Happy F(e)asting!

Astaga, saya sama sekali ndak ngerasa kalau sudah masuk Ramadhan lagi. Sumpah, setahun ini terasa begitu cepat. Yah, mungkin efek dari 4 bulan menjadi sampah masyarakat itu :D.

Ya sudah, saya cuma mau mengucapkan:
Selamat berpuasa,
Selamat makan yang enak-enak,
Selamat berburu diskon,
Selamat memakai baju yang bagus-bagus,
Selamat berleha-leha di tempat kerja,
Selamat menikmati tunjangan hari raya,
Selamat bermalas-malasan dan bermanja-manja,

Happy f(e)asting, everybody!!

Yang Penting Niatnya™

Pernah dengar kata-kata “Sesungguhnya amal ibadah itu dinilai dari niatnya”? Tentu saja saya yakin, apalagi jika Anda adalah orang-orang ahli ibadah yang taat dunia akhirat. Lalu bagaimana Anda memaknai kalimat tersebut? Bahwa hanya dengan niat saja Anda akan memperoleh kredit pahala agar nanti Anda dapat menikmati surga yang penuh dengan bidadari itu? Hmmm, tampaknya Anda itu termasuk orang-orang yang tidak mau berpikir, seperti yang disebutkan dalam kitab suci itu. Atau secara kasar Anda itu masih termasuk orang yang menerima agama dengan sendika dawuh, apa kata orang lain. Ndak mau repot-repot mikir, yang penting masuk surga.

Masih ingat postingan saya yang terdahulu? Dalam postingan tersebut saya sama sekali tidak melarang Anda untuk beramal. Tapi saya menyarankan Anda untuk beramal dengan cerdas dan tepat. Agar Anda tidak seenaknya saja mengeluarkan uang untuk beramal dengan dalih untuk mencari pahala dan mengurangi dosa karena niat tulus Anda untuk beramal. Sebab menurut saya, orang-orang yang seperti itu termasuk orang-orang yang egois, hanya mau pahala tanpa mau tahu bagaimana amalnya akan bermanfaat bagi umat.

Atau bila Anda masih kurang mengerti maksud saya, coba lihat baliho-baliho di jalan-jalan protokol Jakarta yang bertuliskan “Bayar Pajaknya, Awasi Penggunaannya”. Seperti itulah kira-kira maksud saya, jangan hanya membayar pajak demi untuk menggugurkan kewajiban sebagai seorang warga negara, tapi bayarlah pajak demi kepentingan negara, dengan mengawasi penggunaannya agar tidak malah berbelok ke kantong orang-orang biadab tidak bertanggung jawab.

Baik, maaf saya terlalu bertele-tele memberi pembenaran atas pendapat saya. Kembali mengenai kalimat yang kemudian populer menjadi “Yang penting niatnya”. Coba kita tengok kasus yang terjadi di Pasuruan kemarin, tentang pembagian zakat yang menewaskan 21 orang wanita. Wah, keren sekali Tuhan Anda seandainya Dia memberi pahala kepada orang yang menyebabkan tewasnya beberapa orang hanya karena orang tersebut punya niat awal untuk menjalankan perintah agama demi pahala.

Menjadi gugurkah kesalahan fatal tersebut dengan dalih “niatnya kan baik”? Saya tidak membahas soal lembaga Islam yang harusnya bekerja dengan baik, seperti yang diulas di TV-TV itu. Tapi tidakkah ada cara yang lebih baik selain memberi pengumuman dengan berapi-api tentang sebuah keluarga kaya yang akan bagi-bagi duit?

Contoh lain, adalah organisasi favorit saya yaitu FPI. (Yeah, they rock!! m/ ) Berangkat dengan niat untuk mengingatkan orang lain tentang pentingnya bulan Ramadhan, apakah Tuhan masih akan memberi mereka pahala atau nilai kebaikan, bila pada pelaksanaannya mereka malah merusak benda milik orang lain?

