Trailer Baru Film Superman “Man of Steel”

Man of Steel

Film Man of Steel, yang menceritakan tentang sosok superhero Superman, merilis video trailer pertamanya pada 11 Desember kemarin.

Berbeda dengan teaser-nya yang hanya menampilkan sepotong-sepotong adegan, video trailer ini lebih banyak menceritakan tentang film itu sendiri. Dalam video berdurasi 2 menit 30 detik itu ditunjukkan beberapa adegan penting, di antaranya tentang masa kecil Clark Kent alias si Superman. Tentang bagaimana ia menyelamatkan bus yang jatuh ke sungai. Ada juga adegan saat ia mengenakan jubah Superman lalu terbang melesat ke udara.

Continue reading “Trailer Baru Film Superman “Man of Steel””

TransJakarta vs MetroMini / Kopaja

Siapa yang tak kenal TransJakarta? Sistem transportasi umum terobosan Pemda DKI yang memiliki jalur tersendiri (yang kemudian memunculkan kekeliruan penyebutan armada bis ini menjadi Busway) ini seolah sudah menjadi salah satu ciri khas ibukota. “Belum lengkap kalau ke Jakarta tapi tidak ke Monas dan naik Busway”, begitu kelakar yang saya pernah dengar dari seorang teman yang sempat berkunjung ke Jakarta.

Lalu MetroMini dan Kopaja? Bagi yang sudah cukup lama tinggal di Jakarta pasti sudah paham dengan duet maut raja jalanan ini. Bus-bus kota yang “diproduksi” dua perusahaan tersebut memang cukup dikenal dengan tingkah sopirnya yang ugal-ugalan, dan suka berhenti semaunya sendiri, bahkan di tengah jalan.

Membandingkan TransJakarta dengan MetroMini / Kopaja hampir sama seperti membandingkan surga dan neraka. Salah satu pihak adalah sebuah proyek prestise yang mendapat support penuh dari pemerintah, serta identik dengan hal-hal mewah dan fasilitas-fasilitas yang sungguh nyaman. Jalur tersendiri, AC, BBG, halte-halte yang telah diatur sehingga penumpang tidak bisa naik atau turun seenaknya, suara cewek dingin yang menyebutkan pemberhentian selanjutnya serta sopir berdasi dan berkacamata hitam jelas menggambarkan TransJakarta seperti sebuah “kehidupan beradab”. Tak seperti pihak yang lain, yang identik dengan bus kumuh dan kotor, penuh corat-coret, cara mengemudi ugal-ugalan, panas, pengamen, pengemis, tukang minta sumbangan masjid, teriakan kondektur serta ketukan nyaring di kaca jendela. Tampak sangat biadab dan barbar.

Tapi tak selamanya TransJakarta yang modern itu dianggap selalu lebih unggul dengan MetroMini & Kopaja yang primitif. Berikut beberapa review saya tentang TransJakarta dan MetroMini / Kopaja:

– TransJakarta, sebagai anak emas Pemprov, tentu akan berusaha menampakkan wajah baik dan penurut. Lihat saja, mereka selalu mengalah bila ada kendaraan lain melintas di jalurnya. Bus-bus TransJakarta juga hampir tidak pernah terlihat melaju dengan kecepatan tinggi, paling-paling kecepatan standar 60 – 70 kmph. Tapi justru di situ bisa menjadi blunder, mereka akan patuh sepatuhnya pada peraturan, tak peduli apakah sedang macet dan sedang ada penumpang di dalamnya yang sudah deg-degan karena akan tertinggal kereta atau sejenisnya. Ini Jakarta Bung! Jakarta itu keras, hanya yang berani ambil resiko yang bisa mencapai tujuannya dan tepat waktu. Bandingkan dengan MetroMini atau Kopaja itu, yang dengan beraninya menembus kerumunan mobil-mobil pribadi yang ber-merk tapi terlalu pengecut itu. Jakarta tidak akan terlalu macet bagi mereka.

– Pangaturan halte, memang bisa jadi merupakan sebuah solusi ketika transportasi-transportasi primitif selalu dikeluhkan sebab tidak menggunakan halte pinggir jalannya dengan sebaik-baiknya dan malah suka berhenti sewaktu-waktu di sembarang tempat. Tapi lagi-lagi, ini bisa jadi merupakan bumerang, ketika para calon penumpang datang berduyun-duyun ke satu halte dan saling berdesak-desakan seperti sarden. Apalagi di sebagian besar halte masih belum terpasangi sistem AC yang layak. Tidak seperti saat kita hendak naik MetroMini / Kopaja, bisa saja kita menunggu di bawah naungan pohon rindang, tidak terbatas pada satu tempat tertentu.

– Kedua hal di atas, akan semakin diperparah dengan terbatasnya armada bus, terutama untuk koridor-koridor tertentu. Sudah armadanya terbatas, di jalan selalu terhambat kendaraan lain, dengan antrian menumpuk yang tidak hanya ada di halte Anda, bisa dipastikan Anda akan semakin lama tersiksa menunggu bus TransJakarta datang. Berbeda dengan bila Anda menunggu MetroMini / Kopaja, bila Anda merasa penumpang lain terlalu banyak, Anda bisa pindah ke tempat lain, tanpa harus takut dipungut biaya.

Jadi pesan moral postingan ini: “Jangan pernah naik TransJakarta bila Anda sedang terburu-buru”

What’s Wrong With My Phone Number??

Saya bingung apa yang salah dengan dengan nomer HP saya saat ini. Nomer itu sepertinya tidak mampu *halah, menerima pesan / SMS dari berbagai macam service provider. Bukan yang REG-REG itu, saya sama sekali ndak tertarik untuk itu. Tapi saat saya daftarkan nomor ini untuk registrasi beberapa layanan macam SMS-Banking nya BCA sampai layanan SMS Blogging seperti Jaiku, tidak ada yang bisa lantaran SMS yang mereka kirim untuk konfirmasi nomor tidak pernah sampai di hape saya.

Apa yang salah ya? Padahal seingat saya nomor itu telah saya daftarkan ke 4444 dengan data yang benar. Ya, akurat sampai ke huruf kapitalnya sekalian. Sekedar informasi, saya menggunakan operator “mahal” tapi bagus, Telkomsel, di mana hanya lowbat (serta pulsa yang habis) yang bisa memutuskan pembicaraan, bukannya sinyal yang hilang atau saluran yang tiba-tiba terputus. *halah, malah promosi.

Nomor ini juga rutin saya recharge tidak pernah sampai melewati masa aktif & memasuki masa tenggang. Yah, meski hanya 5 ribu kalau sedang bokek 😛 Apa yang salah ya kira-kira? 😦 Padahal saya sedang ingin memanfaatkan kedua layanan itu, karena di rumah saya masih jarang ada warnet & ATM 😳 , sehingga kalau mau online atau cek saldo cukup susah.

Sayang ndak bisa tarik duit lewat SMS Banking.. :mrgreen: