Categories
Hobbies

Kingdom of Heaven

Baru saja, saya menonton kembali film Kingdom of Heaven, film yang berlatar belakang kota Jerusalem pada saat Perang Salib II, saat kota itu jatuh ke tangan kaum Saracen yang dipimpin Saladin. Mungkin sudah banyak yang tahu jalan cerita film ini. Memang, karena film ini sudah termasuk film yang jadul.

Meski begitu, saya tidak pernah bosan menonton film ini, sebab selain saya memang tertarik dengan sejarah Perang Salib, film ini memang benar-benar berkesan dan mengesankan. 😀 Satu hal yang saya sukai adalah kekuatan dialognya. Setiap percakapan antara tokoh-tokoh di film ini seolah sengaja dirancang untuk meninggalkan makna mendalam bagi penonton. Saya hanya senyum-senyum sendiri saat sang tokoh men-skak mat perkataan tokoh lainnya, atau mengulang kata-kata yang pernah didengarnya kepada orang lain, apalagi kata-kata yang nyrempet soal agama dan Tuhan. Benar-benar berkesan. Tidak seperti film pada umumnya apalagi film Indonesia.

Bishop: When a body is burnt, it cannot be resurrected until the Judgement Day

Balian: If we do not burn these bodies, we will all be dead of disease in three days. God will understand, my lord. And if He doesn’t, then He is not God, and we need not worry

Dan saya baru tahu, bahwa yang saya tonton sebelum-sebelumnya, hanyalah versi teatrikal, yang sudah dipotong sana-sini, sementara yang barusan saja saya tonton adalah versi Director’s Cut, yang lebih panjang. Di versi ini, ada satu cerita tentang Baldwin V, putra dari Sybilla of Jerusalem, yang menjadi raja di usia 5 tahun menggantikan pamannya, Baldwin IV yang mati akibat menderita lepra. Ternyata si anak juga menderita penyakit yang sama dengan pamannya. Ibunya yang shock mengetahui hal itu, lantas memberi racun pada putranya, karena ia tidak mampu melihatnya tumbuh dengan penyakit mematikan itu seperti kakaknya. Bagian itu sengaja dipotong, karena memang tidak ada bukti sejarah yang mengatakan bahwa Baldwin V menderita lepra, dan bahwa ia mati dibunuh ibunya sendiri.