Javascript: Google Closure Library vs jQuery

Google Closure

Bahasa pemrograman Javascript adalah salah satu fitur utama, bahkan termasuk salah satu yang utama di dalam dunia web development saat ini. Di era yang katanya 3.0 ini boleh dibilang hampir semua web developer memakai Javascript untuk membuat tampilan web mereka lebih dinamis dan interakitf.

Berbagai macam library Javascript pun bermunculan untuk mendukung hal tersebut. Dan tentu saja, yang paling fenomenal adalah jQuery, pernah dengar? jQuery sebenarnya berawal dari sebuah library sederhana yang digunakan untuk mempermudah proses selecting elemen DOM pada website. Tapi kemudian library ini berkembang hingga hampir seluruh proses manipulasi DOM dapat dilakukan dalam jQuery. Mulai dari mengubah atribut, menambahkan CSS style, melakukan AJAX request hingga yang paling keren membuat animasi.

Tak ayal, library ini menjadi populer dengan sangat cepat. Bahkan bisa dibilang lebih terkenal dari Javascript itu sendiri. Banyak web developer mengatakan mereka belajar tentang Javascript justru setelah beberapa lama menggunakan jQuery. Sampai-sampai ada jargon “too much jQuery” atau “there’s jQuery for that” yang menyindir fenomena penggunaan jQuery secara berlebihan untuk perintah-perintah sederhana yang sebenarnya bisa dilakukan di Javascript biasa.

Continue reading

Advertisements

My Samsung Spica with Android

Akhirnya keinginan saya untuk njajal smartphone Android kesampaian juga. Alhamdulillah THR dari kantor ternyata cukup buat tambahan beli.

Dan pilihan saya pun jatuh kepada Samsung Galaxy Spica. Bukan yang Galaxy S lho ya. Nama beda dikit tapi harga beda jauh, bung 😀 . Kenapa Spica? Ya karena hanya Spica yang menawarkan fitur maksimal dengan harga yang cukup terjangkau. Meski Android bawaannya masih versi Eclair bukannya Froyo yang terbaru, bukan masalah, toh kan bisa bereksperimen upgrade di tengah jalan. Memang maunya sih nabung lagi buat beli entah Motorola Milestone atau Sony Ericsson Xperia2, tapi berhubung ponsel saya sebelumnya, Blackberry 8320 sudah sekarat, jadinya ya beli yang semampunya saja.

Lantas kenapa ganti haluan dari Blackberry ke Android? Karena harga iPhone masih tidak manusiawi 😀 . Yah, bisa dibilang masih ikut-ikut tren juga sih, penasaran dengan teknologi handphone besutan Tuhan Google. Maklum saya kan Googlism. Nggak afdol rasanya kalo belum memakai ciptaannya yang satu ini. Yah semoga saja kali ini awet dan tidak cepat membosankan 😀

dikirim dengan aplikasi WordPress for Android

Statpress vs Google Analytics

Seperti layaknya seorang bloger (halah), tentu saya ingin tahu tentang statistik kunjungan orang lain ke blog saya. Tidak bermaksud munafik, tentu saja saya masih merasa senang bila ternyata blog saya banyak dikunjungi. Berarti tulisan saya memang layak baca. Berarti pula popularitas saya meningkat, dan statu seleblog sudah semakin dekat 8) .

Okay, forget it, intinya saya ingin tahu tentang data-data orang yang mengujungi blog saya. Titik. Nah, maka daripada itu, dulu saat awal-awal meng-install WordPress di domain ini, saya menggunakan salah satu plugin-nya yang bernama Statpress. Statpress ini akan mencatat semua kunjungan (kecuali user yang login tentu sajah) dan disimpan di dalam database kita, tidak seperti plugin-plugin statistik pada umumnya, yang menggunakan third-party, alias server orang lain, sehingga kita nggak punya hak penuh dan hanya bisa pasrah kepada siapa data itu dititipkan :mrgreen: .

