Categories
Movie

The Last Airbender

Saya adalah fans serial Nickelodeon, Avatar: The Last Airbender, atau yang di Indonesia berjudul The Legend of Aang. Maka gempar-lah saya saat melihat trailer film live-actionnya untuk pertama kali. Ini adalah salah satu film yang paling saya tunggu tahun ini. Akan tetapi ketika mengetahui bahwa sutradara film ini adalah M. Night Shyamalan yang popularitasnya menurun dalam beberapa tahun belakangan, saya jadi khawatir film ini akan menjadi seperti film Dragon Ball Evolution yang hancur itu.

The Last Airbender
The Last Airbender

Dan ya, saat akhirnya saat dirilis film ini banyak menuai kritik pedas. Shyamalan dinilai gagal mengadopsi serial TV yang dianggap lucu sekaligus menegangkan. Bahkan protes paling keras datang dari orang-orang yang menilai bahwa film ini sangat rasis. Jalan cerita yang harusnya berlatar belakang kebudayaan Asia justru dibawakan oleh aktor-aktor kulit putih. Justru tokoh-tokoh protagonis-nya yang diperankan oleh orang India.

Sampai di situ hilanglah sudah gairah saya menonton film ini. Saat akhirnya diputar di Indonesia, saya lebih memilih untuk menunggu sampai seminggu sebelum akhirnya menonton film ini di bioskop. Dan ketika akhirnya saya menonton film ini, saya sampai tidak tega menayangkan versi gagal dari serial favorit saya.

Apa saja kekurangan film ini?

Categories
Movie

Under the Iron Sky

Iron Sky adalah film sci-fi komedi produksi Finlandia yang mengambil tema “Nazis on the Moon”, sebuah teori konspirasi mengenai kaum Nazi yang pergi ke bulan jauh sebelum Neil Amstrong, dan membentuk koloni di bagian bulan yang membelakangi Bumi (Far Side of the Moon). Dalam Iron Sky, diceritakan tahun 2018 keturunan para Nazi akan kembali ke Bumi dan mengambil alih dunia.

Iron Sky (2011)
Iron Sky (2011)

Dalam teori “Nazis on the Moon” diceritakan bahwa pada saat Perang Dunia II, Nazi sudah memiliki teknologi yang jauh melebihi tentara Sekutu. Maka ketika Nazi mulai terdesak, mereka mengirimkan ilmuwan-ilmuwan paling jenius di Jerman ke sebuah markas rahasia di Antartika untuk membangun pesawat antariksa yang akan dipakai melarikan diri ke bulan.

Categories
Movie

Prince of Persia: The Sands of Time

Yak, ini dia film yang paling saya tunggu-tunggu tahun ini. Mau bagaimana lagi, saya sudah terlanjur cinta kepada franchise Prince of Persia sejak memainkan game-nya sekitar tahun 2003 lalu. Ya, meski tidak se-kaffah masova yang ternyata tahu seri-seri yang lebih lama. Film ini diangkat dari game berjudul sama yang dilincurkan tahun 2001 yang lalu. Meski begitu, film ini hanya mengambil elemen-elemen pentingnya tapi tidak mengadaptasi jalan cerita di game.

Prince of Persia: The Sands of Time
Prince of Persia: The Sands of Time

Syahdan di negeri Persia, sang Raja Sharaman mengadopsi seorang anak jalanan bernama Dastan untuk menjadi putra ketiganya. Ketika ia dewasa, Dastan bersama dua kakaknya, Garsiv dan Tus, menjadi panglima perang kepercayaan rajanya. Ketika dalam suatu ekspedisi, Tus yang paling tua, memutuskan untuk menyerang kota suci Alamut, karena berdasarkan informasi paman mereka, Nizam, kota itu berkhianat kepada Persia dengan membuat senjata untuk musuh-musuhnya. Dastan yang sebelumnya menolak ide ini, akhirnya setuju saat kakaknya berkeras dengan rencana itu. Malah, ia menjadi bintang penyerangan itu, karena berhasil menyusup masuk dan memberi jalan bagi pasukan Persia.

