Catatan Harian Si Boy

Catatan Harian Si Boy
Catatan Harian Si Boy

Musim panas hampir berlalu di negara bermusim empat. Liburan sekolah di sana juga hampir berakhir. Daaaan, kita yang Indonesia dengan sukses berhasil melewatkan semua film blockbuster alias film keren yang biasanya membanjiri bioskop di bulan-bulan seperti ini.

Menyebalkan? Memang. Film-film favorit baik yang digemari karena jalan cerita, tokoh, ataupun efek grafisnya harus menunggu entah sampai kapan untuk bisa ditonton. Tapi selalu ada hikmah di balik semua hal. Lumayan lah, bisa nambah tabungan beberapa bulan ini. Biasanya selalu ada duit yang dianggarkan buat nonton.

Bagi sineas dalam negeri, jelas ini merupakan kesempatan yang sangat besar. Pihak bioskop mau tidak mau harus memutar film apapun bahkan seadanya untuk dapat terus menjalankan roda ekonominya. Maka muncullah film-film Indonesia yang berkualitas ala kadarnya ala Nayato yang gantian membanjiri bioskop.

Hal inilah yang lebih menyebalkan. Masak saya harus membayar mahal-mahal untuk sampah-sampah tersebut? Sampah itu ya harusnya dibuang, bukan malah diperjualbelikan secara besar-besaran seperti itu. Kecuali Anda memang juragan barang loak sih..

Continue reading

Watchmen

Watchmen
Watchmen

Hari Sabtu kemarin, saya dan beberapa orang teman menonton film ini saat midnight. Kebetulan hari itu hari pertama film ini tayang di bioskop 21. Ya, dari judulnya saja bisa ditebak kalau film ini adalah film superhero. Tapi jangan berharap ini film seperti superhero yang “biasa” di mana sang tokoh utama dengan kekuatannya menghajar musuh-musuh yang mencoba menguasai dunia. Ini film yang penuh dengan intrik & konflik tapi dengan bumbu ala superhero.

(more..) awas spoiler!!

Catatan Pengangguran

Hampir 2 bulan berlalu semenjak saya kehilangan pekerjaan dengan cara yang sangat tidak mengenakkan yang disebabkan oleh kurang peka-nya perasaan orang-orang kaya pemegang saham terhadap masyarakat kecil seperti saya ini. Hampir 2 bulan pula-lah, saya menjalani hidup sebagai seorang pengangguran. Banyak hal yang terjadi selama itu, selain semakin terbatasnya akses saya menuju dunia maya.

Salah satunya adalah saya semakin hafal dengan acara-acara televisi. Tentu saja, mau bagaimana lagi, tak ada hiburan lain yang bisa diperoleh, sementara uang harus dihemat mengingat sumber penghasilan tetap sudah menghilang. Jadiah saya seharian tidur-tiduran di depan televisi. Hal paling buruk yang terjadi adalah, teman satu kost saya, adalah tipe orang Indonesia banget. Jadi tontonannya ya acara-acara Indonesia, macam sinetron, FTV dan sinema-sinema yang selalu mengangkat cerita-cerita yang mengandung khayalan tingkat tinggi. Dan mau tidak mau, saya juga harus menonton acara-acara tersebut. (doh)

