Fair Game

Fair Game
Fair Game

Invasi Amerika atas Iraq tahun 2003 memang masih menyisakan banyak tanda tanya. Apakah alasan yang dipakai George W. Bush bahwa Iraq tengah membuat senjata pemusnah massal memang benar adanya? Film ini mencoba memberi jawaban atas pertanyaan besar itu.

Valerie Plame, seorang agen CIA yang juga istri mantan diplomat Joe Wilson ditugaskan untuk menyelidiki isu pembelian uranium oleh Iraq dalam jumlah besar dari Nigeria. Karena Joe pernah bertugas di Nigeria, maka ia meminta bantuan suaminya itu untuk pergi ke sana dan melakukan penyelidikan.

Sesampainya di Nigeria, Joe menemukan fakta bahwa pembelian itu sebenarnya tidak pernah terjadi. Tapi saat CIA melaporkan hasil penyelidikan Joe ini, Scooter Libby, Asisten Wapres menganggap hasil tersebut salah dan memaksa CIA untuk kembali menyelidikinya, meski ujung-ujungnya hasil yang didapatkan tetap sama.

Continue reading “Fair Game”

Unstoppable

Unstoppable
Unstoppable (wikipedia)

Will Colson, seorang kondektur baru mau tidak mau harus bekerja sama dengan Frank Barnes, engineer tua yang menunggu hari-hari terakhirnya di perusahaan kereta lantaran dipaksa berhenti oleh para petinggi perusahaan tersebut. Will yang tengah bermasalah dengan rumah tangganya harus mendapatkan ceramah dari Frank, yang merasa posisinya diambil oleh orang-orang muda macam Will. Maka muncullah beberapa perselisihan di antara mereka saat menjalankan tugas.

Sementara itu, di bagian lain, Dewey, masinis kereta barang yang mengangkut bahan kimia berbahaya secara tidak sengaja kehilangan kendali atas keretanya. Kereta itu melaju dengan kecepatan penuh dan tanpa kontrol menuju kota yang ramai. Beberapa usaha coba dilakukan pihak perusahaan, tapi selalu gagal menghentikan kereta tersebut. Akhirnya Frank dan Will memutuskan untuk mencoba menghentikan coaster (kereta tanpa pengemudi) itu, meski harus melawan perintah petinggi perusahaan dan terancam dipecat dengan tidak hormat.

Continue reading “Unstoppable”

Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1

Harry Potter and the Deathly Hallows
Harry Potter and the Deathly Hallows

Dalam seluruh novel Harry Potter karya JK Rowling, seri ketujuh inilah yang paling unik dibandingkan yang lain. Karena selain merupakan judul terakhir, di mana sang protagonnis pada akhirnya harus mengalahkan antagonis yang jahat, hampir seluruh cerita di seri ketujuh ini tidak berlatar sekolah sihir Hogwarts. Alih-alih bercerita tentang Harry dan kehidupan sekolahnya, di sini Harry justru terlibat dalam perjalanan ala rombongan Hobbit di Lord of the Rings. Bedanya Harry tidak tahu kemana harus pergi, karena ia berusaha mencari Horcrux, pecahan jiwa Lord Voldemort yang ia sendiri bahkan tak tahu bagaimana bentuknya.

Continue reading “Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1”

The Last Airbender

Saya adalah fans serial Nickelodeon, Avatar: The Last Airbender, atau yang di Indonesia berjudul The Legend of Aang. Maka gempar-lah saya saat melihat trailer film live-actionnya untuk pertama kali. Ini adalah salah satu film yang paling saya tunggu tahun ini. Akan tetapi ketika mengetahui bahwa sutradara film ini adalah M. Night Shyamalan yang popularitasnya menurun dalam beberapa tahun belakangan, saya jadi khawatir film ini akan menjadi seperti film Dragon Ball Evolution yang hancur itu.

The Last Airbender
The Last Airbender

Dan ya, saat akhirnya saat dirilis film ini banyak menuai kritik pedas. Shyamalan dinilai gagal mengadopsi serial TV yang dianggap lucu sekaligus menegangkan. Bahkan protes paling keras datang dari orang-orang yang menilai bahwa film ini sangat rasis. Jalan cerita yang harusnya berlatar belakang kebudayaan Asia justru dibawakan oleh aktor-aktor kulit putih. Justru tokoh-tokoh protagonis-nya yang diperankan oleh orang India.