Setelah Alamut jatuh, Dastan menemukan sebuah belati aneh yang ia dapatkan setelah mengalahkan seorang perwira di sana. Sang kakak, Tus, juga memperoleh hadiahnya sendiri, sang putri cantik penguasa Alamut, bernama Tamina yang ia ingin nikahi. Semua tampak sempurna sampai ketika sang Raja datang. Dastan, dengan nasihat kakaknya, memberi hadiah sebuah jubah suci kepada ayah angkatnya itu. Tapi ketika sang Raja memakainya, jubah tersebut mengeluarkan racun yang seketika membunuhnya. Dastan pun dicap sebagai pembunuh dan pengkhianat. Ia, dengan bantuan Tamina berusaha melarikan diri dan membersihkan nama baiknya. Sampai akhirnya dia mengetahui kekuatan yang ada di belati yang didapatkannya.

Meski tidak seperti di game, saya tetap merasa puas ketika selesai menonton film ini. Aroma petualangan yang disajikan tetap terasa seru, meski bagian akrobatik dan puzzle yang menjadi ciri khas di game tidak begitu mendalam.

Jordan Mechner, sang pencipta tokoh Prince of Persia, seperti sedang balas dendam karena tokoh ciptaannya ini digambarkan begitu kejam di lanjutan game Prince of Persia (Prince of Persia: Warrior Within & Prince of Persia: Two Thrones). Maka sebagai gantinya, ia me-reboot ceritanya dengan menampilkan sosok Prince Dastan yang meski ugal-ugalan tapi tetap cool dan baik hati. Bahkan menurut wikipedia, ia tidak akan mengambil elemen-elemen dari kedua game tersebut untuk sekuel filmnya. Sebenarnya sayang juga sih, karena tokoh Kaileena yang hot itu tidak akan muncul 😛

Hanya satu dosa besar yang menurut saya dilakukan oleh film ini: yaitu memberi nama sang pangeran. Ya, di setiap game-nya sang Pangeran tidak pernah disebut namanya, hanya dipanggil sebagai “the Prince”. Seandainya hal itu masih dipertahankan di film, sempurna sudah film ini. *lebay*

Oh ya, kalau Anda menonton film ini tepat setelah / sebelum Shrek 4: Forever After, maka Anda akan sedikit deja vu, karena endingnya mirip. 😀

Categories
Agama & Tuhan Movie

Movie: Legion

Saya tertarik untuk menonton film ini setelah membaca kalimat pertama di artikel 21 Cineplex yang membahas film ini: “Setelah Tuhan kehilangan kepercayaan kepada manusia“. Sangat mengundang rasa keingin tahuan saya. Memang dari dulu saya suka dengan film / buku yang bercerita tentang masalah yang sangat sensitif tersebut. Tuhan. Apalagi dengan bumbu narasi dan plot yang bagus.

Legion
Legion

Jadi, cerita dimulai dengan sesosok “orang” yang jatuh di sebuah malam yang basah. Siluet orang tersebut menunjukkan sebuah benda di punggungnya, yang seharusnya tidak ada di sana. Sepasang sayap. Yap, bisa ditebak, manusia dengan sayap adalah penggambaran umum untuk seorang malaikat. Si malaikat ini (Paul Bettany) kemudian entah kenapa menyayat kedua sayapnya dan pergi ke sebuah bangunan yang menyimpan segudang senjata modern.

Lalu cerita beralih ke pinggiran gurun Mojave, dimana Charlie (Adrianne Palicki), seorang gadis pelayan dan Jeep (Lucas Black), anak si pemilik restoran tinggal. Charlie diceritakan tengah mengandung anak dari pacarnya yang tidak bertanggung jawab. Sementara Jeep menaruh hati padanya dan ingin mengasuh serta membesarkan anak Charlie. Kehidupan Charlie, Jeep dan keluarganya yang biasanya sepi tiba-tiba berubah saat datang seorang nenek. Nenek tersebut tiba-tiba berubah menjadi semacam monster penghisap darah dan menyerang pengujung restoran kecil tersebut. Beruntung Kyle (Tyrese Gibson), seorang pengujung, berhasil menembaknya hingga mati. Mereka bingung dan ketakutan hingga datang malaikat yang muncul di awal film.

