Wanted

Jika Anda diperintah untuk melakukan sesuatu atas nama takdir, tanpa Anda tahu kenapa dan untuk apa, hanya takdir, bagaimana Anda akan bersikap? Sentilan itulah yang saya tangkap dalam film yang sadis ini.

[SPOILER ALERT]

Cerita bermula saat seorang pria bernama Mr. X beradu tembak dengan beberapa penembak jitu di atas sebuah gedung. Mr. X yang merupakan salah satu pembunuh paling hebat dapat mengatasi musuh-musuhnya dengan mudah. Akan tetapi ketika semua musuhnya telah mati, ia baru menyadari bahwa itu semua adalah jebakan yang dirancang oleh Cross, musuhnya, yang telah membidiknya dari jarak yang sangat jauh. Peluru Cross pun akhirnya menembus kepala Mr. X.

Sementara itu Wesley Gibson adalah seorang pekerja, serta manusia yang gagal. Pekerjaannya sama sekali tidak menyenangkan, ditambah dengan bos gendut yang menjengkelkan. Rekan kerjanya, Barry, adalah seorang penjilat bermuka dua. Berulang kali Wesley harus mentraktirnya atau menyelesaikan pekerjaannya lantaran Barry izin ke dokter gigi, padahal ia berselingkuh dengan Cathy, pacar Wesley. Wesley juga menderita semacam penyakit aneh di mana jantungnya yang kadang-kadang berdebar demikian kencang.

Suatu malam, ketika Wesley membeli obat di supermarket, seorang wanita mengajaknya bicara. Ia mengatakan bahwa ayah Wesley, yang sudah tidak ditemuinya sejak kecil, meninggal karena ditembak oleh seorang pembunuh, dan sekarang mengincar dirinya. Wesley, yang kehidupannya jauh dari hal-hal luar biasa, tidak mempercayai hal itu. Sampai ketika wanita itu beradu tembak dengan lelaki yang telah mengintainya dari belakang.

Setelah adegan kejar-kejaran yang seru, sang wanita, yang bernama Fox, membawanya ke sebuah rumah. Di rumah itu berkumpul beberapa orang yang merupakan anggota Fraternity, sebuah perkumpulan pembunuh rahasia yang telah ada selama berabad-abad. Sloan, sang ketua, menceritakan kepada Wesley tentang ayahnya yang merupakan pembunuh terbaik, juga tentang bakat pembunuh yang diturunkan pada dirinya. Cross, yang merupakan pembangkang dalam kelompok Fraternity, yang telah membunuh ayahnya, kini mengincar dirinya. Sekali lagi Wesley tidak percaya, sampai kemudian ia dipaksa menembak sayap tiga ekor lalat. Ia berhasil melakukannya berkat penyakitnya yang ternyata adalah kemampuan khusus para pembunuh. Sloan menawarinya untuk bergabung dan membalas dendam ayahnya. Tapi Wesley masih ragu.

Sedikit demi sedikit, Wesley mulai percaya, apalagi setelah ia tahu bahwa seluruh harta ayahnya diwariskan kepadanya. Akhirnya ia pun memutuskan untuk meninggalkan kehidupannya selama ini yang payah, dan bergabung dengan Fraternity, yang menyamar sebagai perusahaan penenun kain.

Fox, wanita yang membawanya, bersama anggota Fraternity yang lain ditunjuk untuk mengajari Wesley teknik membunuh, termasuk teknik khusus membelokkan peluru. Setelah menjalani latihan yang berat, seperi bertarung, menembak, adu lari di atas kereta, sampai menangkap jarum mesin tenun, Sloan mengajak Wesley untuk melihat Mesin Tenun Takdir (Loom of Fate) yang merupakan mesin tenun yang memberi nama target untuk dibunuh selanjutnya dengan kode biner lewat benang-benang yang ditenun dengan salah.

Wesley sama sekali tidak mengerti bagaimana bisa dia harus membunuh seseorang tanpa tahu apa kesalahannya, bahkan ia tidak tahu siapa dia. Kemudian Fox menceritakan bagaimana ayahnya dulu dibunuh oleh orang yang terlambat dibunuh oleh anggota Fraternity. “Kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi kalau kau membunuhnya, atau tidak membunuhnya”, kira-kira begitu kata Fox. “Kill one, save thousands”, itu adalah semboyan Fraternity.

Setelah Wesley percaya dan bersedia membunuh targetnya, akhirnya sampai ketika dia harus membunuh Cross, yang selama ini memburunya. Wesley dengan dibantu Fox, berhasil mendesak Pekwarsky, ahli pembuat peluru Fraternity yang ikut membangkang, untuk menjebak Cross agar keluar. Ternyata jebakan gagal, Cross berhasil melarikan diri ke dalam sebuah kereta, sementara Wesley dan Fox mengejarnya. Gara-gara adegan baku tembak di dalam kereta, kereta itu mengalami kecelakaan dan hampir jatuh ke dalam jurang. Wesley yang nyaris tergelincir, tanpa diduga justru ditolong oleh Cross. Ketika dalam keadaan itulah Wesley menembak mati Cross, meski ia tak mengerti kenapa Cross menolongnya. Kata-kata terakhir Cross-lah yang kemudian mengerti. “I am your father”.

Wesley menjadi bimbang. Saat ia bertanya pada Fox, ternyata hal itu memang benar. Fraternity hanya memperalatnya untuk membunuh Cross, karena ia satu-satunya orang yang tidak akan dibunuh Cross. Pada saat yang bersamaan, Fox mengacungkan pistol ke arah Wesley, sebab sebelum berangkat, Sloan memberinya sebuah nama untuk dibunuh: Wesley Gibson.

Akan tetapi Welsey berhasil menyelamatkan dirinya dengan menceburkan diri ke sungai di dasar jurang. Ketika dia sadar dari pingsan, dia telah berada di sebuah apartemen di dekat apartemen lamanya. Pekwarski, sang ahli peluru yang menyelamatkannya. Dia kemudian menceritakan hal yang sebenarnya, bahwa sebenarnya Sloan, sang pembaca Loom of Fate, telah menyimpang dari tujuan semula Fraternity didirikan. Ia membuat sendiri nama-nama targetnya untuk kepentingan pribadinya. Hal itu karena sebelumnya namanya sendiri muncul sebagai target, tapi ia menyembunyikannya. Cross, yang mengetahui hal tersebut, memutuskan untuk keluar dari Fraternity dan meneruskan tujuan Fraternity yang sesungguhnya sendirian. Cross juga tidak ingin Wesley menjadi pembunuh seperti dirinya, oleh karena itu, ia sebenarnya ingin menyelamatkannya sebelum dibawa anggota Fraternity.

Wesley, yang telah mengetahui cerita sebenarnya, kemudian memutuskan untuk balas dendam. Ia akan menyerang markas Fraternity dan membunuh Sloan yang telah menipunya. Anggota Fraternity yang lain, yang tidak mengetahui rencana Sloan yang sesungguhnya, berusaha untuk menghadang dan membunuh Wesley, akan tetapi darah pembunuh terhebat yang mengalir di darahnya membuat berhasil Wesley menembus pertahanan mereka. Sampai di sebuah perpustakaan di mana anggota teratas Fraternity, termasuk Fox, mengelilingi dirinya. Wesley yang terdesak memberi tahu mereka bahwa Sloan selama ini telah melanggar kode etik Fraternity dan menipu mereka.

Tiba-tiba Sloan muncul. Ia mengakui bahwa dia telah memanipulasi nama yang ditunjukkan oleh Loom of Fate. Tapi dia menyangkal bahwa ia melakukan itu untuk melindungi anggota-anggota Fraternity yang ternyata namanya juga muncul dari Loom. Dia memberi pilihan pada anggotanya itu untuk memilih menjalankan kode etik yang sesungguhnya dengan menembak diri mereka masing-masing, atau ikut dengannya, membentuk sebuah kelompok pembunuh terhebat, dengan membunuh Wesley.

Anggota yang lain, karena tidak mau mati, memutuskan untuk membunuh Wesley dan mengikuti Sloan. Tetapi Fox, memilih untuk tidak melanggar kode etik Fraternity. Saat anggota yang lain bersiap menembak Wesley, dia menembakkan peluru secara melingkar, yang membunuh semua anggotanya, hingga kembali menuju dirinya sendiri, dan akhirnya membunuhnya. Dengan demikian terpenuhilah target dari Loom of Fate.

Tapi masih ada Sloan yang telah melarikan diri. Dari sini cerita kembali bergulir mengenai Wesley yang kembali ke kehidupan lamanya, sebagai seorang pegawai kantoran. Di saat Wesley tengah lembur pada suatu malam, Sloan mendatanginya dan menodongkan pistol. Tapi saat Wesley berbalik, ternyata itu bukan Wesley. Sloan kemudian menyadari bahwa dia telah dijebak. Di bawah kakinya ada huruf X, lalu kemudian, sebuah peluru menembus kepalanya. Ditembakkan oleh Wesley dari seberang kota, sama seperti ketika ayahnya membunuh Mr. X.

“What the fuck have you done lately?”, kata Wesley.

[/SPOILER ALERT]

Hal yang cukup menarik dari film ini adalah banyaknya adegan laga yang penuh efek serta mencengangkan, yah, seperti film action pada umumnya. Seperti adegan kejar-kejaran Fox dengan Cross, serta ketika Wesley membunuh salah satu targetnya lewat lubang udara di atap limusin-nya.

Hanya saja, film ini bisa dibilang terlalu sadis. Selain banyak adegan kekerasan serta darah di hampir semua bagian film, agak merinding juga menyaksikan betapa tidak berharganya nyawa manusia. Dibunuh hanya karena sebuah kain yang salah tenun. Akan tetapi, menurut saya, justru di situlah letak kekuatan film ini. Bagaimana Anda harus meyakini sesuatu hal yang sebenarnya Anda tidak ketahui, yang kemudian disebut takdir. Hampir seperti keyakinan dan agama.

Bila Anda orang yang takut darah, disarankan jangan menonton film ini. Tapi film ini memang worth to see..

Rating : :-bd

31 thoughts on “Wanted

  1. :D/ yeyeyeyeyeye……
    sayang ya, Beib Dinda gak bisa liat endingnyah gara2 salah masuk. Pengennyah ke toilet malah EXIT :((
    Tar kalo di Malang uda diputer, nonton lagi yuh, Hunn?

    Like

  2. Many people with Roadrunner email accounts experience significant frustration in trying to set up Roadrunner email on an iPhone, iPad or Android phone. On &#1072 Blackberry, it’s just a matter of accessing Blackberry Int&#1077rn&#1077t Service and entering the email address &#1072n&#1281 password. On an iPhone, iPad or Android device, &#1110t’s more complicated. Some people h&#1072&#957e even resorted to having their Roadrunner email forwarded to their Gmail accounts in order to access it on their phones. Fortunately, the f&#959ll&#959wing instructions should allow you to get Roadrunner email on your smart phone. If y&#959u espy an” s” after the” http” at the same time.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s