Mohon maaf pemirsa, blog ini sempat tidak bisa diakses selama 2 minggu. Gara-garanya disuspend pihak hosting dikarenakan ada skrip iklan yang habisin resource CPU server 😀 . Pada saat yang sama, saya, sohibul blog (bahasa keren-nya bloger selain narablog) sedang berada di kampung halaman yang sejuk, nyamain, damai dan jauh dari internet. Jadi yaaa.. sekalian aja blognya ikut libur Lebaran.
Dan setelah jumlah visit yang menurun, Google PageRank yang jatuh bebas, dan beberapa pemasang iklan yang mencak-mencak, akhirnya blog ini dapat dinikmati kembali. Untuk saat ini belum ada postingan bermutu yang layak dibaca, tapi yaaaa.. daripada ga bisa diakses.
Sekian kata-kata pembukaan re-launch blog ini. Selamat menikmati dan tak lupa sohibul blog mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin 😀
Astaga, saya sama sekali ndak ngerasa kalau sudah masuk Ramadhan lagi. Sumpah, setahun ini terasa begitu cepat. Yah, mungkin efek dari 4 bulan menjadi sampah masyarakat itu :D.
Ya sudah, saya cuma mau mengucapkan:
Selamat berpuasa,
Selamat makan yang enak-enak,
Selamat berburu diskon,
Selamat memakai baju yang bagus-bagus,
Selamat berleha-leha di tempat kerja,
Selamat menikmati tunjangan hari raya,
Selamat bermalas-malasan dan bermanja-manja,
Sekedar informasi, grup band favorit saya, Muse, berencana mengeluarkan album baru pada September tahun ini. Namanya “The Resistance“. Tentu, saya sangat amat senang sekali *lebay*, karena sudah lama saya haus lagu-lagu keren dari Muse*semakin lebay*, mengingat album Muse terakhir, “Black Holes and Revelations” dirilis 2 tahun lalu dan album selanjutnya, H.A.A.R.P hanyalah album live yang berisi lagu-lagu lama dalam versi konser. Menurut informasi yang saya dapatkan di Kitab Suci Wikipedia, album baru ini memiliki 2 lagu yang rencananya akan dijadikan hits, yaitu “Uprising” dan “United States of Eurasia“. Judul lagu yang terakhir terdengar unik dan menyentil.
Tak lama kemudian, dengan petunjuk dari Tuhan Google Yang Maha Tahu, download manager saya sudah mengunduh dua lagu tersebut. Ya, bahkan albumnya belum dirilis, lagunya sudah bocor di internet. Lagu Uprising bagi saya memang bagus, dan terdengar sangat-Muse-sekali, tapi lagu “United States of Eurasia” ternyata lebih keren! Sekilas, lagu ini mirip dengan Bohemian Rhapsody-nya Queen, mellow di awal, kemudian dihantam dengan musik opera yang menggebu-gebu. Sangat unik, terdengar mirip tapi tidak sama. Tidak seperti band dalam negeri, yang jelas-jelas lagunya sama tapi ngakunya “terinspirasi” 😐
Dua lagu tersebut juga memiliki pesan yang sama: bersatu untuk bebas dari belenggu pihak yang sewenang-wenang, atau dengan secara gamblang dijelaskan di United States of Eurasia, mengajak rakyat Eropa dan Asia untuk bersatu melawan ke-diktator-an Amerika Serikat. Salah satu lirik di USoE: “You and me fall in line. To be punished for unproven crimes!” terdengar seperti bentuk kritik terhadap Amerika yang menyerang Iraq dengan dalih Iraq menyimpan senjata pemusnah massal, yang ternyata tidak terbukti setelah perang berakhir.
Pokoknya™ lagu ini sangat keren! Dan album The Resistance sangat layak untuk ditunggu link downloadnya.