Malaikat ini menjelaskan bahwa Tuhan sudah kecewa dengan manusia. Maka Dia memutuskan untuk mengakhiri dunia saja dan para malaikat, anak buah-Nya yang paling loyal, diperintahkan untuk menghabisi seluruh manusia. Tapi Michael sang malaikat, merasa bahwa Tuhan bertindak terlalu tergesa-gesa dan berusaha untuk mencegah Kiamat yang segera datang. Maka ia turun ke Bumi dan berusaha menyelamatkan anak dalam kandungan Charlie, yang ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia.

Yaaa… Film ini sih lumayan bagus. Tapi saya kurang sreg dengan beberapa detil-nya. Masak Tuhan bertingkah seperti anak kecil yang ngambek karena tidak dituruti keinginannya. Memang dalam film-film semacam ini, seperti juga dalam Constantine, Tuhan sering dianggap sebagai “anak kecil” yang memiliki kekuatan tak terbatas. Tapi dalam film Legion ini, saya kok ngrasanya Dia lebih childish lagi. 😆

Lalu malaikatnya juga kurang cool. Masak si Gabriel (Kevin Durand), sang archangel bisa kena tembak? Hal yang membedakan malaikat dengan manusia cuma dari sayap dan kekuatannya saja. Tapi pas ditembak tetap saja berdarah 😐 . Soal anak Charlie juga, apa yang membuat anak itu begitu spesial? Menurut 21 Cineplex sih, katanya anak itu adalah Yesus Kristus yang akan datang kembali ke dunia untuk kedua kalinya dan menjadi Juru Selamat. Tapi dalam film sama sekali tidak disebut tentang itu. Mungkin itu disimpan untuk sekuel-nya, karena endingnya juga terasa nanggung.

Overall, film ini bagus. Tapi untuk tema film seperti ini, saya lebih suka Constantine.
*ambigu yo ben*

Oh ya, saya dapat istiliah baru dari film ini: kerasukan malaikat. 😆

(gambar dari wikipedia)

Categories
budaya Movie social Technology

Surrogates: A More Modern, Meaningless Life

Surrogates
Surrogates

Bumi 17 tahun di masa mendatang. Teknologi manusia diceritakan mencapai puncak tertinggi. Revolusi paling besar dalam sejarah umat manusia. Surrogates, adalah istilah untuk menyebut robot pengganti manusia. Dengan Surrogates, manusia tidak perlu melakukan semua aktivitas outdoor-nya dengan diri mereka sendiri. Mereka cukup mengendalikan robot mereka dari dalam rumah menggunakan semacam sensor yang dihubungkan dengan otak mereka. Dikatakan sebagai revolusi terbesar dalam sejarah umat manusia, karena dengan Surrogates, mereka bisa tetap beraktivitas tanpa khawatir terkena masalah. Mereka bisa berkendara tanpa khawatir cedera karena kecelakaan lalu lintas. Mereka bisa berhubungan dengan orang lain tanpa tertular penyakit.

Cerita film ini sendiri dimulai ketika 2 buah Surrogates ditemukan hancur. Belakangan diketahui bahwa “pilot” kedua robot tersebut ternyata ikut mati. Hal yang menghancurkan Surrogates mereka ternyata ikut membunuh mereka, padahal salah satu fitur Surrogates adalah sang pengendali tak perlu khawatir mendapat cedera seandainya terjadi kecelakaan terhadap Surrogates mereka. Agen FBI Tom Greer (Bruce Willis) ditugaskan menyelidiki hal ini. Ia menemukan bahwa kedua Surrogates tersebut diserang oleh seseorang menggunakan sebuah senjata misterius yang dapat menghancurkan Surrogates sekaligus menembus sistem pertahanan yang melindungi pengendalinya. Kasus tersebut semakin dalam saat diketahui bahwa salah satu Surrogates yang hancur adalah milik Dr. Lionel Carter (James Cromwell), penemu Surrogates. Pengendali Surrogates tersebut, yang ikut mati adalah putranya, Jared Carter.

Greer berhasil melacak penyerang kedua Surrogates tersebut. Ia adalah salah seorang dread, orang-orang yang menentang penggunaan Surrogates atas dasar moral dan agama. Sayang dalam pengejarannya, Surrogates milik Greer dihancurkan para dread. Greer memutuskan untuk melanjutkan pengejarannya dengan dirinya sendiri, tanpa robot pengganti. Tapi sayang, sang penyerang telah ditemukan tewas. Greer curiga bahwa sang Prophet, pemimpin para dread ada di balik peristiwa tersebut.

Di sisi lain, ia mengalami masalah rumah tangga dengan istrinya, yang selalu menggunakan Surrogates tanpa pernah menjalani kehidupan dengan dirinya sendiri. Istrinya masih mengalami trauma karena mereka telah kehilangan putra mereka satu-satunya dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Dari segi cerita, film ini memang cukup bagus. Meski terdapat beberapa “hole”, tapi alurnya cukup menarik untuk diikuti. Banyak twist yang terjadi yang cukup mengejutkan, meski mungkin dapat dengan mudah ditebak oleh Anda yang sering menonton film macam begini.

Tapi ada satu hal lain yang membuat saya suka film ini, yaitu pesan moralnya. Bahwa tindakan manusia yang semakin mengeksploitasi ilmu pengetahuan justru membuat mereka semakin kehilangan arti hidup. Sains yang diciptakan untuk membantu hidup mereka justru malah membuat manusia lupa siapa diri mereka sebenarnya. Surrogates ini adalah salah satu contohnya, bagaimana manusia telah kehilangan arti diri mereka. Apa pentingnya tubuh mereka, jika mereka bisa menggunakan sebuah tubuh yang tidak bisa merasa sakit. Definisi manusia sendiri telah menyempit menjadi sebuah gumpalan sel bernama otak. Ya, hanya otak lah satu-satunya tanda keberadaan manusia.

Cogito ergo sum, memang Descartes pernah mengatakan hal tersebut. Tapi ada alasan kenapa Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan perangkat tubuhnya, tak hanya dengan segumpal otak untuk berpikir dan merasakan kenikmatan saja. Agar manusia sadar, bahwa dirinya adalah makhluk lemah, yang dapat merasakan sakit. Agar mereka tahu, bahwa ada batas-batas di setiap perbuatan mereka. Agar mereka tidak semena-mena terhadap diri mereka dan orang lain.

Saya teringat kepada film lain yang juga bercerita tentang manusia yang sudah keblabasan: Wall-E. Dalam film animasi tersebut, bahkan manusia sudah lupa cara berjalan. Mereka tidak perlu repot-repot melakukan aktivitas yang dapat melelahkan, karena mereka sudah punya alat yang dapat menyediakan kebutuhan mereka serta mampu membawa mereka kemana-mana.

Ah, memang selalu ada dua sisi koin. Teknologi memang dapat membantu kehidupan kita, tapi bila digunakan secara berlebihan, kita sendiri yang akan mengalami kerugian. Itulah kenapa beberapa hari ini saya sempat absen dari dunia maya dan lebih fokus kepada kehidupan nyata saya. 🙂

Kapan ya, ada film Indonesia dengan aksi keren plus pesan moral yang bagus kayak begini? 🙄

Categories
Hobbies Movie

Star Trek

Star Trek
Star Trek

Kemarin malam, setelah mendapat bantuan finansial, akhirnya saya menonton film ini. Awalnya saya tidak terlalu tertarik, karena seri Star Trek sendiri masih asing bagi saya. Film dan serial TV-nya sih memang sudah sangat terkenal, tapi entah kenapa saya enggan untuk menelusuri. Tapi yah, gara-gara banyak rekomendasi serta review yang mengatakan bahwa film ini memang bagus, (bahkan Rotten Tomattoes memberikan rating 95%) saya jadi penasaran, seperti apa sih film ini.

