Categories
Movie

The Last Airbender

Saya adalah fans serial Nickelodeon, Avatar: The Last Airbender, atau yang di Indonesia berjudul The Legend of Aang. Maka gempar-lah saya saat melihat trailer film live-actionnya untuk pertama kali. Ini adalah salah satu film yang paling saya tunggu tahun ini. Akan tetapi ketika mengetahui bahwa sutradara film ini adalah M. Night Shyamalan yang popularitasnya menurun dalam beberapa tahun belakangan, saya jadi khawatir film ini akan menjadi seperti film Dragon Ball Evolution yang hancur itu.

The Last Airbender
The Last Airbender

Dan ya, saat akhirnya saat dirilis film ini banyak menuai kritik pedas. Shyamalan dinilai gagal mengadopsi serial TV yang dianggap lucu sekaligus menegangkan. Bahkan protes paling keras datang dari orang-orang yang menilai bahwa film ini sangat rasis. Jalan cerita yang harusnya berlatar belakang kebudayaan Asia justru dibawakan oleh aktor-aktor kulit putih. Justru tokoh-tokoh protagonis-nya yang diperankan oleh orang India.

Sampai di situ hilanglah sudah gairah saya menonton film ini. Saat akhirnya diputar di Indonesia, saya lebih memilih untuk menunggu sampai seminggu sebelum akhirnya menonton film ini di bioskop. Dan ketika akhirnya saya menonton film ini, saya sampai tidak tega menayangkan versi gagal dari serial favorit saya.

Apa saja kekurangan film ini?

Categories
kuliner

DeKwek Resto, Spesial Bebek

Seperti abegeh-abegeh pada umumnya, saya juga ikut-ikutan trend untuk makan enak sebelum memulai puasa. Maka jadilah, ketika jam makan siang hari ini (10/08), saya dan teman-teman kantor memberanikan diri untuk mencoba restoran dekat kantor yang baru saja buka. Namanya DeKwek Resto.

deKwek Resto
Suasana di dalam deKwek Resto

Restoran ini menjual masakan-masakan bebek. Tapi menu andalannya (setidaknya yang ditampilkan di banner-bannernya) adalah Sate Bebek Peking. Menu-menu yang lain cukup bervariasi, mulai dari bebek goreng Surabaya saus merah sampai bebek Peking bakar madu. Karena penasaran, dua orang teman saya memesan sate bebek peking, sementara saya mencoba bebek Peking bakar madu.

Categories
my life

4th August 4th

Happy Anniversary, my dear..

Tak terasa waktuku bersamamu berlalu begitu cepat. Setitik cinta yang dulu menggetarkan hati kita kini sudah berkembang sebagai bunga yang cantik. Semoga Tuhan memberi kekuatan agar kita bisa memetiknya bersama suatu saat nanti.

I love you 🙂

Categories
Movie

Under the Iron Sky

Iron Sky adalah film sci-fi komedi produksi Finlandia yang mengambil tema “Nazis on the Moon”, sebuah teori konspirasi mengenai kaum Nazi yang pergi ke bulan jauh sebelum Neil Amstrong, dan membentuk koloni di bagian bulan yang membelakangi Bumi (Far Side of the Moon). Dalam Iron Sky, diceritakan tahun 2018 keturunan para Nazi akan kembali ke Bumi dan mengambil alih dunia.

Iron Sky (2011)
Iron Sky (2011)

Dalam teori “Nazis on the Moon” diceritakan bahwa pada saat Perang Dunia II, Nazi sudah memiliki teknologi yang jauh melebihi tentara Sekutu. Maka ketika Nazi mulai terdesak, mereka mengirimkan ilmuwan-ilmuwan paling jenius di Jerman ke sebuah markas rahasia di Antartika untuk membangun pesawat antariksa yang akan dipakai melarikan diri ke bulan.

Categories
Blogs

It's Good To Be Back!