Kapan yah, ada band Indonesia yang bikin lagu keren dengan tema yang kritis macam ini *wondering*
Hari ini sebenarnya saya ingin memposting tentang kebatalan kunjungan tim Manchester United ke Indonesia. Entah kenapa akhirnya saya malah nyasar ke situs salah satu partai di Amerika Serikat yang mempunyai nama unik: Boston Tea Party.
Jadi, begini ceritanya (gambar berubah ngeblur kayak di tipi-tipi):
Saya membaca halaman tentang Hutchinson, pemilik operator seluler Three yang menjadi sponsor kedatangan MU
Tertarik pada sejarah pembunuhan JFK, membaca tentang kisahnya yang diangkat ke fiksi. Salah satunya menyebutkan tentang film Watchmen yang menceritakan bahwa pembunuh JFK adalah sang Comedian.
Di dekat kantor saya, persis di seberang jalan depan kantor, sering saya jumpai banyak orang berjajar di trotoar sambil mengacungkan jari kepada setiap mobil yang melintas. Dulu saat pertama datang di Jakarta, saya tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Biasanya orang melakukan itu untuk “mencegat” angkot atau bus kota agar berhenti dan mereka bisa naik. Tapi ini mereka lakukan kepada mobil-mobil pribadi, dan banyak di antaranya adalah mobil dengan merk-merk mewah. Jadi tak mungkin kalau mereka mau “numpang” di situ. Seorang kawan saya waktu itu memberi tahu kepada saya, bahwa orang-orang itu adalah calo 3 in 1. Dia lalu menjelaskan bahwa di Jakarta ada beberapa jalan protokol yang dalam waktu-waktu tertentu tidak boleh dilewati mobil yang berisi kurang dari 3 orang. Jadi para calo tersebut menawarkan jasa agar para pengendara mobil dapat melintasi jalan-jalan tersebut tanpa ditilang pak polisi bertampang galak yang suka malak. Bagaimana caranya? Ya mereka akan berpura-pura menjadi penumpang dalam mobil tersebut, sehingga ketentuan 3 orang dalam mobil bisa terpenuhi.
Pekerjaan seperti ini memang sangat menggiurkan. Hampir tidak dibutuhkan skill apapun untuk melakukannya. Hanya perlu kesabaran untuk mencegat setiap mobil yang lewat, plus dandanan yang rapi dan sopan. Yah, mungkin agar calon pemakai jasa mereka, yang sebagian besar adalah orang-orang berduit tidak risih dengan penampilan mereka saat mau menggunakan layanan mereka. Seringkali ketika saya berangkat ke kantor, saya berjalan bareng dengan seorang yang tampak seperti orang kantoran: menggunakan kemeja & celana kain + sepatu kulit. Rapi sekali, tapi ketika sampai di tempat biasanya calon-calo ini mangkal, eh, dia kok ikut-ikut mengacungkan jari mencegat mobil.
Uang yang dihasilkan pun terhitung lumayan. Saya pernah bertanya kepada sopir pribadi direktur tempat saya bekerja. Menurut beliau, biasanya pak direktur paling sedikit memberi uang sepuluh ribu rupiah jika menggunakan jasa para calo. Kalau jarak yang ditempuh lumayan jauh, biasanya dari Senayan ke Thamrin, pak direktur memberi 20 ribu. Dan kalau sedang baik hati, tak jarang uang lima puluh ribuan yang diberi. Tidak ada tarif resmi, kata pak sopir saya. Semua tergantung tingkat kebaikan si pemakai jasa.
Tapi yang saya sayangkan, tampaknya pihak Satpol PP dan pra petugas yang lain tidak setuju dengan kehadiran para calo ini. Sering saya jumpai mereka semua lari berhamburan ketika mendengar sirene mobil patroli Satpol PP, atau suara derap sepatu bot para petugas yang tengah mencari ceperan bertugas. Entah apa alasan para petugas yang menghalau kehadiran mereka. Toh, mereka tidak melakukan hal-hal yang merusak. Mereka hanya stand-by di saat-saat tertentu, saat jam 3 in 1 aktif. Merusak ketertiban kota? Saya rasa tidak, mereka toh hanya berbaris dengan stelan rapi di sepanjang trotoar, mereka juga tidak merugikan pengguna jalan lain atau pejalan kaki (alasan yang biasanya dipakai alasan untuk mengobrak PKL).
Bagi saya calo-calo itu hanya orang-orang yang berusaha mencari rejeki dengan cara yang halal tanpa meminta-minta. Tapi entah mengapa para Satpol PP yang seharusnya mengayomi masyarakat-masyarakat kecil seperti mereka justru menjadi musuh yang menakutkan. Bila sedang ada patroli, tak jarang beberapa calo laki-laki memanjat pagar besi untuk bersembunyi di dalam lingkungan Gelora Bung Karno. Yang lain biasanya lari dan sembunyi di gedung-gedung lain di sekitarnya. Mereka bersembunyi begitu ketakutan, saya pernah melihat dengan mata saya sendiri, seorang calo, wanita muda yang tengah hamil tampak begitu takut bersembunyi di halaman gedung kantor saya. Dia bersembunyi sambil mengintip-intip apakah para petugas mencari ke tempat dia bersembunyi.
Entahlah, terkadang bila saya merasa hidup saya kekurangan, setiap memandang orang-orang seperti calo-calo ini, saya jadi merasa tertohok. Masih ada yang hidup jauh lebih susah daripada saya. Toh, saya tidak perlu berdiri berjam-jam mencegat setiap mobil menawarkan jasa untuk mendapat uang. Saya juga tak perlu khawatir bakal ada petugas yang mengobrak dan mengejar-ngejar saya. Humpf…
Seperti layaknya seorang bloger (halah), tentu saya ingin tahu tentang statistik kunjungan orang lain ke blog saya. Tidak bermaksud munafik, tentu saja saya masih merasa senang bila ternyata blog saya banyak dikunjungi. Berarti tulisan saya memang layak baca. Berarti pula popularitas saya meningkat, dan statu seleblog sudah semakin dekat 8) .
Okay, forget it, intinya saya ingin tahu tentang data-data orang yang mengujungi blog saya. Titik. Nah, maka daripada itu, dulu saat awal-awal meng-install WordPress di domain ini, saya menggunakan salah satu plugin-nya yang bernama Statpress. Statpress ini akan mencatat semua kunjungan (kecuali user yang login tentu sajah) dan disimpan di dalam database kita, tidak seperti plugin-plugin statistik pada umumnya, yang menggunakan third-party, alias server orang lain, sehingga kita nggak punya hak penuh dan hanya bisa pasrah kepada siapa data itu dititipkan .
Awalnya cool, karena semua data, mulai dari referrer dari mana si visitor datang, sampai keyword apa yang dia pakai di search engine sehingga bisa nyasar ke sini, semuanya terekam dengan baik. Tapi… karena jumlah kunjungan semakin banyak (yang berarti saya semakin terkenal 8) ) *ahem*, jumlah data yang dimasukkan ke dalam database blog ini juga semakin banyak. Ya mau bagaimana lagi, setiap ada kunjungan, si Statpress ini pasti nambahin satu row di database. Dan bayangkan, sudah berapa juta orang yang berkunjung ke blog ini? *lebay* Sudah pasti database saya kebanjiran data. Dan mulai beberapa hari yang lalu, permasalahan ini semakin serius, saya semakin lemot membuka dashboard WordPress, apalagi membuka report statistik, sounds impossible.
The Alchemyst: The Secret of the Immortal Nicholas Flamel
Buku karangan Michael Scott ini bercerita tentang sepasang anak kembar, Josh & Sophie Newman, dua orang remaja biasa-biasa saja yang harus terlibat dalam pertempuran penuh sihir. Gara-garanya ternyata pemilik toko buku tempat Josh bekerja ternyata adalah seorang manusia abadi, seorang Alchemyst termasyhur dalam sejarah dan legenda, yaitu Nicholas Flamel. Saat Josh sedang bekerja, tiba-tiba musuh bebuyutan Flamel, Dr. John Dee datang untuk merebut Codex, buku Abraham sang Magus yang berisi rahasia-rahasia sihir paling kuat.
Di tengah pertarungan sihir, Dee berhasil merebut Codex serta menculik Paranelle, istri Nicholas. Nicholas membawa Josh & Sophie kabur untuk mencari bantuan. Mereka menemui para Tetua untuk meminta bantuan melawan Dee dan majikannya, para Tetua Gelap serta untuk merebut kembali Codex dan menyelamatkan Paranelle. Saat itulah Josh & Sophie menemukan bahwa dalam diri mereka ada sebuah bakat terpendam yang telah diramalkan sejak 10 ribu tahun yang lalu.
Kemarin malam, setelah mendapat bantuan finansial, akhirnya saya menonton film ini. Awalnya saya tidak terlalu tertarik, karena seri Star Trek sendiri masih asing bagi saya. Film dan serial TV-nya sih memang sudah sangat terkenal, tapi entah kenapa saya enggan untuk menelusuri. Tapi yah, gara-gara banyak rekomendasi serta review yang mengatakan bahwa film ini memang bagus, (bahkan Rotten Tomattoes memberikan rating 95%) saya jadi penasaran, seperti apa sih film ini.
* spoiler alert *
Film dimulai saat pesawat Armada Bintang USS Kelvin sedang memeriksa sebuah lubang hitam. Tiba-tiba dari lubang hitam tersebut muncul sebuah pesawat raksasa dan segera menembaki Kelvin. Saat sudah hampir hancur, Nero, seorang bangsa Romulan yang juga kapten pesawat asing tersebut menghubungi Kelvin dan meminta kapten-nya untuk datang ke pesawat dan melakukan perundingan. Sesaat sebelum pergi, Kapten Robau mengangkat perwira utamanya, George Kirk, untuk menjadi kapten dan mengambil alih pesawat. Benar saja, saat melakukan perundingan di pesawat asing tersebut, Nero membunuh Kapten Robau dan memerintahkan anak buahnya untuk mengahancurkan Kelvin. George segera memerintahkan seluruh awak pesawat untuk melakukan evakuasi dengan pesawat sekoci, termasuk istrinya yang akan melahirkan. George sendiri terpaksa tinggal di USS Kelvin dan terus melakukan perlawanan agar pesawat asing tersebut tidak menyerang pesawat sekoci. Pada saat-saat terakhir, saat ia akan menabrakkan USS Kelvin, ia masih berkomunikasi dengan istrinya, yang saat itu sudah melahirkan putranya. George memberinya nama Jim sebelum akhirnya pesawatnya meledak.
25 tahun kemudian, James Tiberius Kirk telah tumbuh dewasa. Ia adalah pemuda yang cerdas, tapi selalu bertingkah ugal-ugalan. Setelah mengalami perkelahian dan mendapat wejangan dari Kapten Pike, Kirk akhirnya bersedia bergabung dengan Akademi Starfleet. Kapten Pike memberinya tantangan untuk menyamai kehebatan ayahnya, yang menjadi kapten selama 12 menit tapi telah menyelamatkan 800 nyawa. Di dalam akademi tersebut, Kirk mengambil tes Kobayashi Maru, sebuah simulasi untuk menyelamatkan sebuah pesawat. Dalam usahanya yang ketiga, Kirk dengan santainya menyelesaikan tes tersebut, sehingga memunculkan kecurigaan dari para pengujinya. Benar saja, Kirk langsung dituduh telah memprogram ulang tes tersebut oleh sang pencipta tes tersebut, Spock. Saat tengah beradu argumen tentang tes tersebut, masuk laporan bahwa di planet Vulcan, kampung halaman Spock telah terjadi sebuah bencana. Komando Starfleet segera memerintahkan bantuan evakuasi ke Vulcan.