* spoiler alert *

Film dimulai saat pesawat Armada Bintang USS Kelvin sedang memeriksa sebuah lubang hitam. Tiba-tiba dari lubang hitam tersebut muncul sebuah pesawat raksasa dan segera menembaki Kelvin. Saat sudah hampir hancur, Nero, seorang bangsa Romulan yang juga kapten pesawat asing tersebut menghubungi Kelvin dan meminta kapten-nya untuk datang ke pesawat dan melakukan perundingan. Sesaat sebelum pergi, Kapten Robau mengangkat perwira utamanya, George Kirk, untuk menjadi kapten dan mengambil alih pesawat. Benar saja, saat melakukan perundingan di pesawat asing tersebut, Nero membunuh Kapten Robau dan memerintahkan anak buahnya untuk mengahancurkan Kelvin. George segera memerintahkan seluruh awak pesawat untuk melakukan evakuasi dengan pesawat sekoci, termasuk istrinya yang akan melahirkan. George sendiri terpaksa tinggal di USS Kelvin dan terus melakukan perlawanan agar pesawat asing tersebut tidak menyerang pesawat sekoci. Pada saat-saat terakhir, saat ia akan menabrakkan USS Kelvin, ia masih berkomunikasi dengan istrinya, yang saat itu sudah melahirkan putranya. George memberinya nama Jim sebelum akhirnya pesawatnya meledak.

25 tahun kemudian, James Tiberius Kirk telah tumbuh dewasa. Ia adalah pemuda yang cerdas, tapi selalu bertingkah ugal-ugalan. Setelah mengalami perkelahian dan mendapat wejangan dari Kapten Pike, Kirk akhirnya bersedia bergabung dengan Akademi Starfleet. Kapten Pike memberinya tantangan untuk menyamai kehebatan ayahnya, yang menjadi kapten selama 12 menit tapi telah menyelamatkan 800 nyawa. Di dalam akademi tersebut, Kirk mengambil tes Kobayashi Maru, sebuah simulasi untuk menyelamatkan sebuah pesawat. Dalam usahanya yang ketiga, Kirk dengan santainya menyelesaikan tes tersebut, sehingga memunculkan kecurigaan dari para pengujinya. Benar saja, Kirk langsung dituduh telah memprogram ulang tes tersebut oleh sang pencipta tes tersebut, Spock. Saat tengah beradu argumen tentang tes tersebut, masuk laporan bahwa di planet Vulcan, kampung halaman Spock telah terjadi sebuah bencana. Komando Starfleet segera memerintahkan bantuan evakuasi ke Vulcan.

Kirk, yang tengah dalam masa skorsing, ternyata tidak disertakan dalam misi tersebut. Tapi dengan bantuan temannya Leonard McCoy, yang memiliki keahlian medis, Kirk dapat menyusup ke dalam pesawat baru Starfleet, USS Enterprise. Saat berada di dalam Enterprise, Kirk menyadari bahwa gejala yang terjadi Vulcan sama dengan gejala yang terjadi saat hari kelahirannya, atau saat pesawat ayahnya diserang dan dihancurkan oleh pesawat asing milik bangsa Romulan. Ia segera memperingatkan kapten USS Enterprise, Kapten Pike untuk menghentikan misi, karena mungkin itu adalah jebakan dari bangsa Romulan. Tapi Kapten Pike, dengan saran logis dari perwira utamanya, Spock, meneruskan misi. Benar saja, setelah melakukan warp, mereka melihat sebuah pesawat raksasa telah menghancurkan pesawat Starfleet yang lain dan sedang mengebor ke dalam planet Vulcan. Narada, pesawat Romulan itu, juga hampir menghancurkan Enterprise ketika kapten Nero memberi perintah untuk berhenti. Ia juga menghubungi Enterprise dan meminta sang kapten untuk datang ke pesawatnya untuk berunding. Sama seperti yang dilakukannya 25 tahun yang lalu.