Okay, guys. Ternyata Demam Berdarah itu sangat tidak menyenangkan! Jaga diri baik-baik yah. Daripada kena penyakit menyebalkan itu 😆

Okay, jadi saya barusan mengupdate blog ini ke WordPress 3.0. Saya jatuh hati ke theme default-nya, Twenty Ten, dan mungkin akan memakainya untuk beberapa waktu ke depan.

Untuk Smells Like Facebook, nanti saja yah, sekalian mau diupdate biar compatible dengan WordPress versi terbaru. Kalau mau nyari preview-nya, Google aja. Dah banyak kok yang make theme itu 8)

Categories
Movie

Prince of Persia: The Sands of Time

Yak, ini dia film yang paling saya tunggu-tunggu tahun ini. Mau bagaimana lagi, saya sudah terlanjur cinta kepada franchise Prince of Persia sejak memainkan game-nya sekitar tahun 2003 lalu. Ya, meski tidak se-kaffah masova yang ternyata tahu seri-seri yang lebih lama. Film ini diangkat dari game berjudul sama yang dilincurkan tahun 2001 yang lalu. Meski begitu, film ini hanya mengambil elemen-elemen pentingnya tapi tidak mengadaptasi jalan cerita di game.

Prince of Persia: The Sands of Time
Prince of Persia: The Sands of Time

Syahdan di negeri Persia, sang Raja Sharaman mengadopsi seorang anak jalanan bernama Dastan untuk menjadi putra ketiganya. Ketika ia dewasa, Dastan bersama dua kakaknya, Garsiv dan Tus, menjadi panglima perang kepercayaan rajanya. Ketika dalam suatu ekspedisi, Tus yang paling tua, memutuskan untuk menyerang kota suci Alamut, karena berdasarkan informasi paman mereka, Nizam, kota itu berkhianat kepada Persia dengan membuat senjata untuk musuh-musuhnya. Dastan yang sebelumnya menolak ide ini, akhirnya setuju saat kakaknya berkeras dengan rencana itu. Malah, ia menjadi bintang penyerangan itu, karena berhasil menyusup masuk dan memberi jalan bagi pasukan Persia.

Setelah Alamut jatuh, Dastan menemukan sebuah belati aneh yang ia dapatkan setelah mengalahkan seorang perwira di sana. Sang kakak, Tus, juga memperoleh hadiahnya sendiri, sang putri cantik penguasa Alamut, bernama Tamina yang ia ingin nikahi. Semua tampak sempurna sampai ketika sang Raja datang. Dastan, dengan nasihat kakaknya, memberi hadiah sebuah jubah suci kepada ayah angkatnya itu. Tapi ketika sang Raja memakainya, jubah tersebut mengeluarkan racun yang seketika membunuhnya. Dastan pun dicap sebagai pembunuh dan pengkhianat. Ia, dengan bantuan Tamina berusaha melarikan diri dan membersihkan nama baiknya. Sampai akhirnya dia mengetahui kekuatan yang ada di belati yang didapatkannya.

Meski tidak seperti di game, saya tetap merasa puas ketika selesai menonton film ini. Aroma petualangan yang disajikan tetap terasa seru, meski bagian akrobatik dan puzzle yang menjadi ciri khas di game tidak begitu mendalam.

Jordan Mechner, sang pencipta tokoh Prince of Persia, seperti sedang balas dendam karena tokoh ciptaannya ini digambarkan begitu kejam di lanjutan game Prince of Persia (Prince of Persia: Warrior Within & Prince of Persia: Two Thrones). Maka sebagai gantinya, ia me-reboot ceritanya dengan menampilkan sosok Prince Dastan yang meski ugal-ugalan tapi tetap cool dan baik hati. Bahkan menurut wikipedia, ia tidak akan mengambil elemen-elemen dari kedua game tersebut untuk sekuel filmnya. Sebenarnya sayang juga sih, karena tokoh Kaileena yang hot itu tidak akan muncul 😛

