Categories
my life

Nostalgia Gula Kacang

Ada yang tahu, atau bahkan gemar, makanan bernama gula kacang? Err.. saya ndak ngerti namanya yang benar. Yang jelas di tempat saya namanya “gulo kacang” jadi bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia, kira-kira begitulah namanya.

Gula kacang ini adalah makanan yang terbuat dari dua bahan saja, gula merah dan kacang. Jadi beberapa butir kacang “dilekatkan” dengan gula merah yang sebelumnya dicairkan. Ah, saya memang tidak bakat mendeskripsikan sesuatu, kira-kira beginilah bentuknya.

Gula Kacang

Saat saya masih kecil dulu, makanan sederhana ini adalah salah satu jajanan favorit saya. Ibu saya bahkan sering memarahi saya lantaran saya sering makan makanan ini. Bikin gigi “gigis” katanya. Rasanya yang simpel itu serta harganya yang sangat murah sekali (dulu cuma 50 perak sudah dapat yang ukurannya lumayan gede) menjadi alasan saya membelinya di toko-toko kelontong terdekat. Tapi yang saya foto itu, yang dibeli ayah saya di sebuah pasar tradisional, harganya 500 rupiah. Masih murah memang, dibandingkan makanan kota yang modern.

Hanya saja, makanan ini sudah termasuk golongan langka, bahkan nyaris punah. Dulu, hampir di setiap toko kelontong menjual makanan ini. Tapi sekarang, sangat jarang menjumpai makanan ini. Jangankan di supermarket, di kios-kios kecil saja sudah jarang. Ayah saya sengaja membeli makanan itu ketika tahu masih ada yang menjual lantaran beliau tahu anaknya yang tampan menawan ini suka dengan makanan itu. Beliau melihat ada yang menjual makanan ini ketika tengah “kulakan” di pasar.

Tentu saja, begitu sampai di rumah, riwayat sang gula kacang sudah tidak panjang lagi. Saya langsung menyantapnya tanpa ampun. Ya, saya kangen rasa gula campur kacang itu. Eh, begitu tahu anaknya ini senang saat bertemu dengan kawan lama, ibu saya tidak mau kalah. Tak tanggung-tanggung, beliau berhasil menemukan orang yang menjual gula kacang dalam bentuk bungkusan. Kata beliau harganya 3500, dengan isi sekitar 15 biji. Tapi lebih kecil dibandingkan dengan yang dibeli ayah saya.

Gula Kacang

Ah, saya benar-benar senang merasakan makanan ini lagi.

NB :
Saat postingan ini diketik, saya juga sedang mengunyah gula kacang lho..
Maaf, gambar-gambar diambil secara serampangan dengan kamera hengpon biasa

Categories
my life

04 Agustus

Postingan telat…

04 Agustus 2008 , tepat 2 tahun telah berlalu sejak kaa-kata itu kukirimkan padanya. Menggambarkan bagaimana hatiku senantiasa menyenandungkan namanya. Ah, sudahlah.. Just wanna say, Happy Anniversary, Hunn ..

Sedikit bercerita tentang kami, selama menjalani hubungan ini, total sudah 2 kali kami jadian. Pada 4 Agustus, 16 November dan 27 Desember 😀 . Tapi tampaknya yang pertamalah yang lebih dianggap sebagai official day. 😛

Dalam rangka itu pula, saya bertolak ke Surabaya pada tanggal 30 Juli kemarin untuk sedikit merayakan hari spesoal itu dengan dia. Kenapa tidak tanggal 3 saja? Err.. ada beberapa alasan tertentu mengenai itu. Jadi untuk merayakannya, kami berencana untuk menonton bersama di bioskop, ya, kegiatan yang sudah tak kami lakukan lantaran semenjak pindah ke Malang, saya jarang pergi ke bioskop. Film-nya gak apdet-apdet!!!

Seharian itu, kami berencana untuk menonton 2 film sekaligus. Ya, meski tak sekalap tante itu , saya rasa rencana ini cukup edan juga. Masalahnya, tak ada satupun bioskop di kota Surabaya yang menayangkan kedua film yang ingin kami tonton itu, Wanted & Hancock , bersama-sama. Sehingga kami harus menonton secara estafet di 2 tempat yang berbeda. #:-S

Setelah sempat mengalami hambatan, termasuk kehabisan tiket di detik terakhir saat akan menonton film kedua, sehingga kami harus tergopoh-gopoh pindah ke bioskop lain, hari itu berakhir. Tidak begitu indah, saya rasa, mengingat saya bukan orang yang romantis. Tapi setidaknya, kami kencan!! :D/

Dan sekarang, saya masih punya satu hutang lagi kepada dia. Just wish me luck..

