Categories
Blogs Hobbies

Hosting Plugin di WordPress Plugin Directory

Baru saja, saya membuat sebuah plugin sederhana, yang berfungsi untuk menyortir jumlah komentar sebuah postingan. Dengan plugin tersebut, komentar-komentar Anda tidak akan ikut dihitung, sehingga jumlah yang muncul adalah benar-benar jumlah komentar pengunjung blog Anda. Berguna sekali untuk yang gemar membalas komentar, apalagi fitur tersebur disediakan tersendiri di WordPress 2.7.

Seperti biasa, plugin tersebut saya buatkan postingan tersendiri di blog WP-Project saya, tapi kemudian saya tergelitik untuk mencoba meng-upload plugin tersebut di Direktori Plugin WordPress. Setelah membaca petunjuk-petunjuknya, ternyata caranya cukup rumit. Pertama, Anda harus login terlebih dahulu, menggunakan username/password tersendiri. Kemudian Anda harus mengisi form informasi tentang plugin Anda. Data dari form ini nantinya akan dimoderasi oleh pihak WordPress. Bila diterima, Anda akan menerima email konfirmasi. Di dalam email diterangkan bahwa di server WordPress Direktori, si admin telah menambah sebuah folder khusus untuk plugin Anda.

Untuk mengakses folder tersebut, Anda harus menggunakan subversion client. Setelah itu, dengan menggunakan subversion client, upload file-file plugin Anda. Untuk langkah-langkah penggunaan subversion ini, bisa Anda baca di sini. Setelah selesai, tunggu 15 menit sampai ada update di WordPress Plugin Directory. Setelah 15 menit, lihat di halaman profil Anda, dan plugin Anda pun akan ada di sana.

Dan, plugin saya pun sudah ada di sana 😛

Berikut petunjuk lengkap cara mengupload plugin.

Categories
game

Assassin's Creed: A Little Bit Dissappointing

Assassins Creed
Assassin's Creed

Game ini, sebagian besar bercerita tentang Altair, seorang assassin di masa Perang Salib, ketika Raja Inggris Richard si Hati Singa, menyusun pasukan untuk merebut kembali Jerussalem dari Saladin. Karena melakukan sebuah kesalahan, Altair mendapat perintah dari sang Mualim, untuk membunuh tokoh-tokoh penting di kota Damaskus, Acre, dan Jerusalem yang berkomplot untuk mengobarkan perang.

Categories
book

Brisingr

Brisingr
Brisingr

Bagi yang mungkin belum tahu, bahwasanya buku ketiga dari Tetralogi Inheritance (Warisan) karangan Christopher Paolini kini telah terbit, untuk versi bahasa Inggris tentunya. Ya, tetralogi. Inheritance memang awalnya direncanakan untuk menjadi trilogi, tapi Paolini merasa buku ketiga akan jadi sangat panjang bila seluruh akhir cerita ditulis di situ. Makanya cerita ini dibuat menjadi 4 bagian.

Dan “Brisingr: The Seven Promises of Eragon Shadeslayer and Saphira Bjartskular” inilah, yang mungkin merupakan edisi paling ditunggu para penggemar novel karya Paolini. Maklum, jarak antara penerbitan buku ini dengan buku keduanya cukup jauh, sekitar 3 tahun. 😯 Entah berapa lama lagi baru akan ada versi Indonesianya.

Categories
Hobbies

Kingdom of Heaven

Baru saja, saya menonton kembali film Kingdom of Heaven, film yang berlatar belakang kota Jerusalem pada saat Perang Salib II, saat kota itu jatuh ke tangan kaum Saracen yang dipimpin Saladin. Mungkin sudah banyak yang tahu jalan cerita film ini. Memang, karena film ini sudah termasuk film yang jadul.

Meski begitu, saya tidak pernah bosan menonton film ini, sebab selain saya memang tertarik dengan sejarah Perang Salib, film ini memang benar-benar berkesan dan mengesankan. 😀 Satu hal yang saya sukai adalah kekuatan dialognya. Setiap percakapan antara tokoh-tokoh di film ini seolah sengaja dirancang untuk meninggalkan makna mendalam bagi penonton. Saya hanya senyum-senyum sendiri saat sang tokoh men-skak mat perkataan tokoh lainnya, atau mengulang kata-kata yang pernah didengarnya kepada orang lain, apalagi kata-kata yang nyrempet soal agama dan Tuhan. Benar-benar berkesan. Tidak seperti film pada umumnya apalagi film Indonesia.

Bishop: When a body is burnt, it cannot be resurrected until the Judgement Day

Balian: If we do not burn these bodies, we will all be dead of disease in three days. God will understand, my lord. And if He doesn’t, then He is not God, and we need not worry

Dan saya baru tahu, bahwa yang saya tonton sebelum-sebelumnya, hanyalah versi teatrikal, yang sudah dipotong sana-sini, sementara yang barusan saja saya tonton adalah versi Director’s Cut, yang lebih panjang. Di versi ini, ada satu cerita tentang Baldwin V, putra dari Sybilla of Jerusalem, yang menjadi raja di usia 5 tahun menggantikan pamannya, Baldwin IV yang mati akibat menderita lepra. Ternyata si anak juga menderita penyakit yang sama dengan pamannya. Ibunya yang shock mengetahui hal itu, lantas memberi racun pada putranya, karena ia tidak mampu melihatnya tumbuh dengan penyakit mematikan itu seperti kakaknya. Bagian itu sengaja dipotong, karena memang tidak ada bukti sejarah yang mengatakan bahwa Baldwin V menderita lepra, dan bahwa ia mati dibunuh ibunya sendiri.

Categories
Hobbies

Versi Buku vs Versi Film

Sudah tahu film terbaru Harry Potter? Saya sendiri, sebagai salah satu penggemar cerita (bukan tokohnya, apalagi pemeran dalam film!!) Harry Potter, kurang antusias dengan film terbaru itu. Satu-satunya alasan yang membuat saya pergi nonton nantinya adalah karena saya kangen dunia sihir bikinan JK Rowling yang sudah cukup lama berakhir ceritanya itu.

Kenapa saya kurang menyukai film yang diangkat dari novel adalah karena beberapa hal, yaitu

1. Pemaksaan Citra

Ketika Anda membaca novel / buku, pengarang memberi kebebasan kepada Anda untuk membayangkan seperti apa sebenarnya cerita yang terjadi. Seperti apa rupa tokoh-tokohnya, seperti apa suasana yang tercipta lewat deskripsi serta penggambaran yang menjadi petunjuk bagi pembaca untuk melakukan hal itu. Bisa jadi antara satu pembaca dengan yang lain berbeda dalam hal penggambaran itu.

Sementara dalam versi film, hanya ada satu cara untuk menggambarkan cerita, tokoh & latar, yaitu sesuai dengan pemeran serta lokasi diambilnya gambar. Tidak ada yang lain. Suka atau tidak, itulah ceritanya. Anda hanya bisa pasrah pada sutradara tentang bagaimana cerita akan berjalan.

Jujur saja, saya kurang begitu suka tokoh Harry Potter yang terlalu “tampan”, serta Dumbledore yang terlalu tua dalam film-film Harry Potter. Tokoh Severus Snape juga tak terlalu jahat, meski memang terkesan dingin dan licik.

2. Penambahan & Pengurangan Cerita

FIlm, memang tidak sebebas buku. Cerita dalam film tidak boleh terlalu panjang dan bertele-tele. Tidak seperti di buku yang bisa sampai ke mana-mana. Film dengan durasi yang terlalu panjang kebanyakan tidak disukai penonton. Akhirnya untuk penyesuaian, dilakukanlah pemotongan cerita serta penambahan bagian-bagian tertentu agar cerita masih tetap nyambung. Hanya detil-detilnya saja yang diambil.

Tapi bagi saya, hal itu cukup mengganggu. Bagaimana alur yang sudah terpatri di kepala setelah membaca novel, tiba-tiba harus diubah menjadi alur cerita baru dalam versi film. Hal ini tampaknya sudah jamak terjadi pada film-film yang diangkat dari novel. Sepanjang pengetahuan saya, satu-satunya film yang nyaris sesuai dengan buku adalah Lord of The Rings garapan Peter Jackson. Hampir semua cerita yang ada di buku ada di film. Hanya saja di film pertama ada satu cerita yang hilang, yaitu ketika Frodo dan kawan-kawan bertemu Tom Bombadil, sebelum mencapai Bree.

Tapi bila Harry Potter disebut parah dalam kasus ini, maka ada satu film yang bisa disebut hancur. Yaitu Eragon, yang ditulis oleh Christopher Paolini. Jalan ceritanya serta settingnya semua benar-benar berbeda. Adegan-adegan penuh efek, yang tidak ada dalam buku, ditambahkan secara “brutal”. Mungkin dengan maksud agar film semakin menarik. Tapi bagi pembaca bukunya, setidaknya saya, hal itu adalah dosa besar, karena akan mempengaruhi cerita secara keseluruhan.

Karena itulah, saya pikir kenapa sekuelnya, Eldest, tak kunjung dibuat. Mungkin karena sutradaranya harus berpikir bagaimana “menambal” cerita yang seharusnya ada di film pertama.