Hanya satu dosa besar yang menurut saya dilakukan oleh film ini: yaitu memberi nama sang pangeran. Ya, di setiap game-nya sang Pangeran tidak pernah disebut namanya, hanya dipanggil sebagai “the Prince”. Seandainya hal itu masih dipertahankan di film, sempurna sudah film ini. *lebay*

Oh ya, kalau Anda menonton film ini tepat setelah / sebelum Shrek 4: Forever After, maka Anda akan sedikit deja vu, karena endingnya mirip. 😀

Categories
book

Pompeii – Robert Harris

Pompeii by Robert Harris
Pompeii by Robert Harris

Novel ini bercerita tentang Attilius, seorang aquarius (ahli air) muda yang menemukan kejanggalan di kanal air terbesar dan terpanjang di dunia, Aqua Augusta. Kanal yang melewati banyak kota di sepanjang pesisir Campania, Italia ini menunjukkan tanda-tanda penyusutan debit air. Air yang mengalir pun terkadang bercampur belerang yang dapat meracuni tubuh. Penasaran, diapun menyusuri tiap kota yang dilewati Augusta untuk menemukan letak kesalahan. Sampai akhirnya ia tiba di Pompeii, kota besar tempat Ampliatus sang mantan budak berkuasa. Menyaksikan semua tingkah laku bejat para penduduk Pompeii, Attilius segera mengetahui bahwa kota itu akan segera dihancurkan oleh gunung Vesuvius yang sudah lama dikira telah mati. Ia pun berusaha menyelamatkan penduduk di sana dan terutama kekasihnya, Corelia.

Membaca buku ini terasa seperti membaca buku sejarah, ilmu teknik, geologi dan roman sekaligus. Seperti yang diceritakan di sinopsisnya, Robert Harris berusaha membangun kembali kota Pompeii di detik-detik terakhir sebelum kota itu hancur ditelan letusan gunung Vesuvius di tahun 79 Masehi. Melalui 4 orang tokoh, Robert bercerita hampir tentang semua aspek berbeda. Dari seorang aquarius Attilius, ia bercerita tentang bagaimana majunya peradaban kekaisaran Romawi kala itu. Melalui Ampliatus dan putrinya, Corelia, Robert menggambarkan keadaan sosial, yang bisa dibilang sudah hampir bobrok, yang terjadi kala itu. Sementara Pliny, seorang ilmuwan nyata, lebih banyak bercerita tentang sejarah.

Novel ini cukup bagus kok, cerita-nya tertata dengan rapi, meski sempat pusing juga membaca tentang ilmu-ilmu teknik. Tapi bagi saya yang paling menarik justru cerita tentang manajemen air di zaman itu. Kekaisaran Romawi memiliki kanal-kanal raksasa yang berfungsi mengalirkan air dari sumber di gunung ke kota-kota besarnya. Hal ini membuat Kaisar memiliki hak penuh atas air. Tidak seperti kita saat ini, air kala itu adalah barang mewah yang tidak bisa dimiliki semua orang. Oleh karena itu, di kota-kota Romawi, sebagian besar rumah tidak mempunyai kamar mandi sendiri. Penduduk kota mandi bergantian di sebuah kamar mandi umum yang disediakan oleh pemerintah. Air untuk kebutuhan sehari-hari juga diambil dari air mancur umum yang tersebar di penjuru kota. Penggunaan fasilitas air ini diawasi oleh tentara yang ada di kota itu. Hanya orang-orang kaya yang mampu membayar pajak air dan memiliki kemewahan air di rumahnya, seperti kamar mandi, kolam renang atau sauna.

Untuk mengelola semua kanal di seluruh penjuru Kekaisaran, sang Kaisar menunjuk seorang Curator Aquarum yang membawahi banyak aquarius yang ditempatkan di setiap kanal. Nah, aquarius-aquarius inilah yang bertanggung-jawab atas semua aspek operasi kanal.

