Categories
my life

Another December Anniversary

Bulan Desember memang bulan saya. Banyak kejadian penting dalam hidup saya yang terjadi pada bulan Desember. Ulang tahun saya ituh ya pas Desember. Ulang tahun blog ini pun sebenarnya bulan Desember juga, tapi saya lupa merayakannya kemaren 😆 . Lalu ada satu lagi momen spesial di bulan Desember ini, yaitu ulang tahun jadian saya dengan Nyonyah 😳

Hihihi, jadi saya dan nyonyah saya itu jadian sebanyak 3 kali, di bulan Agustus, November, dan Desember. Kenapa kok 3 kali? Jadi begini, yang Agustus itu adalah penembakan untuk yang pertama kali, yaaa seperti yang di pilm-pilm itulah. Lalu November itu pas saya dan dia lagi berjauhan, karena harus menjalani PKL (Praktek Kerja Lapangan) di dua kota yang berjauhan. Yah, daripada diserobot orang, ya saya tembak lagi aja 😆 Dan yang terakhir adalah setelah PKL selesai dan kami ketemu lagi, sekalian memastikan jangan-jangan sudah diserobot orang 😛

Dan kemarin itu, tanggal 27, adalah ulang tahun jadian ketiga saya untuk ketiga kalinya. Genap sudah 3 tahun saya lalui dengan nyonyah, meski kebanyakan adalah hubungan SLJJ, tapi gak tau kenapa masih gak bosen-bosen 😆

Ya sudah,

Happy anniversary, dear.. Terima kasih atas perhatian yang kamu berikan selama ini. Semoga Dia mengijinkan kita untuk terus bersama di tahun-tahun berikutnya. Dan semoga kamu gak semakin riwil di tahun-tahun berikutnya.

Categories
my life

Me 2.0

Welcome to 2.0 era
Welcome to 2.0 era

Akhirnya berakhir sudah masa ke-remaja-an saya. Secara resmi, tanggal 9 Desember kemarin, saya meninggalkan status saya sebagai teenager. Ya, saya ulang tahun yang ke-20. Sudah kepala dua rupanya 😀

Ada satu keenakan mempunyai hari ulang tahun di bulan terakhir, bahwa saya bisa melakukan “renungan akhir tahun” bersamaan dengan “renungan ulang tahun”. Saya akan sedikit melakukan flash back apa yang terjadi di tahun 2009 sekaligus di “penghujung muda” saya.

2009 adalah tahun tersulit yang pernah saya jalani seumur hidup saya. Terbiasa hidup dalam “ketiak” orang tua tentu memberi banyak perubahan saat saya akhirnya harus terbang dari sarang mereka yang hangat & nyaman. Setahun awal (mid. 2007 – 2008) saya jalani dengan terbata-bata. Uang masih sering habis, sering homesick, hidup semrawut dll. Tapi ternyata itu belum seberapa dengan yang saya alami di 2009. Awal tahun saja saya sudah diuji dengan dibuang menjadi sampah masyarakat (thanks to Mr SHW and his cronies). 4 bulan menjadi pengangguran, kesana kemari mencari pekerjaan, mondar mandir mencari hutang, begadang di warnet mengerjakan freelance kecil-kecilan demi makan besok, ah, sungguh pelajaran kehidupan yang sangat menampar. Untunglah semua itu bisa saya lalui tanpa harus menodongkan tangan saya kepada orang tua. Sudah cukup saya merepotkan mereka.

Pertengahan tahun, Tuhan akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang status saya sebagai tuna karya. Saya diterima di sebuah perusahaan yang berisi orang-orang yang baik. Bukan perusahaan besar, hanya saja saya kerasan di sana. Suasananya nyaman dan tidak seperti kantor-kantor saya sebelumnya yang kaku dan penuh peraturan ini-itu. Everything seems to be happy ever after after all, sampai pada akhir November ketika Tuhan kembali menjewer saya. Setelah Dia puas mengambil nikmat harta (pekerjaan & penghasilan), kini Dia mengambil nikmat kesehatan. Ya, saya yang sakit ituh. Kembali saya menjadi pesakitan (literally), jangankan kerja, lha wong bangun tidur aja susah. Kali ini saya terpaksa menjilat ludah saya sendiri. Saya menelepon orang tua dan minta bantuan mereka. Terus terang, saya nggak mampu membiayai biaya pengobatan sendiri. Lha wong baru sekali periksa saja sudah habis setengah gaji.

Yah, tampaknya Tuhan memang sedang menggodok saya untuk memasuki kehidupan yang mulai tidak bisa berkompromi lagi. Di penghujung muda saya, Dia memberi pelajaran bahwa hidup tak selamanya selalu menyenangkan, bahwa saya masih harus banyak bersyukur atas apa yang telah saya raih. Seolah Dia sendiri berkata pada saya: “Playing time is over. It’s time to get serious, boy”. Thanks for your nice birthday gift, Dear Lord.

Categories
my life

Ternyata Sakit itu Menyakitkan, Excuses Part I

Update: part II

Ternyata yang namanya sakit itu ga enak ya.. Namanya juga sakit =))

Jadi suatu hari, saya terbangun saat subuh menjelang. Hal pertama yang saya rasakan adalah dada saya terasa sangat sesak bila digunakan untuk menghirup nafas. Tapi ini ndak seperti sesek nafas yang dulu-dulu pernah menjangkiti saya juga. Rasanya di dada nyeri banget setiap saya menarik nafas, apalagi saat saya membangunkan diri dari kasur, rasanya dada sebelah kiri terbakar. Nyeriiiii. Cukup lama sampai saya akhirnya bisa menegakkan tubuh. Lalu saat terdengar suara adzan subuh, pelan-pelan saya merangkak (yes, literally) dari kamar tidur menuju kamar mandi. Maksudnya sih mau langsung sholat, siapa tahu Tuhan langsung berkenan mengurangi rasa sakit saya ini 😛

Lalu setelah kembali “merangkak” ke tempat sholat, mulailah saya menjalankan ritual suci yang sebelumnya jarang saya lakukan itu :blush: Alamak! Lha kok ketika ruku’, dada saya kembali merasa nyeri, apalagi pas sujud, saya sampai tidak kuat menahan rasa sakit dan memutuskan membatalkan sholat saya. Lalu saya kembali sholat dengan posisi duduk. Setelah sholat, saya bermaksud kembali merebahkan tubuh ke kasur, aduh, tapi rasanya semakin saya memiringkan tubuh, rasanya semakin sakit. Akhirnya saya mentok tidur dengan sedikit menyandar ke dinding.

Paginya, ketika matahari sudah mulai membakar bumi, saya putuskan tidak masuk kerja. Lha wong berdiri aja susah, masak mau kerja. Beruntung saat itu ada teman saya yang sedang tidak masuk karena ganti shift, jadi saya agak tenang kalau misalnya terjadi apa-apa. Siang harinya, saya minta temen saya itu mengantarkan saya ke rumah sakit. Saat itu belum ada pikiran bahwa ini sakit yang cukup parah, mungkin cuma sesak nafas yang pernah saya alami dulu. Tujuan ke rumah sakit pun sebenarnya untuk minta surat dokter saja untuk izin ke kantor.

Di rumah sakit, saya mendaftar ke poli umum. Beruntung ibu dokter sedang ada praktek. Singkat kata, saya diperiksa ibu dokter ini, ditanyai tentang sakit saya. Jadi saya pun cerita kalau beberapa hari sebelumnya saya mengalami demam & diare yang langsung disambut dengan rasa sesak menyakitkan ini. Lha kok ternyata ibu dokter berkata dengan sedikit muram bahwa saya harus dirontgen untuk mengetahui penyebab sebenarnya. Duh, saya langsung berburuk sangka saja. Ada apa dengan organ dalam saya? Apa jangan-jangan jantung saya bermasalah, karena dada kiri yang selalu terasa nyeri?

Setelah difoto dan kembali menunggu di depan ruang poli umum, saya melihat petugas yang memfoto saya tadi datang ke ruangan ibu dokter poli umum sambil membawa sebuah hasil foto. Itu pasti punya saya, pikir saya waktu itu. Lha tapi, saya langsung shock melihat sekilas apa yang tergambar di situ. Ada kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, jantung saya tidak bermasalah (untuk saat ini). Kabar buruknya, ternyata paru-paru saya yang mengkhawatirkan. Di gambar tersebut, paru-paru sebelah kanan tampak sangat jelas, tetapi yang sebelah kiri, hanya terlihat sebagian kecil di atas. Di bawahnya semua tampak hitam.

Sakit apakah saya? Tunggu episode berikutnya..

=))

Categories
my life

Pekerjaan: Freelance

Terhitung sejak tanggal 1 Februari kemarin, saya resmi menjadi seorang yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Perusahaan tempat saya bekerja, sebuah perusahaan koran yang petingginya dipenjara (?) karena terlibat dalam kasus pembunuhan, secara sepihak memutus hubungan kerja saya dan rekan-rekan satu divisi. Tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mereka (para direksi) beralasan bahwa perusahaan akan melakukan audit aset-asetnya, jadi kami diminta (atau dipaksa?) untuk berhenti bekerja selama proses audit berjalan. Kata mereka, kami akan dipanggil lagi dalam waktu 2 minggu. Tapi, dalam sebuah surat yang kami terima, yang berisi tentang keputusan untuk “meniadakan hubungan antara karyawan dan perusahaan” yang harus kami tanda tangani, sama sekali tidak ada kata-kata akan dipanggil kembali. Kami pun mengerti bahwa itu adalah surat pemecatan secara sepihak. Kata-kata mereka tentang pemanggilan itu hanya abang-abang lambe, pemanis mulut, supaya kami mau-mau saja diputus hubungan kerjanya.

Tentu ini tidak adil, tapi yah, sudahlah, mau bagaimana lagi. Berurusan dengan orang berduit memang bukan hal yang mudah. Bisa-bisa saya mendahului Pak Nasrudin kembali ke pangkuan Malaikat Izrail. Ikhlaskan saja, easy come, easy go. Sejak saat itu, kehidupan saya dan beberapa rekan berubah. Yang tadinya bisa berfoya-foya terpaksa harus meniadakan beberapa kebiasaan yang cukup menghabiskan banyak dana. Tapi selain kondisi ekonomi, yang paling terasa perubahannya adalah status sosial. Ibu kost sudah cukup curiga melihat tingkah saya dan beberapa rekan yang terus-terusan ada di rumah. Mungkin kuatir kami akan ngutang duit kos bulan depan. Pada saat saya pulang kampung untuk ikut Pemilu Legislatif kemarin, banyak teman, tetangga dan saudara yang sudah lama tidak berjumpa, bertanya kepada saya: di Jakarta kerja di mana? Walhasil, saya pun kebingungan. Bagaimana tidak, bila saya jujur, bisa hancur image anak kebanggaan orang tua saya, yang pergi mencari kerja di ibukota dalam usia yang masih cukup belia seperti saya. Tentu, ini aib yang harus ditutup rapat. Saya pun menjawab: Freelance. Bukan sebuah kebohongan, karena memang saya sedang memiliki beberapa proyek freelance kala itu.

Categories
my life off topic

Catatan Pengangguran

Hampir 2 bulan berlalu semenjak saya kehilangan pekerjaan dengan cara yang sangat tidak mengenakkan yang disebabkan oleh kurang peka-nya perasaan orang-orang kaya pemegang saham terhadap masyarakat kecil seperti saya ini. Hampir 2 bulan pula-lah, saya menjalani hidup sebagai seorang pengangguran. Banyak hal yang terjadi selama itu, selain semakin terbatasnya akses saya menuju dunia maya.

Salah satunya adalah saya semakin hafal dengan acara-acara televisi. Tentu saja, mau bagaimana lagi, tak ada hiburan lain yang bisa diperoleh, sementara uang harus dihemat mengingat sumber penghasilan tetap sudah menghilang. Jadiah saya seharian tidur-tiduran di depan televisi. Hal paling buruk yang terjadi adalah, teman satu kost saya, adalah tipe orang Indonesia banget. Jadi tontonannya ya acara-acara Indonesia, macam sinetron, FTV dan sinema-sinema yang selalu mengangkat cerita-cerita yang mengandung khayalan tingkat tinggi. Dan mau tidak mau, saya juga harus menonton acara-acara tersebut. (doh)

Kemudian adalah bahwa saya semakin rajin ke bioskop. Yah, adakalanya saya merasa jenuh hanya tidur-tiduran di dalam kamar selama sehari penuh. Jadi saya dan kawan-kawan senasib sepenanggungan memutuskan untuk berangkat ke bioskop terdekat mencari sedikit hiburan yang lain. Untungnya kos-kosan saya cukup dekat dengan bioskop yang murah meriah, apalagi mall baru deket kos-kosan juga sudah buka bioskop. yay! Dan karena sangat tidak terbatasnya waktu, dibanding saat masih bekerja dulu, intensitas kunjungan saya juga semakin tinggi. Hampir semua film yang diputar selama bulan Februari sampai dengan pertengahan Maret sudah saya tonton. Eh, bukan semua, hanya hampir seluruhnya adalah film-film luar negeri garapan Hollywood. Entah, saya hanya merasa aneh saja dengan film-film Indonesia. Saya selalu kecewa saat memutuskan untuk menonton film-film Indonesia. Memang ada beberapa film luar juga yang tidak terlalu bagus, tapi entah, somehow saya merasa kalau itu masih mending daripada film-film Indonesia. Jagad X Code dan Kambing Jantan adalah dua film yang saya tonton selama masa nganggur ini. Dan saya tidak bisa merasakan entertainment yang ditawarkan dalam kedua film tersebut. Apalagi Kambing Jantan, saya bener-bener kecewa. Berangkat dengan harapan akan terhibur dengan komedi seperti yang ditawarkan di bukunya, ternyata saya malah mengantuk sepanjang film. Tak ubahnya seperti film-film romantis ala Indonesia pada umumnya. Pacaran, pacaran, marahan, bla bla bla bla bla. Unsur komedi yang ditawarkan juga sangat garing, hanya beberapa saja yang cukup menghibur. Give me my 2 hours back!!

Ah, sudahlah, saya tidak mau mengalami darah tinggi gara-gara mengomentari film tersebut. (Saya ini sudah jadi pengangguran, cing! Ga usah ditambahin lagi penderitaannya!)

Categories
my life

Just Another Iteration

Ah, hari ini akhirnya datang juga. Sebuah penggenapan atas semakin berkurangnya jatah nafas saya di dunia ini. Meski tidak ada perubahan berarti semenjak penggenapan sebelumnya, kecuali dalam beberapa hal sepele, setidaknya penggenapan kali ini patut diingat, sebab today is the first day of my last year for being a teenager. Pada penggenapan berikutnya, jika saya masih ada, dapat dipastikan akan ada perubahan signifikan dalam data saya. Digit pertama pada salah satu kolomnya akan berupa angka “2”, tidak lagi “1” seperti satu dekade terakhir.

Begitulah, dan bila ada doa yang ingin, atau harus, diucapkan pada hari ini, maka doa itu adalah, semoga ini bukan yang terakhir.

Categories
my life

Tragedy

A tragedy can only be ended by another tragedy..

Sudah lama drama itu hangus terbakar oleh api tragedi, menjadi sebuah tragedi. Tak ada lagi sajak-sajak yang menghiasi tiap episodenya yang kian hari kian memilukan. Hanya tragedi. Lalu datanglah sebuah tragedi besar. Bum!! Hancurlah tragedi-tragedi itu. Hancurlah hati yang selama ini menjadi wadah tragedi-tragedi itu. Tak bersisa. Hanya tragedi.

Hahaha, puisi macam apa itu? Entah saya tidak tahu itu puisi atau apa, yang jelas beberapa kalimat di atas cukup bagi saya untuk menggambarkan sedikit rasa dari sejumput fragmen kehidupan yang baru saja saya cicipi.

Maaf, saya tidak akan memposting sejarah awal saya ngeblog, dalam rangka memperingati Hari Blogger Nasional. Ataupun posting soal orang miskin dalam rangka Blog Action Day.

Saya sedang.. shock. Down.

Ah, sudahlah…

Categories
my life

Life is Unpredictable, eh?