Categories
Movie

Terminator Salvation

Terminator Salvation
Terminator Salvation

Bisa dibilang, film ini adalah salah satu film yang saya tunggu tahun ini. Karena katanya, film ini adalah the missing link, yang menjelaskan tentang asal muasal cerita di 3 film pertama.

Film ini dimulai dengan cerita di tahun 2003, di mana seorang terpidana mati bernama Marcus, memberikan tubuhnya untuk digunakan sebagai riset sains. Kemudian beralih ke masa depan, di mana John Connor, tokoh sentral dalam serial ini, telah tumbuh dewasa dan ikut dalam sebuah misi untuk merebut informasi dari pihak mesin. John Connor sendiri di mata para pemberontak adalah sang juru selamat, yang diramalkan akan mengakhiri perang antara manusia melawan mesin. Dalam misi tersebut, John menjadi satu-satunya yang selamat setelah seluruh pasukan dibombardir oleh pasukan mesin. Tanpa diketahui John, dalam misi tersebut mereka membangunkan sosok Marcus yang telah dieksekusi 15 tahun yang lalu.

Categories
Movie

Watchmen

Watchmen
Watchmen

Hari Sabtu kemarin, saya dan beberapa orang teman menonton film ini saat midnight. Kebetulan hari itu hari pertama film ini tayang di bioskop 21. Ya, dari judulnya saja bisa ditebak kalau film ini adalah film superhero. Tapi jangan berharap ini film seperti superhero yang “biasa” di mana sang tokoh utama dengan kekuatannya menghajar musuh-musuh yang mencoba menguasai dunia. Ini film yang penuh dengan intrik & konflik tapi dengan bumbu ala superhero.

Categories
Movie

Wanted

Jika Anda diperintah untuk melakukan sesuatu atas nama takdir, tanpa Anda tahu kenapa dan untuk apa, hanya takdir, bagaimana Anda akan bersikap? Sentilan itulah yang saya tangkap dalam film yang sadis ini.

[SPOILER ALERT]

Cerita bermula saat seorang pria bernama Mr. X beradu tembak dengan beberapa penembak jitu di atas sebuah gedung. Mr. X yang merupakan salah satu pembunuh paling hebat dapat mengatasi musuh-musuhnya dengan mudah. Akan tetapi ketika semua musuhnya telah mati, ia baru menyadari bahwa itu semua adalah jebakan yang dirancang oleh Cross, musuhnya, yang telah membidiknya dari jarak yang sangat jauh. Peluru Cross pun akhirnya menembus kepala Mr. X.

Categories
Movie

Hancock

Tak selamanya superhero itu “baik”. Mungkin itulah maksud yang ingin disampaikan oleh sutradara film ini. Tokoh utama film ini, John Hancock, yang mempunyai kekuatan super, tidaklah seperti yang superhero pada umumnya. Ia bukanlah superhero yang dicintai warga Los Angeles. Hampir semua orang membencinya, baik itu pihak yang jahat, karena ia menumpas mereka, serta warga kota yang lain, karena ia benar-benar slengekan dan tidak terkendali. Kerusakan yang disebabkannya jauh lebih besar dibandingkan dengan yang ditimbulkan oleh para penjahat ketika beraksi.

[SPOILER ALERT]

Di awal cerita, John Hancock beraksi dengan menangkap sekelompok geng mafia yang melarikan diri dengan mobil. Anggota geng itu bersenjata serta berbahaya. Hancock, yang memiliki kekuatan layaknya Superman, tanpa kesulitan mengatasi mereka. Tapi gara-gara sifat ugal-ugalannya, bukannya terima kasih yang diterimanya, justru warga kota dan polisi mencaci maki dirinya lantaran ia meledakkan mobil polisi yang mengejar, merusak jalan tol, serta menancapkan mobil mafia itu di atap pencakar langit. Bahkan ketika terbang saja, ia sambil mabuk dan menenggak alkohol.

