlu repot-repot melakukan aktivitas yang dapat melelahkan, karena mereka sudah punya alat yang dapat menyediakan kebutuhan mereka serta mampu membawa mereka kemana-mana.

Ah, memang selalu ada dua sisi koin. Teknologi memang dapat membantu kehidupan kita, tapi bila digunakan secara berlebihan, kita sendiri yang akan mengalami kerugian. Itulah kenapa beberapa hari ini saya sempat absen dari dunia maya dan lebih fokus kepada kehidupan nyata saya. 🙂

Kapan ya, ada film Indonesia dengan aksi keren plus pesan moral yang bagus kayak begini? 🙄