Kemudian adalah bahwa saya semakin rajin ke bioskop. Yah, adakalanya saya merasa jenuh hanya tidur-tiduran di dalam kamar selama sehari penuh. Jadi saya dan kawan-kawan senasib sepenanggungan memutuskan untuk berangkat ke bioskop terdekat mencari sedikit hiburan yang lain. Untungnya kos-kosan saya cukup dekat dengan bioskop yang murah meriah, apalagi mall baru deket kos-kosan juga sudah buka bioskop. yay! Dan karena sangat tidak terbatasnya waktu, dibanding saat masih bekerja dulu, intensitas kunjungan saya juga semakin tinggi. Hampir semua film yang diputar selama bulan Februari sampai dengan pertengahan Maret sudah saya tonton. Eh, bukan semua, hanya hampir seluruhnya adalah film-film luar negeri garapan Hollywood. Entah, saya hanya merasa aneh saja dengan film-film Indonesia. Saya selalu kecewa saat memutuskan untuk menonton film-film Indonesia. Memang ada beberapa film luar juga yang tidak terlalu bagus, tapi entah, somehow saya merasa kalau itu masih mending daripada film-film Indonesia. Jagad X Code dan Kambing Jantan adalah dua film yang saya tonton selama masa nganggur ini. Dan saya tidak bisa merasakan entertainment yang ditawarkan dalam kedua film tersebut. Apalagi Kambing Jantan, saya bener-bener kecewa. Berangkat dengan harapan akan terhibur dengan komedi seperti yang ditawarkan di bukunya, ternyata saya malah mengantuk sepanjang film. Tak ubahnya seperti film-film romantis ala Indonesia pada umumnya. Pacaran, pacaran, marahan, bla bla bla bla bla. Unsur komedi yang ditawarkan juga sangat garing, hanya beberapa saja yang cukup menghibur. Give me my 2 hours back!!

Ah, sudahlah, saya tidak mau mengalami darah tinggi gara-gara mengomentari film tersebut. (Saya ini sudah jadi pengangguran, cing! Ga usah ditambahin lagi penderitaannya!)

Lanjoot..!!

The Dark Knight? Sepi tuh…

Semenjak pindah kembali ke kota kelahiran saya, ada satu hal yang harus saya korbankan, yaitu hobi saya nonton di bioskop. Ya, sungguh berbeda rasanya ketika saya di Jakarta dulu. Satu-satunya hal yang saya harus khawatirkan ketika di sana, hanyalah soal duit. Tapi kalau di sini, ah, sungguh repot. Film paling baru belum tentu akan langsung tersedia di bioskop yang cuma ada 2 yang layak itu. Tahukah Anda? Kungfu Panda pun saya belum nonton, lantaran belum diputar. Belum lagi Wanted, Hancock atau Hellboy 2 nanti. 😥

Memang, Juni kemarin Incredible Hulk diputar hampir bersamaan dengan kota-kota lain, hanya saja waktu itu saya baru saja pindahan, sehingga kondisi ekonomi belum memungkinkan. Ouch. Saya jadinya harus menyeberang ke Surabaya untuk mengejar ketertinggalan saya di dunia perfilman. Halah.

Tapi ada satu keuntungan dalam kondisi seperti itu. Hari Sabtu (19/07) kemarin, ketika Nyonya saya mengajak nonton, saya sebenarnya sudah putus asa ketika membuka situs 21Cineplex. Paling juga film Indonesia yang, kalau tidak “hot” ya serem itu. Tapi alangkah terperanjatnya saya ketika di list paling atas film yang ditayangkan di kota ini, ada titel yang berbunyi “THE DARK KNIGHT” 😯

Kontan saja saya langsung loncat-loncat kegirangan mengiyakan ajakan Nyonya saya. Saya lihat jam pemutaran kedua sekitar pukul 15.15. Sementara jam saat itu menunjukkan waktu pukul 14.45. Nyonya saya mengajak saya cepat-cepat berangkat agar tidak kehabisan tiket, mengingat film itu film baru yang cukup booming di kota-kota lain. Iya juga, batin saya. Tapi entah kenapa, firasat saya mengatakan bahwa saya tidak akan kehabisan tiket meski nanti datang mepet.

Dan benar saja, pukul 15.00 ketika saya membeli tiket, karcisnya masih cukup banyak. Kami yang memesan tiket di barisan F, ternyata merupakan penonton yang duduk paling depan! 😯 . Jadinya yaaa, saya dan nyonya bisa nonton dan lain lain dengan nyaman dan leluasa. :mrgreen:

Entah apa yang salah, padahal film itu begitu bombastis di mana-mana, yang jelas, hal itu menyenangkan bagi saya.. 😛