Awalnya cool, karena semua data, mulai dari referrer dari mana si visitor datang, sampai keyword apa yang dia pakai di search engine sehingga bisa nyasar ke sini, semuanya terekam dengan baik. Tapi… karena jumlah kunjungan semakin banyak (yang berarti saya semakin terkenal 8) ) *ahem*, jumlah data yang dimasukkan ke dalam database blog ini juga semakin banyak. Ya mau bagaimana lagi, setiap ada kunjungan, si Statpress ini pasti nambahin satu row di database. Dan bayangkan, sudah berapa juta orang yang berkunjung ke blog ini? *lebay* Sudah pasti database saya kebanjiran data. Dan mulai beberapa hari yang lalu, permasalahan ini semakin serius, saya semakin lemot membuka dashboard WordPress, apalagi membuka report statistik, sounds impossible.

Continue reading

Google Chrome sang Istri Muda

Hari Rabu (03/09) dini hari, saya membaca postingan tentang anak baru Ibu Google, yang berwujud browser bernama Chrome. Karena saya kadang-kadang menjadi penyembah Tuhan Google, saya pun tertarik untuk mencoba.

Mulailah saya cari tentang Chrome. Hasilnya, halaman download, http://gears.google.com/chrome/ pun muncul. Err.. tapi kok di posisi ketiga hasil pencarian ya? Di atasnya ada postingan di official blog Google tentang Chrome serta komik penjelasan mengenai Chrome. Bukankah seharusnya ada di peringkat pertama?

Benar saja, saat saya klik halaman download tersebut, saya malah dialihkan ke default page Google. Saya tunggu beberapa saat, sambil kembali nge-plurk, akhirnya halaman tersebut dapat diakses. Sayangnya, proses download tak kunjung dimulai setelah saya menyetujui EULA. Akhirnya dengan sedikit keisengan, saya menemukan bahwa URL file installer tersebut adalah di http://dl.google.com/update2/installers/ChromeSetup.exe. Langsung saja saya rambah url tersebut. Benar saja, Firefox saya langsung mengunduh file bernama ChromeInstaller.exe. Tapi anehnya, setelah selesai dan saya jalankan, tak ada tanda-tanda installer tersebut bekerja.

Sadar ada yang salah, saya coba untuk melakukan pencarian lagi. Dan ternyata halaman downloadnya sudah diganti menjadi http://google.com/chrome/. Hanya dalam beberapa menit, halaman tersebut telah menduduki peringkat pertama pencarian. 😯

Akhirnya saya mengunduh lagi installer tersebut. Dan ternyata, instalasinya masih melakukan proses pengunduhan lagi dari Google, itulah kenapa installernya sangat kecil, hanya sekitar 474,7 kB.

Dan setelah diinstal, yah, boleh jadi saya memang akan jadi berselingkuh dengannya, melanggar apa yang saya ucapkan sebelumnya. Tampilannya cukup simpel dan bersih. Tanpa ada bar-bar yang tidak perlu semacam title bar atau toolbar.

Kelebihan dari Chrome ini sendiri, sesuai yang saya baca di komiknya, adalah multi-proccessing-nya, di mana setiap tab akan memiliki sebuah blok memori tersendiri untuk melakukan pemrosesan. Sehingga ketika salah satu tab down, maka hanya tab itu yang akan ditutup, bukan seluruh aplikasi. Tidak seperti “traditional browser” yang masih multi-thread, yang rawan crash bila salah satu tab down. Itulah kenapa kini address bar, atau yang mereka sebut omnibar, masuk ke dalam area tab.

Selain itu ada beberapa macam keunggulan lain macam incognito, yaitu secure mode yang memungkinkan data-data yang kita pakai selama browsing tidak akan disimpan di komputer.

Google Chrome ini sendiri dibangun dari beberapa project open-source lain, seperti Webkit, yang juga digunakan untuk membangun Safari, (itulah kenapa saat mengunjungi beberapa blog, browser ini dikenali sebagai Safari), V8 technology untuk pemrosesan Javascript.

Ah, untuk penjelasan lebih lanjut silakan baca komiknya atau di Wikipedia saja. Yang jelas dari pengamatan pribadi, browser ini memang sedikit lebih cepat me-render halaman web. Dan saya suka itu. Browser ini juga punya element inspector, seperti kegunaan add-on Firebug di Firefox. Great!