Sampai di situ hilanglah sudah gairah saya menonton film ini. Saat akhirnya diputar di Indonesia, saya lebih memilih untuk menunggu sampai seminggu sebelum akhirnya menonton film ini di bioskop. Dan ketika akhirnya saya menonton film ini, saya sampai tidak tega menayangkan versi gagal dari serial favorit saya.

Apa saja kekurangan film ini? Continue reading “The Last Airbender”

Under the Iron Sky

Iron Sky adalah film sci-fi komedi produksi Finlandia yang mengambil tema “Nazis on the Moon”, sebuah teori konspirasi mengenai kaum Nazi yang pergi ke bulan jauh sebelum Neil Amstrong, dan membentuk koloni di bagian bulan yang membelakangi Bumi (Far Side of the Moon). Dalam Iron Sky, diceritakan tahun 2018 keturunan para Nazi akan kembali ke Bumi dan mengambil alih dunia.

Iron Sky (2011)
Iron Sky (2011)

Dalam teori “Nazis on the Moon” diceritakan bahwa pada saat Perang Dunia II, Nazi sudah memiliki teknologi yang jauh melebihi tentara Sekutu. Maka ketika Nazi mulai terdesak, mereka mengirimkan ilmuwan-ilmuwan paling jenius di Jerman ke sebuah markas rahasia di Antartika untuk membangun pesawat antariksa yang akan dipakai melarikan diri ke bulan.

Continue reading “Under the Iron Sky”

Prince of Persia: The Sands of Time

Yak, ini dia film yang paling saya tunggu-tunggu tahun ini. Mau bagaimana lagi, saya sudah terlanjur cinta kepada franchise Prince of Persia sejak memainkan game-nya sekitar tahun 2003 lalu. Ya, meski tidak se-kaffah masova yang ternyata tahu seri-seri yang lebih lama. Film ini diangkat dari game berjudul sama yang dilincurkan tahun 2001 yang lalu. Meski begitu, film ini hanya mengambil elemen-elemen pentingnya tapi tidak mengadaptasi jalan cerita di game.

Prince of Persia: The Sands of Time
Prince of Persia: The Sands of Time

Syahdan di negeri Persia, sang Raja Sharaman mengadopsi seorang anak jalanan bernama Dastan untuk menjadi putra ketiganya. Ketika ia dewasa, Dastan bersama dua kakaknya, Garsiv dan Tus, menjadi panglima perang kepercayaan rajanya. Ketika dalam suatu ekspedisi, Tus yang paling tua, memutuskan untuk menyerang kota suci Alamut, karena berdasarkan informasi paman mereka, Nizam, kota itu berkhianat kepada Persia dengan membuat senjata untuk musuh-musuhnya. Dastan yang sebelumnya menolak ide ini, akhirnya setuju saat kakaknya berkeras dengan rencana itu. Malah, ia menjadi bintang penyerangan itu, karena berhasil menyusup masuk dan memberi jalan bagi pasukan Persia.

Setelah Alamut jatuh, Dastan menemukan sebuah belati aneh yang ia dapatkan setelah mengalahkan seorang perwira di sana. Sang kakak, Tus, juga memperoleh hadiahnya sendiri, sang putri cantik penguasa Alamut, bernama Tamina yang ia ingin nikahi. Semua tampak sempurna sampai ketika sang Raja datang. Dastan, dengan nasihat kakaknya, memberi hadiah sebuah jubah suci kepada ayah angkatnya itu. Tapi ketika sang Raja memakainya, jubah tersebut mengeluarkan racun yang seketika membunuhnya. Dastan pun dicap sebagai pembunuh dan pengkhianat. Ia, dengan bantuan Tamina berusaha melarikan diri dan membersihkan nama baiknya. Sampai akhirnya dia mengetahui kekuatan yang ada di belati yang didapatkannya.

Meski tidak seperti di game, saya tetap merasa puas ketika selesai menonton film ini. Aroma petualangan yang disajikan tetap terasa seru, meski bagian akrobatik dan puzzle yang menjadi ciri khas di game tidak begitu mendalam.