Life is unpredictable, indeed. You don’t know what is your next line of your whole life code.

Saat bersiap pulang dengan membawa sebuah hasil pekerjaan saya, untuk memberi orang tua saya sedikit kebanggaan atas anak sulungnya ini, perasaan berbunga-bunga saya langsung runtuh. Hancur, bersama dengan hilangnya laptop pinjaman dari kantor, beserta tas saya dan isinya, sebuah kamera digital yang baru saja saya beli, yang merupakan barang berharga pertama yang saya beli dari keringat sendiri, yang bahkan cicilannya pun belum lunas.

Saya ingin sekali misuh saat ini. Ingin sekali.

Categories
my life

That feel..

Rasa itu datang lagi. Seperti hembusan angin dingin yang menerbangkan sedikit hangat jiwa yang tersisa. Seperti hantu. Seperti Dementor. Aku benci bila rasa itu datang lagi. Lagi-lagi membuat diriku seperti sendiri, kesepian menunggu mati.

Rasanya seperti terbangun dari sebuah mimpi yang hangat, dan kembali ke kenyataan yang dingin. Tapi hangat itu masih di sana, kau mampu melihatnya, tapi tidak meraihnya. Hanya bisa gemetar menggigil.

Iri. Sendiri.

Ah, jancuk! Jancuk!! Kenapa aku lemah begini?! Hah?!

Loneliness be over.. when will this loneliness be over? – Muse, Map of Problematique

Categories
my life

Nostalgia Gula Kacang

Ada yang tahu, atau bahkan gemar, makanan bernama gula kacang? Err.. saya ndak ngerti namanya yang benar. Yang jelas di tempat saya namanya “gulo kacang” jadi bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia, kira-kira begitulah namanya.

Gula kacang ini adalah makanan yang terbuat dari dua bahan saja, gula merah dan kacang. Jadi beberapa butir kacang “dilekatkan” dengan gula merah yang sebelumnya dicairkan. Ah, saya memang tidak bakat mendeskripsikan sesuatu, kira-kira beginilah bentuknya.

Gula Kacang

Saat saya masih kecil dulu, makanan sederhana ini adalah salah satu jajanan favorit saya. Ibu saya bahkan sering memarahi saya lantaran saya sering makan makanan ini. Bikin gigi “gigis” katanya. Rasanya yang simpel itu serta harganya yang sangat murah sekali (dulu cuma 50 perak sudah dapat yang ukurannya lumayan gede) menjadi alasan saya membelinya di toko-toko kelontong terdekat. Tapi yang saya foto itu, yang dibeli ayah saya di sebuah pasar tradisional, harganya 500 rupiah. Masih murah memang, dibandingkan makanan kota yang modern.

Hanya saja, makanan ini sudah termasuk golongan langka, bahkan nyaris punah. Dulu, hampir di setiap toko kelontong menjual makanan ini. Tapi sekarang, sangat jarang menjumpai makanan ini. Jangankan di supermarket, di kios-kios kecil saja sudah jarang. Ayah saya sengaja membeli makanan itu ketika tahu masih ada yang menjual lantaran beliau tahu anaknya yang tampan menawan ini suka dengan makanan itu. Beliau melihat ada yang menjual makanan ini ketika tengah “kulakan” di pasar.

Tentu saja, begitu sampai di rumah, riwayat sang gula kacang sudah tidak panjang lagi. Saya langsung menyantapnya tanpa ampun. Ya, saya kangen rasa gula campur kacang itu. Eh, begitu tahu anaknya ini senang saat bertemu dengan kawan lama, ibu saya tidak mau kalah. Tak tanggung-tanggung, beliau berhasil menemukan orang yang menjual gula kacang dalam bentuk bungkusan. Kata beliau harganya 3500, dengan isi sekitar 15 biji. Tapi lebih kecil dibandingkan dengan yang dibeli ayah saya.

Gula Kacang

Ah, saya benar-benar senang merasakan makanan ini lagi.

NB :
Saat postingan ini diketik, saya juga sedang mengunyah gula kacang lho..
Maaf, gambar-gambar diambil secara serampangan dengan kamera hengpon biasa