4th August 4th

Happy Anniversary, my dear..

Tak terasa waktuku bersamamu berlalu begitu cepat. Setitik cinta yang dulu menggetarkan hati kita kini sudah berkembang sebagai bunga yang cantik. Semoga Tuhan memberi kekuatan agar kita bisa memetiknya bersama suatu saat nanti.

I love you πŸ™‚

Lovely February

Februari, bulan yang katanya penuh cinta. Yap, bagi saya itu memang benar, namun bukan karena bulan ini adalah bulan kematian seorang saint bernama Valentine, tapi justru karena bulan ini adalah bulan lahirnya saint pribadi saya. Yah, siapa lagi kalo bukan Nyonya saya yang satu itu.

Tepat 5 Februari kemarin, saint saya itu genap berusia sekian-sekian. (Demi kepentingan bersama, silakan tanya saja sendiri usianya. She is a she, you know πŸ˜† ).

Selamat ulang tahun ya Sayang, semoga kamu semakin dewasa, semakin gak riwil dan semakin bisa menjalani hidup dengan tegar.

Oh ya, aku cuma minta satu hal saja: Jangan buru-buru minta dilamar dulu ya.. πŸ˜†

Ternyata Sakit itu Mahal, Excuses Part II

Kelanjutan dari part I

Setelah di rontgen, saya kembali menghadap ibu dokter yang baik. Beliau sedang mengamati foto X Ray dada saya. Saya sudah ga enak aja melihat foto itu. Dan saat ibu dokter yang baik ngomong ke saya, perasaan saya semakin tidak karuan. Perkataan ibu dokter tersebut membawa kabar baik sekaligus kabar buruk. Kabar baiknya, prasangka saya yang menduga bahwa jantung saya yang bermasalah ternyata salah! Jantung saya sehat-sehat saja. Berita buruknya: “Mas, ada cairan yang menyumbat paru-paru Mas”. Mampus!

Saya lemes mendengar diagnosis itu. Lha wong saya ini jarang sakit, lha kok sekali sakit kok ya bagian itu yang kena. Ibu dokter yang baik ini kemudian memberi saya suratΒ  rujukan agar saya bisa menemui dokter spesialis paru-paru. Mendengar kata spesialis, saya menjadi tambah lemes. Yaaa.. dokter spesialis bagi saya berarti semakin banyak duit yang harus keluar hari itu. Tapi mau bagaimana lagi, nafas saya sudah semakin menyakitkan waktu itu. Akhirnya dengan lemas, saya berjalan ke poli paru-paru. Singkat cerita, saya diterima pak dokter yang budiman. Beliau melihat foto X Ray saya dan membaca rujukan dari ibu dokter umum yang baik. Sambil masih menerawang foto X Ray, pak dokter berkata dengan enteng. “Wah ini sih harus operasi”. Semakin lunglai saya.

Pak dokter yang budiman tersebut kemudian memeriksa saya kembali. Setelah beberapa lama beliau mengatakan satu hal yang (seharusnya) sedikit melegakan saya. “Ga usah operasi bisa kok, Mas. Tapi harus opname. Gimana?”. Wanjrot! Opname? Euthanasia saya saja dok!! Saya gelagapan menjawab pertanyaan pak dokter. Lha wong pilihannya sama-sama ga enak dari segi moral maupun finansial. Saya mikirnya kalo saya opname, siapa yang bakal menemani saya di rumah sakit? Keluarga ga ada, temen-temen pada sibuk. Bisa-bisa mati bengong saya di sana, bukan gara-gara paru-paru ini.

Melihat gelagat saya ini, pak dokter yang budiman sepertinya paham. “Rawat jalan sih juga bisa, cuma sembuhnya agak lama. Dan juga belum tentu sembuh sampai tuntas”. Melihat ada sedikit celah untuk berkilah, saya pun menyambarnya. “Rawat jalan saja Dok!”. Pak dokter yang budiman, meski tampak enggan, menjawab “Ya sudah kalau gitu. Saya ambil dulu cairannya sedikit buat dites”. What?! Paru-paru saya mau dikeluarin terus diperes gitu?! Lagi-lagi pak dokter paham. “Cuma disedot pake suntikan sedikit di dada”.

Continue reading “Ternyata Sakit itu Mahal, Excuses Part II”

Another December Anniversary

Bulan Desember memang bulan saya. Banyak kejadian penting dalam hidup saya yang terjadi pada bulan Desember. Ulang tahun saya ituh ya pas Desember. Ulang tahun blog ini pun sebenarnya bulan Desember juga, tapi saya lupa merayakannya kemaren πŸ˜† . Lalu ada satu lagi momen spesial di bulan Desember ini, yaitu ulang tahun jadian saya dengan Nyonyah 😳

Hihihi, jadi saya dan nyonyah saya itu jadian sebanyak 3 kali, di bulan Agustus, November, dan Desember. Kenapa kok 3 kali? Jadi begini, yang Agustus itu adalah penembakan untuk yang pertama kali, yaaa seperti yang di pilm-pilm itulah. Lalu November itu pas saya dan dia lagi berjauhan, karena harus menjalani PKL (Praktek Kerja Lapangan) di dua kota yang berjauhan. Yah, daripada diserobot orang, ya saya tembak lagi aja πŸ˜† Dan yang terakhir adalah setelah PKL selesai dan kami ketemu lagi, sekalian memastikan jangan-jangan sudah diserobot orang πŸ˜›

Dan kemarin itu, tanggal 27, adalah ulang tahun jadian ketiga saya untuk ketiga kalinya. Genap sudah 3 tahun saya lalui dengan nyonyah, meski kebanyakan adalah hubungan SLJJ, tapi gak tau kenapa masih gak bosen-bosen πŸ˜†

Ya sudah,

Happy anniversary, dear.. Terima kasih atas perhatian yang kamu berikan selama ini. Semoga Dia mengijinkan kita untuk terus bersama di tahun-tahun berikutnya. Dan semoga kamu gak semakin riwil di tahun-tahun berikutnya.

Me 2.0

Welcome to 2.0 era
Welcome to 2.0 era

Akhirnya berakhir sudah masa ke-remaja-an saya. Secara resmi, tanggal 9 Desember kemarin, saya meninggalkan status saya sebagai teenager. Ya, saya ulang tahun yang ke-20. Sudah kepala dua rupanya πŸ˜€

Ada satu keenakan mempunyai hari ulang tahun di bulan terakhir, bahwa saya bisa melakukan “renungan akhir tahun” bersamaan dengan “renungan ulang tahun”. Saya akan sedikit melakukan flash back apa yang terjadi di tahun 2009 sekaligus di “penghujung muda” saya.

2009 adalah tahun tersulit yang pernah saya jalani seumur hidup saya. Terbiasa hidup dalam “ketiak” orang tua tentu memberi banyak perubahan saat saya akhirnya harus terbang dari sarang mereka yang hangat & nyaman. Setahun awal (mid. 2007 – 2008) saya jalani dengan terbata-bata. Uang masih sering habis, sering homesick, hidup semrawut dll. Tapi ternyata itu belum seberapa dengan yang saya alami di 2009. Awal tahun saja saya sudah diuji dengan dibuang menjadi sampah masyarakat (thanks to Mr SHW and his cronies). 4 bulan menjadi pengangguran, kesana kemari mencari pekerjaan, mondar mandir mencari hutang, begadang di warnet mengerjakan freelance kecil-kecilan demi makan besok, ah, sungguh pelajaran kehidupan yang sangat menampar. Untunglah semua itu bisa saya lalui tanpa harus menodongkan tangan saya kepada orang tua. Sudah cukup saya merepotkan mereka.

Pertengahan tahun, Tuhan akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang status saya sebagai tuna karya. Saya diterima di sebuah perusahaan yang berisi orang-orang yang baik. Bukan perusahaan besar, hanya saja saya kerasan di sana. Suasananya nyaman dan tidak seperti kantor-kantor saya sebelumnya yang kaku dan penuh peraturan ini-itu. Everything seems to be happy ever after after all, sampai pada akhir November ketika Tuhan kembali menjewer saya. Setelah Dia puas mengambil nikmat harta (pekerjaan & penghasilan), kini Dia mengambil nikmat kesehatan. Ya, saya yang sakit ituh. Kembali saya menjadi pesakitan (literally), jangankan kerja, lha wong bangun tidur aja susah. Kali ini saya terpaksa menjilat ludah saya sendiri. Saya menelepon orang tua dan minta bantuan mereka. Terus terang, saya nggak mampu membiayai biaya pengobatan sendiri. Lha wong baru sekali periksa saja sudah habis setengah gaji.

Yah, tampaknya Tuhan memang sedang menggodok saya untuk memasuki kehidupan yang mulai tidak bisa berkompromi lagi. Di penghujung muda saya, Dia memberi pelajaran bahwa hidup tak selamanya selalu menyenangkan, bahwa saya masih harus banyak bersyukur atas apa yang telah saya raih. Seolah Dia sendiri berkata pada saya: “Playing time is over. It’s time to get serious, boy”. Thanks for your nice birthday gift, Dear Lord.

Ternyata Sakit itu Menyakitkan, Excuses Part I

Update: part II

Ternyata yang namanya sakit itu ga enak ya.. Namanya juga sakit =))

Jadi suatu hari, saya terbangun saat subuh menjelang. Hal pertama yang saya rasakan adalah dada saya terasa sangat sesak bila digunakan untuk menghirup nafas. Tapi ini ndak seperti sesek nafas yang dulu-dulu pernah menjangkiti saya juga. Rasanya di dada nyeri banget setiap saya menarik nafas, apalagi saat saya membangunkan diri dari kasur, rasanya dada sebelah kiri terbakar. Nyeriiiii. Cukup lama sampai saya akhirnya bisa menegakkan tubuh. Lalu saat terdengar suara adzan subuh, pelan-pelan saya merangkak (yes, literally) dari kamar tidur menuju kamar mandi. Maksudnya sih mau langsung sholat, siapa tahu Tuhan langsung berkenan mengurangi rasa sakit saya ini πŸ˜›

Lalu setelah kembali “merangkak” ke tempat sholat, mulailah saya menjalankan ritual suci yang sebelumnya jarang saya lakukan itu :blush: Alamak! Lha kok ketika ruku’, dada saya kembali merasa nyeri, apalagi pas sujud, saya sampai tidak kuat menahan rasa sakit dan memutuskan membatalkan sholat saya. Lalu saya kembali sholat dengan posisi duduk. Setelah sholat, saya bermaksud kembali merebahkan tubuh ke kasur, aduh, tapi rasanya semakin saya memiringkan tubuh, rasanya semakin sakit. Akhirnya saya mentok tidur dengan sedikit menyandar ke dinding.

Paginya, ketika matahari sudah mulai membakar bumi, saya putuskan tidak masuk kerja. Lha wong berdiri aja susah, masak mau kerja. Beruntung saat itu ada teman saya yang sedang tidak masuk karena ganti shift, jadi saya agak tenang kalau misalnya terjadi apa-apa. Siang harinya, saya minta temen saya itu mengantarkan saya ke rumah sakit. Saat itu belum ada pikiran bahwa ini sakit yang cukup parah, mungkin cuma sesak nafas yang pernah saya alami dulu. Tujuan ke rumah sakit pun sebenarnya untuk minta surat dokter saja untuk izin ke kantor.

Di rumah sakit, saya mendaftar ke poli umum. Beruntung ibu dokter sedang ada praktek. Singkat kata, saya diperiksa ibu dokter ini, ditanyai tentang sakit saya. Jadi saya pun cerita kalau beberapa hari sebelumnya saya mengalami demam & diare yang langsung disambut dengan rasa sesak menyakitkan ini. Lha kok ternyata ibu dokter berkata dengan sedikit muram bahwa saya harus dirontgen untuk mengetahui penyebab sebenarnya. Duh, saya langsung berburuk sangka saja. Ada apa dengan organ dalam saya? Apa jangan-jangan jantung saya bermasalah, karena dada kiri yang selalu terasa nyeri?

Setelah difoto dan kembali menunggu di depan ruang poli umum, saya melihat petugas yang memfoto saya tadi datang ke ruangan ibu dokter poli umum sambil membawa sebuah hasil foto. Itu pasti punya saya, pikir saya waktu itu. Lha tapi, saya langsung shock melihat sekilas apa yang tergambar di situ. Ada kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, jantung saya tidak bermasalah (untuk saat ini). Kabar buruknya, ternyata paru-paru saya yang mengkhawatirkan. Di gambar tersebut, paru-paru sebelah kanan tampak sangat jelas, tetapi yang sebelah kiri, hanya terlihat sebagian kecil di atas. Di bawahnya semua tampak hitam.

Sakit apakah saya? Tunggu episode berikutnya..

=))

Pekerjaan: Freelance

Terhitung sejak tanggal 1 Februari kemarin, saya resmi menjadi seorang yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Perusahaan tempat saya bekerja, sebuah perusahaan koran yang petingginya dipenjara (?) karena terlibat dalam kasus pembunuhan, secara sepihak memutus hubungan kerja saya dan rekan-rekan satu divisi. Tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mereka (para direksi) beralasan bahwa perusahaan akan melakukan audit aset-asetnya, jadi kami diminta (atau dipaksa?) untuk berhenti bekerja selama proses audit berjalan. Kata mereka, kami akan dipanggil lagi dalam waktu 2 minggu. Tapi, dalam sebuah surat yang kami terima, yang berisi tentang keputusan untuk “meniadakan hubungan antara karyawan dan perusahaan” yang harus kami tanda tangani, sama sekali tidak ada kata-kata akan dipanggil kembali. Kami pun mengerti bahwa itu adalah surat pemecatan secara sepihak. Kata-kata mereka tentang pemanggilan itu hanya abang-abang lambe, pemanis mulut, supaya kami mau-mau saja diputus hubungan kerjanya.

Tentu ini tidak adil, tapi yah, sudahlah, mau bagaimana lagi. Berurusan dengan orang berduit memang bukan hal yang mudah. Bisa-bisa saya mendahului Pak Nasrudin kembali ke pangkuan Malaikat Izrail. Ikhlaskan saja, easy come, easy go. Sejak saat itu, kehidupan saya dan beberapa rekan berubah. Yang tadinya bisa berfoya-foya terpaksa harus meniadakan beberapa kebiasaan yang cukup menghabiskan banyak dana. Tapi selain kondisi ekonomi, yang paling terasa perubahannya adalah status sosial. Ibu kost sudah cukup curiga melihat tingkah saya dan beberapa rekan yang terus-terusan ada di rumah. Mungkin kuatir kami akan ngutang duit kos bulan depan. Pada saat saya pulang kampung untuk ikut Pemilu Legislatif kemarin, banyak teman, tetangga dan saudara yang sudah lama tidak berjumpa, bertanya kepada saya: di Jakarta kerja di mana? Walhasil, saya pun kebingungan. Bagaimana tidak, bila saya jujur, bisa hancur image anak kebanggaan orang tua saya, yang pergi mencari kerja di ibukota dalam usia yang masih cukup belia seperti saya. Tentu, ini aib yang harus ditutup rapat. Saya pun menjawab: Freelance. Bukan sebuah kebohongan, karena memang saya sedang memiliki beberapa proyek freelance kala itu.

Continue reading “Pekerjaan: Freelance”