Kirk, yang tengah dalam masa skorsing, ternyata tidak disertakan dalam misi tersebut. Tapi dengan bantuan temannya Leonard McCoy, yang memiliki keahlian medis, Kirk dapat menyusup ke dalam pesawat baru Starfleet, USS Enterprise. Saat berada di dalam Enterprise, Kirk menyadari bahwa gejala yang terjadi Vulcan sama dengan gejala yang terjadi saat hari kelahirannya, atau saat pesawat ayahnya diserang dan dihancurkan oleh pesawat asing milik bangsa Romulan. Ia segera memperingatkan kapten USS Enterprise, Kapten Pike untuk menghentikan misi, karena mungkin itu adalah jebakan dari bangsa Romulan. Tapi Kapten Pike, dengan saran logis dari perwira utamanya, Spock, meneruskan misi. Benar saja, setelah melakukan warp, mereka melihat sebuah pesawat raksasa telah menghancurkan pesawat Starfleet yang lain dan sedang mengebor ke dalam planet Vulcan. Narada, pesawat Romulan itu, juga hampir menghancurkan Enterprise ketika kapten Nero memberi perintah untuk berhenti. Ia juga menghubungi Enterprise dan meminta sang kapten untuk datang ke pesawatnya untuk berunding. Sama seperti yang dilakukannya 25 tahun yang lalu.
Terhitung sejak tanggal 1 Februari kemarin, saya resmi menjadi seorang yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Perusahaan tempat saya bekerja, sebuah perusahaan koran yang petingginya dipenjara (?) karena terlibat dalam kasus pembunuhan, secara sepihak memutus hubungan kerja saya dan rekan-rekan satu divisi. Tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mereka (para direksi) beralasan bahwa perusahaan akan melakukan audit aset-asetnya, jadi kami diminta (atau dipaksa?) untuk berhenti bekerja selama proses audit berjalan. Kata mereka, kami akan dipanggil lagi dalam waktu 2 minggu. Tapi, dalam sebuah surat yang kami terima, yang berisi tentang keputusan untuk “meniadakan hubungan antara karyawan dan perusahaan” yang harus kami tanda tangani, sama sekali tidak ada kata-kata akan dipanggil kembali. Kami pun mengerti bahwa itu adalah surat pemecatan secara sepihak. Kata-kata mereka tentang pemanggilan itu hanya abang-abang lambe, pemanis mulut, supaya kami mau-mau saja diputus hubungan kerjanya.
Tentu ini tidak adil, tapi yah, sudahlah, mau bagaimana lagi. Berurusan dengan orang berduit memang bukan hal yang mudah. Bisa-bisa saya mendahului Pak Nasrudin kembali ke pangkuan Malaikat Izrail. Ikhlaskan saja, easy come, easy go. Sejak saat itu, kehidupan saya dan beberapa rekan berubah. Yang tadinya bisa berfoya-foya terpaksa harus meniadakan beberapa kebiasaan yang cukup menghabiskan banyak dana. Tapi selain kondisi ekonomi, yang paling terasa perubahannya adalah status sosial. Ibu kost sudah cukup curiga melihat tingkah saya dan beberapa rekan yang terus-terusan ada di rumah. Mungkin kuatir kami akan ngutang duit kos bulan depan. Pada saat saya pulang kampung untuk ikut Pemilu Legislatif kemarin, banyak teman, tetangga dan saudara yang sudah lama tidak berjumpa, bertanya kepada saya: di Jakarta kerja di mana? Walhasil, saya pun kebingungan. Bagaimana tidak, bila saya jujur, bisa hancur image anak kebanggaan orang tua saya, yang pergi mencari kerja di ibukota dalam usia yang masih cukup belia seperti saya. Tentu, ini aib yang harus ditutup rapat. Saya pun menjawab: Freelance. Bukan sebuah kebohongan, karena memang saya sedang memiliki beberapa proyek freelance kala itu.
You must be logged in to post a comment.