Jordan Mechner, sang pencipta tokoh Prince of Persia, seperti sedang balas dendam karena tokoh ciptaannya ini digambarkan begitu kejam di lanjutan game Prince of Persia (Prince of Persia: Warrior Within & Prince of Persia: Two Thrones). Maka sebagai gantinya, ia me-reboot ceritanya dengan menampilkan sosok Prince Dastan yang meski ugal-ugalan tapi tetap cool dan baik hati. Bahkan menurut wikipedia, ia tidak akan mengambil elemen-elemen dari kedua game tersebut untuk sekuel filmnya. Sebenarnya sayang juga sih, karena tokoh Kaileena yang hot itu tidak akan muncul 😛

Hanya satu dosa besar yang menurut saya dilakukan oleh film ini: yaitu memberi nama sang pangeran. Ya, di setiap game-nya sang Pangeran tidak pernah disebut namanya, hanya dipanggil sebagai “the Prince”. Seandainya hal itu masih dipertahankan di film, sempurna sudah film ini. *lebay*

Oh ya, kalau Anda menonton film ini tepat setelah / sebelum Shrek 4: Forever After, maka Anda akan sedikit deja vu, karena endingnya mirip. 😀

Movie: Legion

Saya tertarik untuk menonton film ini setelah membaca kalimat pertama di artikel 21 Cineplex yang membahas film ini: “Setelah Tuhan kehilangan kepercayaan kepada manusia“. Sangat mengundang rasa keingin tahuan saya. Memang dari dulu saya suka dengan film / buku yang bercerita tentang masalah yang sangat sensitif tersebut. Tuhan. Apalagi dengan bumbu narasi dan plot yang bagus.

Legion
Legion

Jadi, cerita dimulai dengan sesosok “orang” yang jatuh di sebuah malam yang basah. Siluet orang tersebut menunjukkan sebuah benda di punggungnya, yang seharusnya tidak ada di sana. Sepasang sayap. Yap, bisa ditebak, manusia dengan sayap adalah penggambaran umum untuk seorang malaikat. Si malaikat ini (Paul Bettany) kemudian entah kenapa menyayat kedua sayapnya dan pergi ke sebuah bangunan yang menyimpan segudang senjata modern.

Lalu cerita beralih ke pinggiran gurun Mojave, dimana Charlie (Adrianne Palicki), seorang gadis pelayan dan Jeep (Lucas Black), anak si pemilik restoran tinggal. Charlie diceritakan tengah mengandung anak dari pacarnya yang tidak bertanggung jawab. Sementara Jeep menaruh hati padanya dan ingin mengasuh serta membesarkan anak Charlie. Kehidupan Charlie, Jeep dan keluarganya yang biasanya sepi tiba-tiba berubah saat datang seorang nenek. Nenek tersebut tiba-tiba berubah menjadi semacam monster penghisap darah dan menyerang pengujung restoran kecil tersebut. Beruntung Kyle (Tyrese Gibson), seorang pengujung, berhasil menembaknya hingga mati. Mereka bingung dan ketakutan hingga datang malaikat yang muncul di awal film.

Malaikat ini menjelaskan bahwa Tuhan sudah kecewa dengan manusia. Maka Dia memutuskan untuk mengakhiri dunia saja dan para malaikat, anak buah-Nya yang paling loyal, diperintahkan untuk menghabisi seluruh manusia. Tapi Michael sang malaikat, merasa bahwa Tuhan bertindak terlalu tergesa-gesa dan berusaha untuk mencegah Kiamat yang segera datang. Maka ia turun ke Bumi dan berusaha menyelamatkan anak dalam kandungan Charlie, yang ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia.

Yaaa… Film ini sih lumayan bagus. Tapi saya kurang sreg dengan beberapa detil-nya. Masak Tuhan bertingkah seperti anak kecil yang ngambek karena tidak dituruti keinginannya. Memang dalam film-film semacam ini, seperti juga dalam Constantine, Tuhan sering dianggap sebagai “anak kecil” yang memiliki kekuatan tak terbatas. Tapi dalam film Legion ini, saya kok ngrasanya Dia lebih childish lagi. 😆

Lalu malaikatnya juga kurang cool. Masak si Gabriel (Kevin Durand), sang archangel bisa kena tembak? Hal yang membedakan malaikat dengan manusia cuma dari sayap dan kekuatannya saja. Tapi pas ditembak tetap saja berdarah 😐 . Soal anak Charlie juga, apa yang membuat anak itu begitu spesial? Menurut 21 Cineplex sih, katanya anak itu adalah Yesus Kristus yang akan datang kembali ke dunia untuk kedua kalinya dan menjadi Juru Selamat. Tapi dalam film sama sekali tidak disebut tentang itu. Mungkin itu disimpan untuk sekuel-nya, karena endingnya juga terasa nanggung.

Overall, film ini bagus. Tapi untuk tema film seperti ini, saya lebih suka Constantine.
*ambigu yo ben*

Oh ya, saya dapat istiliah baru dari film ini: kerasukan malaikat. 😆

(gambar dari wikipedia)