Sistem inilah yang saya kira menarik, bagaimana sang Kaisar mampu mengontrol semua penggunaan air di seluruh Romawi. Saking bagusnya sistem manajemen air ini, konon kota Roma kala itu mampu menyediakan air 5 kali lebih banyak daripada yang bisa dilakukan kota New York di tahun 1985. Kalau sistem ini diaplikasikan di Indonesia saat ini, kira-kira bagaimana ya?

Oh ya, ada satu fakta mengerikan yang baru saya ketahui dari buku ini. Zaman itu, jika ada bayi yang terlahir sungsang (kaki di bawah), maka sang suami harus memilih salah satu: anaknya atau istrinya. Jika ia memilih anaknya, maka perut sang istri akan dirobek menggunakan sebuah gunting besar mirip gunting tanaman. Jika ia memilih istrinya, maka kaki sang anak yang sudah keluar sebagian akan dipotong dengan gunting yang sama, kemudian sisa-sisa tubuhnya yang masih di dalam kandungan akan dikeluarkan menggunakan semacam pengait besar.

*) gambar dari wikipedia

Categories
social

Komjen (Pol) Hans Landa

Hans Landa
Hans Landa

Sudah nonton film Inglorious Basterds? Kalau belum silakan tonton dulu, keren kok. Film karya sutradara Quentin Tarantino ini bercerita tentang Perang Dunia kedua dalam versinya sendiri. Dalam film ini, super villain alias tokoh antagonis utamanya bukanlah si “Jojon” Adolf Hitler, tapi seorang Kolonel (Standartenführer) tinggi di organisasi Schutzstaffel (SS), semacam polisi rahasia Nazi, bernama Hans Landa. Landa adalah seorang pemimpin yang cakap dan ahli strategi. Dialah orang kepercayaan Hitler untuk melakukan pemusnahan bangsa Yahudi sebagai kebijakan anti-semit Nazi. Saking ahlinya dalam menumpas bangsa Yahudi, ia mendapatkan gelar yang sangat dibanggakannya: Jews Hunter alias Pemburu Yahudi.

Meski terlihat sangat loyal di awal-awal cerita film, ternyata Landa membelot saat mendekati akhir cerita. Saat pasukan Basterds menjalankan operasi Kino untuk membunuh semua petinggi Nazi, Landa mengetahui hal itu. Tapi bukannya menangkap para anggota Basterds, Landa malah mengajak berdiskusi Kapten Aldo “the Apache” Rein, pemimpin Basterds. Ia bersedia membiarkan para Basterd melakukan aksinya asal ia mendapat jaminan dari pemerintah Amerika Serikat. Ia “menjual” rekan-rekan dan atasannya demi mendapatkan penghargaan dari tentara Sekutu. Ia meminta pemerintah Amerika Serikat mengakuinya sebagai double-agent dan menganggap semua kejahatannya sebagai “necessary evil” yang harus ia lakukan demi menggulingkan Hitler. Bahkan ia minta sebuah pulau di daerah tropis untuk dijadikan properti pribadinya.

Sampai di situ, saya merasa ada sesuatu yang mengganjal. Sebuah deja vu. Saya seperti melihat implementasi nyata adegan di film tersebut di dunia nyata ini. Tepatnya di negara yang saya tinggali saat ini, Indonesia. Saat membaca media-media saya seperti tengah menonton film Inglorious Basterds tadi. Di mana ada adegan seorang perwira tinggi di sebuah institusi hukum “menjual” rekan-rekannya demi mendapat “perlindungan hukum dan politik” dan mungkin untuk menghapus kejahatan masa lalu-nya.

Saat organisasi yang dibelanya selama ini sedang terancam oleh organisasi lain, tiba-tiba dia muncul, bernegosiasi dengan organisasi “lawan” agar mereka bisa menumpas penjahat-penjahat yang ada dalam organisasinya. Hanya satu perbedaannya, dia mengaku bahwa dia “bukan” seorang penjahat, tidak seperti Landa yang mengakui semua kejahatannya. Lucu juga sih kalau si Hans Landa Indonesia ini mengaku lantas minta semuanya disebut sebagai “necessary evil“. Ah, tapi itu kan menurut dia saja, hati orang siapa yang tahu.

Jadi bagaimana nasib Hans Landa Indonesia ini? Apakah dia akan mendapatkan tanda penghargaan karena jasa-nya mengungkapkan borok institusi yang dibelanya selama ini? Atau dia akan ikut tersandung masalah yang dimulainya sendiri? Kita lihat saja nanti. Sebagai perbandingan, di akhir film Inglorious Basterds, Hans Landa masih belum jelas dia dapat pulau pribadi atau tidak. Yang ada dia malah mendapat sayatan berbentuk swastika di dahinya.

Categories
internet Technology

Firefox: Persona vs Theme

Recently, Mozilla launches a new feature for their Firefox browser, called as Firefox Persona. It’s an addon that allow you to change the skin of your Firefox with your favorite brands. They’ve made a new site for the Persona Gallery where you can download the Personas made by many designers. One thing in my mind when I know this: “What about the Firefox theme?”.

As you know Firefox has already had the Theme Gallery, which is integrated to the Addon Gallery. What about them after the Persona is launched? In their FAQ page, they said that Persona is a special type of theme that changes the look of your browser without changing the navigation buttons, toolbars, and menus, while Themes change the appearance of Firefox.

Still curious, then I made a test: install Persona and a theme at the same time. And here is my conclusion: Persona is made to re-skin your Firefox, it is only capable to give a new background for toolbar and statusbar, while it can’t make any modification to the style of the buttons, tabs and any color like Themes do. Imagine that installing Persona is like making a tattoo to your body, while installing theme is like getting a plastic surgery on it. And happily, you can combine both!

Here is the screenshot of my Firefox tattoo-ed with WordPress Vintage Persona and altered with Vista-aero theme. Nice, eh?

Firefox Persona
Firefox Persona

Oh, I just realize that the Personas is much like Google Chrome themes. Hmm..

Categories
Agama & Tuhan book

Dan Brown: The Lost Symbol

Akhirnya, setelah sekian lama penantian, saya berhasil mendapatkan buku ini. Sekitar sebulan yang lalu, buku ini datang sebagai kado ulang tahun dari Nyonya saya. Makasih, sayang :*

The Lost Symbol
The Lost Symbol

Setelah dengan sukses dengan 4 novel-nya, Dan Brown kembali membuat decak kagum dengan novel kelimanya ini, The Lost Symbol, yang bercerita tentang ahli simbol Robert Langdon, menelusuri jejak misterius kaum Freemason di jantung Amerika, Washington D. C. Buku ini bisa dibilang adalah hasil tumbukan novel-novel Dan Brown sebelum-sebelumnya. Digital Fortress dan Deception Point, novel pertama dan ketiga, bercerita seputar lembaga-lembaga negara Amerika yang misterius dan intrik-intriknya, sementara dua novel lainnya, Angels and Demons dan Da Vinci Code bercerita tentang Robert Langdon yang berusaha menemukan jawaban di balik simbol-simbol kuno yang sangat rahasia. Dan keduanya bertemu di Lost Symbol: Amerika vs Robert Langdon.

Robert Langdon diceritakan harus menolong temannya, Peter Solomon, grand master kelompok Freemason yang diculik seorang penjahat misterius. Si penculik menginginkan Langdon menemukan Kata yang Hilang yang disembunyikan di balik piramida suci Freemason. Konon Kata yang Hilang itu bisa membuka kekuatan rahasia yang tersembunyi dalam tubuh setiap manusia. Membuatnya memiliki kekuatan yang mendekati kekuatan Tuhan. Berhasilkah Robert Langdon menemukannya? Baca saja sendiri.