3. Penonton Bukanlah Pembaca

Mungkin ini alasan saya pribadi yang sedikit dibuat-buat. Yaitu karena menjadi pembaca itu lebih menyenangkan daripada menjadi penonton. Ketika menjadi penonton, kitalah yang menjadi pihak yang aktif. Kita yang memutuskan kapan cerita akan berlanjut atau berhenti, bahkan mungkin mundur. Berkaitan dengan alasan pertama, pembaca jugalah yang berhak menentukan seperti apa cerita berjalan. Tidak seperti penonton yang hanya bisa “terima jadi”.

Well, itulah beberapa alasan saya lebih menyukai versi buku daripada versi film. Anda mungkin berpendapat bahwa film itu memang tidak harus sama dengan buku karena beberapa alasan seperti “perbedaan cara pandang antara penulis dan sutradara” dan lain-lain. Tapi bagi saya pribadi, film itu adalah visualisasi dari buku, jadi tidak boleh ada perbedaan sedikit pun, karena hal itu akan membentuk sebuah cerita baru, yang membuat film tak lagi menjadi visualisasi dari buku, tapi adalah sebuah media cerita yang baru.

🙂

Categories
Hobbies

Ambigram

Anda pernah membaca novel Dan Brown yang Angels & Demons? Bukan, saya ndak mau ngreview bukunya, tapi saya akan membahas satu bagian yang ada di dalam buku itu. Seperti biasa, novel ini penuh dengan teka-teki ala Dan Brown. Bila di Da Vinci Code, dia banyak menggunakan anagram, maka di novel, yang menurut saya jauh lebih seru daripada Da Vinci Code itu, dia memakai sebuah art-work lain yang disebut ambigram.

Ambigram, menurut mbah Wikipedia, adalah seni membuat tulisan yang apabila tulisan tersebut diputar 180 derajat, maka tulisan tersebut akan tetap terbaca sama atau membentuk sebuah kata baru. Untuk lebih lengkapnya silakan baca di sini sajah.

Saya juga mau pamer, ambigram yang dulu pernah saya bikin B-)

Alert:
– Untuk melihat inih, Anda akan membutuhkan Flash Player di broswer Anda, serta bandwith yang cukup ;))
– Untuk membuktikan apakah ambigram itu akan membentuk kata yang sama bila diputar, ndak perlu memutar kepala atau monitor Anda, cukup klik sajah 😀

Categories
Hobbies

Anagram

Kenal nama ini :
MOKHAMMAD RIFAD AINUN NAZIEB
?? (of course!!!!) B-)

Kalo ini :
AKHMAD ZAMRONIE BUDI MANNAFI
kenal ndak? :-/

Categories
Hobbies

MCR live in JCC

 

My Chemical Romance live in JCC, January 31st, 2008

Ah, tunggu, saya ndak bermaksud promosi kok..

Categories
Hobbies

D-War: The Last Movie Review

Ah, gara-gara kasus kemaren, jadi tertunda deh review film terakhir yang saya tonton di kontrakan temen saya. Baiklah, ladies & gentlemen (no bayut!!) the movie is… D-War alias Dragon War.

Katanya sih, ne film diambil dari legenda Korea yang bercerita tentang Naga gitu, judulnya aja Dragon /:) Nah di legenda itu diceritakan bahwa ada sejenis ular gede yang disebut Imugi yang ada di Bumi. Nah, setiap 500 tahun, seekor Imugi akan dipilih oleh langit untuk mendapatkan kekuatan menjadi naga. Kekuatan itu disimpan dalam tubuh seorang gadis. Nah, ceritanya pada tahun 1507 (500 tahun dari 2007) pas kekuatan itu diturunkan kepada seorang gadis, seekor Imugi jahat bernama Buraki menginginkan kekuatan itu. Ia dan pengikutnya yang seabreg itu menyerang desa tempat gadis itu tinggal. Di saat terakhir, si gadis bersama kekasihnya terjun ke laut untuk menghindar dari Buraki.

Categories
Hobbies

De Ja Vu : Another Movie Review

Yak, setelah kemaren mengupas film pertama kita (apaan, orang gak dikasih apa-apa gitu loh /:) ) sekarang saya akan mengupas film kedua. Apakah itu? Sebelumnya saya hanya ngasih tahu. Review ini bukan untuk mengupas film yang akan / sedang diputar di bioskop saat ini, tapi hanya review film yang saya tonton di beskem yang sebenernya uda pada diputer bertahun-tahun lalu 😀 Jadi mohon maaf, saya hanya akan memberi pandangan saya tentang film-film tersebut. Okeh? Bagi yang mau nyari review film terbaru, salah tempat Bung.. =; IMDB juga masih belum di-blok kok..