Hmm, enak sekali kalau memang kalimat “Yang Penting Niatnya™” itu benar. Saya nanti akan mencalonkan diri menjadi pemimpin negeri ini dengan niat tulus untuk memajukan negeri ini, mensejahterakan rakyat, dan bla bla bla itu.. Siapa tahu saya nanti khilaf… 8->

PS: Bacalah dengan bijak.. Sebab orang yang tidak bijak pasti mengira saya melarang untuk berbuat baik…

Mendadak Agamis

Ramadhan memang telah datang seminggu yang lalu. Hmm ya, bulan suci ini memang membawa berkah, rahmat dan hidayah bagi seluruh umat Islam. Ya, tampaknya ketiga hal itu yang sedang dibagi-bagikan Tuhan. Ndak percaya? Ndak usah jauh-jauh berpikir tentang seorang penjahat yang langsung insyaf dan bertaubat ketika Ramadhan, tengok saja grup band Indonesia yang harus kita cintai sepenuh hati demi tidak disebut tidak cinta tanah air itu.

Hidayah

Ya, tiba-tiba saja para musisi-musisi berbakat itu banting stir. Lagu-lagu ciptaan mereka yang sangat tidak agamis, seperti ajakan untuk cium-ciuman, kekasih gelap dan hal-hal yang berbau cinta-cintaan lain, mendadak berubah menjadi lagu-lagu relijius. Yang bercerita tentang mencari Tuhan lah, dan lain sebagainya. Sangat Islami! Oh, Tuhan itu memang Maha Pemberi Hidayah.

Berkah dan Rahmat

Dan tentu saja, mereka akan disebut-sebut sebagai manusia-manusia mulia yang berdakwah demi Tuhan dan agamanya, yang berarti lagu-lagu baru mereka akan segera laris di pasaran. Apa artinya? Tentu saja aliran uang serta penghargaan akan segera mereka dapatkan. Alhamdulillah, Tuhan memang Maha Pemberi Rahmat.

Oh Tuhan, limpahkanlah hidayah dan berkahmu kepada kami di bulan suci ini.

It’s not ended yet…

Quotes of The Day

Berikut ini bukan quote-quote orang terkenal, hanya saya saja yang iseng membuat quote bertema relijius dalam rangka menyambut bulan Ramadhan 😀

Jika kau membutuhkan ide, sholatlah. Jika bukan karena Tuhanmu yang memberi hidayah, maka itu adalah setan yang menggoda sholatmu

Hai orang-orang yang berpuasa, hormatilah orang-orang yang tidak berpuasa, dengan berhenti menyuruh mereka menghormatimu

Agama Manja

Ramadhan telah tiba. Musimnya promosi lagi, musimnya diskon lagi, musimnya si ormas itu obrakan lagi. Haha, lucu sekaligus miris mendengar si ormas itu mengobrak warung yang jualan di siang hari pada Ramadhan tahun lalu. Alasannya, tidak menghormati orang yang berpuasa.

Alasan yang aneh. Jika puasa itu harus menahan godaan untuk makan dan minum, ya sudah, harus dijalankan dalam kondisi apapun. Baik dalam kondisi darurat militer, pasca bencana alam, ataupun di antara warung-warung yang menyajikan makanan dengan aroma menggoda.

Puasa kok malah manja. Justru seharusnya godaan tersebut dijadikan tantangan, mampu tidak untuk berpuasa dalam kondisi seperti itu. Bukannya malah mengobrak-obrak warungnya. Puasa kok malah melampiaskan amarah begitu.

Atau jangan-jangan para obrakers itu sebenarnya tidak kuat menahan godaan? Tapi gengsi jika mau membatalkan puasa, jadinya mereka mengobrak-abrik warung-warung nasi tersebut lagi-lagi dengan slogan usang mereka “Jidah fi sabilillah”. Tai.

Jihad kok merusak penghidupan orang. Jihad kok malah melampiaskan amarah di bulan puasa. Terinspirasi dari perang Badr tampaknya, yang katanya berlangsung di bulan Ramadhan. Perang kok melawan orang-orang kere yang hidupnya bergantung dari jualan di warungnya.

Ah, sudahlah, saya hanya memuaskan nafsu ngrasani saya sebelum puasa tiba. Sebab katanya pahala puasa kita akan berkurang kalau kita ngrasani orang, sebejat apapun, bahkan selevel ormas itu sekalipun. Saya ini banyak dosa, jadi ndak mau pahala saya berkurang. Takutnya nanti ndak bisa merasakan nikmatnya perawan-perawan surga.

Ndak seperti para obrakers itu, mentang-mentang punya pahala banyak, jadi ndak butuh pahala puasa. Makanya mau ngobrak-ngobrak warung dengan nama jihad.

Selamat berpuasa. Semoga Anda bukan tipe orang puasa yang manja.. seperti.. ah sudahlah..