Seperti biasa, selain bercerita tentang simbol-simbol kuno, Dan Brown juga menyisipkan tentang teknologi-teknologi mutakhir yang masih jaran diketahui umat manusia. Setelah mesin pemecah TRNSLTR dan antimatter, kini dia bercerita tentang ilmu Noetic, ilmu yang mempelajari bagaimana benak manusia dapat memberikan pengaruh nyata terhadap benda-benda fisik di sekitarnya. Menurut pengamatan saya, ilmu inilah yang dapat membuat manusia menjadi seperti Tuhan, seperti yang tertulis dalam Kata yang Hilang yang disembunyikan kaum Freemason.

Namun sayang, dibandingkan novel-novel sebelumnya, novel ini terasa lebih filosofis dan kurang begitu terasa suspense-nya. Tampaknya Dan Brown ingin menguatkan kembali pesan yang disampaikannya di novel sebelumnya, bahwa agama dan teknologi sebenarnya adalah hal yang dapat berjalan secara bersama-sama.

Dalam novel ini Dan Brown menjelaskan bahwa agama yang cenderung mistis sebenarnya adalah teknologi yang belum dapat dijelaskan oleh akal manusia. Dan ilmu Noetic, adalah mata rantai yang hilang di antara keduanya. Ia menjelaskan bagaimana keajaiban dan mukjizat yang diceritakan dalam kitab suci agama-agama sebenarnya dapat dijelaskan dengan teknologi modern. Tapi sayangnya, entah kenapa Dan Brown tidak bercerita lebih jauh mengenai ilmu ini.

Super villain-nya juga mudah sekali ditebak. Tidak perlu sampai akhir cerita, saya bisa mengerti siapa sebenarnya dalang segala kejadian misterius. Mungkin Anda yang sudah khatam novel-novel Dan Brown pun tidak akan terlalu kesulitan menebak.

Tapi tetap saja, Dan Brown gitu loh, tetap saja saya merasa puas setelah menutup halaman terakhir, karena saya baru saja tercerahkan dengan filosofi-filosofi Dan Brown serta pengetahuan dan sejarah yang mencengangkan. Ya, saya baru sadar kalau para pendiri Amerika ternyata adalah orang-orang yang menganggap simbol-simbol bangsa kuno. Dan mereka berusaha memunculkan kembali simbol-simbol tersebut di Tanah Baru, di mana mereka jauh dari pengaruh monarki Eropa yang mengekang. Saya baru tahu bahwa:

1. Washington D.C sebenarnya diberi nama Rome oleh para founding fathers-nya Amerika

2. Obelisk terbesar di dunia ada di Washington, bukannya di Mesir

3. Gedung Capitol, gedung DPR-nya Amerika, adalah replika dari kuil Yunani yang dipadukan dengan Basilika St. Petrus di Vatikan.

4. Sama seperti Kapel Sistine di Vatikan, langit-langit bagian kubah (Rotunda) Capitol juga dilukis oleh seorang seniman. Bila Michaelangelo menggambar The Creation of Adam, maka di Capitol terdapat The Apotheosis of Washington karya Constantino Brumidi yang menceritakan George Washington yang naik level ke tingkat “Godlike”

5. Jiwa manusia memiliki massa dan dapat ditimbang dengan cara yang sangat sederhana.

6. Sandi kotak di pramuka ternyata adalah sandi milik Freemason.

Dan masih banyak misteri lain. Silakan baca sendiri kalau mau tahu. 😀

Oh ya, satu hal unik yang saya temukan adalah, Dan Brown memang menyebut sedikit plot cerita Angels and Demons serta Da Vinci Code sebagai masa lalu Langdon, tapi ia secara implisit novel pertamanya, Digital Fortress sebagai “novel thriller murahan”. :)) Pengarang yang aneh.