Sementara itu, Ray Embrey, yang gagal dalam rapat mempromosikan program amalnya kepada perusahaan besar, menghadapi bahaya maut. Mobilnya macet di tengah perlintasan kereta saat sebuah kereta api tengah melaju kencang ke arahnya. Saat kereta sudah sangat dekat, Hancock pun muncul dan menyelamatkannya, tentu saja dengan cara yang “tidak biasa”. Bukannya terbang membawa mobil Ray, Hancock malah menghentikan kereta dengan menabrakkan dirinya ke lokomotif, yang membuat semua gerbong kereta berhamburan ke jalan.

Saat itulah titik balik kehidupan Hancock. Di saat orang mencaci maki dirinya, Ray justru berterima kasih dan menawarkan cara untuk mengubah kehidupan serta pandangan orang lain terhadap Hancock. Hancock yang awalnya tak setuju, merasa tertarik. Diapun menuruti semua saran Ray untuk mengubah citra dirinya, termasuk bersedia untuk dipenjara atas keugal-ugalannya.

Benar saja, hanya beberapa minggu Hancock menghilang, kejahatan di Los Angeles menigkat tajam. Puncaknya adalah sebuah perampokan di sebuah bank di mana para pelakunya bersenjata lengkap serta membawa bahan peledak. Hancock, yang sebelumnya telah mendapatkan seragam superhero baru, serta diajari tata krama serta oleh Ray, kembali diharapkan oleh warga kota. Dan diapun sukses menangkap para penjahat serta membuat warga kota terkejut dengan perubahan sikapnya.

Semenjak itu, hubungan Hancock dan Ray semakin dekat. Dari kedekatan itulah, Hancock mengetahui bahwa Mary, istri Ray ternyata juga mempunyai kekuatan seperti dirinya. Hancock pun mulai mengingat kembali hal-hal yang dilupakannya semenjak ia mengalami amnesia 80 tahun yang lalu. Sebuah fakta yang ternyata membahayakan dirinya serta keluarga Ray, bahwa sebenarnya Mary adalah istri Hancock yang juga sesama makhluk super.

Dalam kehidupan makhluk super seperti Hancock dan Mary, dua orang super yang memiliki hubungan dekat, apalagi menikah, akan kehilangan kekuatannya, agar mereka bisa merasakan kehidupan sebagai manusia biasa. Nah, pada saat Hancock dan Mary kehilangan kekuatannya inilah, para perampok bank yang ditangkap Hancock melarikan diri dari penjara dan membalas dendam pada Hancock yang telah sepenuhnya menjadi manusia biasa. Meski akhirnya berhasil mengatasi mereka, Hancock serta Mary mengalami luka yang cukup fatal. Maka agar mereka berdua dapat bertahan, Hancock menjauh dari Mary untuk memperolah kekuatannya kembali.

Ternyata selama menjauh itu, Hancock menggambar hati lambang program amal Ray di bulan, sebagai bentuk terima kasihnya pada Ray.

[/SPOILER ALERT]

Film ini mendapat respon yang cukup buruk dari para kritikus, termasuk juga saya. Setidaknya penilaian saya adalah “tidak terlalu bagus”. Dengan awal yang cukup memukau, ceritanya mulai ngelantur dan bisa dikatakan tidak konsisten di tengah sampai akhir. Jika makhluk super akan kehilangan kekuatannya saat berdekatan, kenapa pada awal cerita saat pertama bertemu dengan Mary, Hancock masih perkasa? Mereka berdua bahkan sempat bertarung dengan kekuatan super masing-masing.

Asal-usul Hancock sendiri, bagi saya, terlalu kabur dan tidak jelas, sehingga sulit untuk mengatakan apa dan siapa sebenarnya dirinya. Tapi di samping semua itu, film ini cukup menghibur, apalagi dengan konsep berbeda yang ditawarkan. Lucu juga melihat seorang super hero ugal-ugalan, tidak “serius” seperti superhero pada umumnya. Why so serious? 😀

Rating: =D>