Dan jadilah, saya pun berselingkuh dengan “istri” muda saya ini. 😆

Update:

Ternyata saat saya pakai untuk upload foto di flickr, javascript uploadernya tidak bisa berjalan Ternyata jalan, hanya waktunya sedikit lama bila memilih banyak file

Feedwordpress + ACE = My Great Aggregator

Aha, sejak dari dulu, sebenernya saya pengen memilah-milah konten dari blog saya sesuai dengan topik yang saya bahas dalam postingan. Misalnya kalau mau ngomongin soal film ya ada blognya sendiri, mau cerita soal kegiatan sehari-hari, ya ada sendiri. Ide pertama yang muncul di otak saya adalah: menggunakan layanan blogging gratis layaknya wordpress.com atau dagdigdug. Ah, tapi satu hal merintangi saya: Bagaimana kalau blog-blog saya yang lain sepi pengunjung dan komen? 😛

Hmmm, dengan bodohnya saya lalu memiliki ide untuk membuat sub-domain saja di blog saya. Semacam anak blog begitulah. Sehingga saya nanti bisa utak-utek skrip blog utama agar bisa menjadi semacam aggregator bagi subdomain-subdomain saya. Tapiiiiii…. sungguh “mahal” untuk membuat anak blog macam itu, lantaran saya harus install WP di setiap sub-domain, sementara space hostingan saya terbatas (paket termurah soalnya 😀 ). Dan akhirnya saya menemukan WordPress MU (Multiple User) layaknya yang dipakai penyedia layanan blog gratis itu. Dan, lagi-lagi dengan bodohnya, saya pun me-remove semua instalasi WordPress saya dan menggantinya dengan file-file WP MU yang ternyata instalasinya tak sesederhana WP. Jadilah, domain saya terlantar beberapa hari.

Setelah WP MU selesai terinstall, saya lalu mengutek-utek file untuk menampilkan RSS pada blog utama agar bisa menampilkan feed-feed dari subdomain saya. Maksudnya adalah agar orang yang sudah terlanjur berlangganan feed saya tidak perlu subscribe satu-satu tiap anak blog, cukup berlangganan feed utama saja. Yes, it works. Tapi ternyata hal ini punya sebuah kendala. Feed-feed dari subdomain saya akan muncul telat sekali di RSS reader macam Google Reader. Bisa-bisa saya posting hari ini, baru besok malam muncul di Reader.

Dengan putus asa, saya ternyata menemukan sebuah plugin untuk aggregator macam begitu (ah, tau gitu dari dulu) ketika membaca blog dari komunitas batagor (komunitas bloger kota Bandung) yang memang menjadi aggregator bagi blog-blog membernya. Plugin itu bernama Feedwordpress. Tak pake lama, langsung saya unduh dan pasang di blog (yang kemudian jadi aggregator, sementara blog utamanya pindah ke anak blog).

Selesai perkara (semua feed dari subdomain saya bisa muncul tepat waktu), saya jadi teringat akun saya yang ada di layanan blog gratis (wordpress & 3D). Kemudian saya putuskan bahwa kedua akun itu akan saya pakai untuk posting tentang hal-hal umum selain di blog utama. Alasannya, bila saja saya over-productive, dalam satu hari bisa posting lebih dari sekali, saya tidak mau posting saya yang paling awal terlewatkan oleh pengunjung baru. Biasanya kan pengunjung baru hanya akan membaca (or not?) postingan terakhir saja.

Dan jadilah, kedua akun itu saya aktifkan lagi dan saya daftarkan ke aggregator. Tapi-tapi-tapi, tetep saja di aggregator posting-posting dari WP.com atau 3D tetap muncul sebagai yang teratas, karena saya mem-postingnya terakhir setelah di blog utama. Kalau muncul di Reader sih tak masalah bagi saya (dasar bloger aneh).

Hmmmm, lantas sebuah ide muncul lagi, saya ingat dulu pernah diberitahu oleh om Gun tentang plugin yang dipake di blognya yaitu Advanced Category Excluder yang berguna untuk memfilter postingan-postingan yang akan ditampilkan di halaman utama sesuai dengan kategorinya. Well, akhirnya saya pun mengubah setting Feedwordpress untuk blog-blog saya yang ada di WP dan 3D agar dimasukkan ke dalam sebuah kategori khusus, dimana kategori itu nanti akan di-exclude oleh plugin ACE (Advanced Category Excluder) agar tidak tampil di halaman depan, hanya di RSS Feed saja.

Daaaannn… jreng-jreng, jadilah aggregator itu… :mrgreen:

Ohohoho… Cerita yang panjang dan membosankan.. 😛