The Last Airbender

Saya adalah fans serial Nickelodeon, Avatar: The Last Airbender, atau yang di Indonesia berjudul The Legend of Aang. Maka gempar-lah saya saat melihat trailer film live-actionnya untuk pertama kali. Ini adalah salah satu film yang paling saya tunggu tahun ini. Akan tetapi ketika mengetahui bahwa sutradara film ini adalah M. Night Shyamalan yang popularitasnya menurun dalam beberapa tahun belakangan, saya jadi khawatir film ini akan menjadi seperti film Dragon Ball Evolution yang hancur itu.

The Last Airbender
The Last Airbender

Dan ya, saat akhirnya saat dirilis film ini banyak menuai kritik pedas. Shyamalan dinilai gagal mengadopsi serial TV yang dianggap lucu sekaligus menegangkan. Bahkan protes paling keras datang dari orang-orang yang menilai bahwa film ini sangat rasis. Jalan cerita yang harusnya berlatar belakang kebudayaan Asia justru dibawakan oleh aktor-aktor kulit putih. Justru tokoh-tokoh protagonis-nya yang diperankan oleh orang India.

Sampai di situ hilanglah sudah gairah saya menonton film ini. Saat akhirnya diputar di Indonesia, saya lebih memilih untuk menunggu sampai seminggu sebelum akhirnya menonton film ini di bioskop. Dan ketika akhirnya saya menonton film ini, saya sampai tidak tega menayangkan versi gagal dari serial favorit saya.

Apa saja kekurangan film ini? Continue reading

Advertisements