Gravity

Gravity“Life in outer space is impossible”. Mantra itu lah yang dipakai sutradara Alfonso Cuaron dalam menciptakan film terbaik (versi saya) tahun ini. Setelah bertahun-tahun terlena dan takjub dengan film-film luar angkasa macam Star Trek, Star Wars, John Carter dll, kita seakan lupa dengan fakta singkat tersebut; hidup di luar angkasa itu tidak mungkin. Tidak ada gravitasi yang membuat kita bisa berdiri tegak adn juga tidak ada okisgen yang selama ini kita sia-siakan.

Gravity menyampaikan pesan sederhana itu dengan begitu indah, realistis dan sangat manusiawi. Boleh dibilang ini film thriller luar angkasa yang paling masuk akal. Tidak ada pesawat luar angkasa yang berkejar-kejaran dan saling menembak laser. Tidak ada alien-alien jahat yang berusaha memusnahkan manusia. Hanya ada 2 orang astronot yang terdampar di orbit yang berusaha menyelamatkan diri mereka dari serbuan pecahan satelit yang meledak dan kembali ke bumi.

Continue reading

Man of Steel Review

Man of Steel Superman

Man of Steel, film garapan Zack Snyder ini menceritakan kembali tentang asal usul kedatangan sang manusia super ke bumi. Dimulai di planet Krypton yang tengah menunggu kehancuran, film ini bercerita tentang Jor-El (Russel Crowe), ayah kandung Superman melawan pemberontakan General Zod (Michael Shannon) yang ingin membangun Krypton baru dengan kaum-kaum yang ia pilih sendiri.

Inti ceritanya tetap sesuai dengan kisah asal muasal Superman yang biasa kita dengar, bagaimana Jor-El kemudian mengirimkan anaknya Kal-El yang baru lahir menuju bumi agar selamat dari kehancuran planet. Ironisnya, Zod justru ikut selamat karena sebelum planet Krypton meledak ia dan kroni-kroninya malah dikirim ke penjara luar angkasa. Bedanya dari cerita umumnya, kali ini Jor-El mengirim sebuah “Codex” yang merupakan benda pusaka Krypton bersama Kal.

Continue reading

Argo, Propaganda yang Menghibur

Argo
Argo

Argo, yang dibintangi sekaligus disutradarai oleh Ben Affleck, mengambil tema tentang Iranian Hostage Crisis di tahun 1979 di mana segerombolan besar demonstran menyerbu kedutaan besar Amerika di Teheran, Iran dan menyandera para pegawainya. Yang menjadi fokus ceritanya adalah tentang 6 orang pegawai yang berhasil kabur melalui pintu belakang kedutaan. Bermaksud mencari kebebasan dan keselamatan, mereka justru dicekam dengan rasa takut tertangkap para pemberontak.

Saat keenam orang itu berhasil bersembunyi untuk sementara di rumah Duta Besar Kanada, di Amerika Serikat para pejabat CIA berdebat tentang cara memulangkan mereka. Berbagai jalan diperdebatkan untuk menyusupkan “penjemput” ke Iran dan membawa kembali para pelarian itu.

Continue reading

Fast Five (Fast & Furious 5: Rio Heist)

Fast Five
Fast Five

Tak sia-sia selama ini saya setia menunggu film ini diputar di bioskop. Rasanya sayang nonton film action melalui media yang seadanya, macam DVD di laptop atau film bajakan. Gregetnya kurang.

Maka bergembiralah saya saat Fast Five akhirnya masuk ke bioskop di Indonesia. Saya langsung nonton di hari pertamanya main, hari Jumat 12 Agustus kemarin. Hasilnya? Sangat memuaskan. Setelah “puasa” nonton di bioskop cukup lama, Fast Five adalah menu berbuka yang sangat cocok.

Film dimulai dengan ending dari seri sebelumnya, Fast & Furious dimana Mia Toretto (Jordana Brewster) & Brian O’Connor (Paul Walker) berusaha membajak mobil tahanan yang membawa Dominic Toretto (Vin Diesel) untuk menyelamatkannya. Untuk menghindari kejaran polisi & FBI, mereka kemudian melarikan diri ke Rio de Janiero, Brazil.

Di Rio, mereka malah harus berurusan dengan penguasa sekaligus bandar narkoba di sana, Hernan Reyes (Joaquim de Almeida) setelah merusak rencana Reyes merampok sebuah mobil dari sebuah kereta. Lebih buruk lagi, FBI ternyata mengirim satuan khusus DSS (US Diplomatic Secret Service) yang dipimpin Luke Hobbs (Dwayne Johnson) untuk menciduk mereka dari Brazil. Adegan kejar-kejaran berkecepatan tinggi di tengah kota pun tak terelakkan. Apalagi ketika Dom berencana untuk merampok semua uang Reyes sebagai modal mereka untuk kabur & memulai hidup baru.

Continue reading

Catatan Harian Si Boy

Catatan Harian Si Boy
Catatan Harian Si Boy

Musim panas hampir berlalu di negara bermusim empat. Liburan sekolah di sana juga hampir berakhir. Daaaan, kita yang Indonesia dengan sukses berhasil melewatkan semua film blockbuster alias film keren yang biasanya membanjiri bioskop di bulan-bulan seperti ini.

Menyebalkan? Memang. Film-film favorit baik yang digemari karena jalan cerita, tokoh, ataupun efek grafisnya harus menunggu entah sampai kapan untuk bisa ditonton. Tapi selalu ada hikmah di balik semua hal. Lumayan lah, bisa nambah tabungan beberapa bulan ini. Biasanya selalu ada duit yang dianggarkan buat nonton.

Bagi sineas dalam negeri, jelas ini merupakan kesempatan yang sangat besar. Pihak bioskop mau tidak mau harus memutar film apapun bahkan seadanya untuk dapat terus menjalankan roda ekonominya. Maka muncullah film-film Indonesia yang berkualitas ala kadarnya ala Nayato yang gantian membanjiri bioskop.

Hal inilah yang lebih menyebalkan. Masak saya harus membayar mahal-mahal untuk sampah-sampah tersebut? Sampah itu ya harusnya dibuang, bukan malah diperjualbelikan secara besar-besaran seperti itu. Kecuali Anda memang juragan barang loak sih..

Continue reading