Sekali lagi, hepi aniversary, Hunn.. >:D<

Categories
Movie

Wanted

Jika Anda diperintah untuk melakukan sesuatu atas nama takdir, tanpa Anda tahu kenapa dan untuk apa, hanya takdir, bagaimana Anda akan bersikap? Sentilan itulah yang saya tangkap dalam film yang sadis ini.

[SPOILER ALERT]

Cerita bermula saat seorang pria bernama Mr. X beradu tembak dengan beberapa penembak jitu di atas sebuah gedung. Mr. X yang merupakan salah satu pembunuh paling hebat dapat mengatasi musuh-musuhnya dengan mudah. Akan tetapi ketika semua musuhnya telah mati, ia baru menyadari bahwa itu semua adalah jebakan yang dirancang oleh Cross, musuhnya, yang telah membidiknya dari jarak yang sangat jauh. Peluru Cross pun akhirnya menembus kepala Mr. X.

Categories
Agama & Tuhan social

Stop Sumbang Masjid

Seperti halnya diceritakan oleh para ulama-ulama agama, bahwa nanti pada jaman akhir (atau sekarang?) masjid akan berdiri megah di mana-mana, akan tetapi isinya hanya sedikit jamaah yang shalat di sana, atau bahkan kosong melompong. Nah, bagi Anda yang memiliki KTP Islam, tidakkah Anda rasakan gejala itu mulai terjadi saat ini?

Suatu ketika, saya tengah menunaikan shalat Jumat di sebuah masjid yang cukup megah, ketika akan memasuki waktu Dhuhur, salah satu ta’mir masjid mengumumkan beberapa hal, termasuk di antaranya adalah laporan keuangan. Waktu itu yang saya dengar adalah saldo kas yang ada adalah sekitar 15 juta. :O Astaga, saya berpikir dalam hati, masjidnya sudah megah, tapi masih punya saldo kas sebanyak itu? Buat apa? Mau dipermak macam bagaimana lagi masjid itu? Well, saya memang tidak mengerti masalah akutansi, konstruksi dan kawan-kawannya itu, tapi saya mikirnya kok ya sayang uang segitu mengendap di kas lembaga masjid itu.

Mari berpikir positif dulu, mungkin saja, para donatur, yang memberi uang sampai menumpuk seperti itu, sedang memburu surga, atau setidaknya mau menghindar dari siksa kubur yang pedih atas dosa-dosa mereka, makanya mereka bersedia melimpahkan sebagian hartanya ke masjid. Lalu pihak ta’mir juga memiliki inisiatif untuk mempercantik masjid mereka dengan harapan akan semakin banyak jamaah yang datang serta kalau bisa ikut memberi sekeping dua lembar uang (kok mirip dengan traffic-oriented blog yah? 😀 ).

Tapi, kalau uang sumbangannya malah mengendap dan tak terpakai seperti itu, masak amal jariyahnya sudah mulai dihitung? Bukannya kata ulama bahwa balasan amal jariyah itu akan mengalir masuk ke rekening pahala kita ketika harta yang kita amalkan dipakai? Ah, entahlah, saya bukan ahli agama.

Lantas kalau memang mau mempercantik blog masjid, apa itu akan menjamin bahwa jumlah pengunjung jamaah yang hadir di masjid akan semakin banyak? Bukan tidak mungkin, dengan semakin cantiknya masjid, akan tetapi jumlah jamaah yang hadir juga sedikit, maka hari Kiamat, yang tanda-tandanya diceritakan para ulama seperti di awal tadi, akan datang semakin cepat. Kata guru ngaji saya, zaman Rasulullah dulu masjidnya cuma bentuk persegi biasa, ga pake tingkat-tingkat, lantainya tanah dilapisi tikar, serta atapnya cuma pelepah daun kurma. Tapi selalu full setiap waktu shalat tiba. Nah, lho?

Lagipula, jika mau investasi pahala, apa hanya bisa lewat masjid saja? Coba deh, cari lahan yang lain, salah satunya adalah bidang pendidikan. Bahkan menurut saya, menyumbang di bidang pendidikan ini jauh lebih menjanjikan daripada menyumbang di masjid. Kenapa? Karena dari orang yang Anda bantu dalam pendidikannya, bisa menyalurkan ilmunya kepada orang lain, semacam referral begitulah, sehingga nantinya donatur pahala Anda juga akan semakin banyak. Nah, kalau hanya sumbangan di masjid, donatur pahala Anda tergantung dari jumlah jamaah yang menggunakan fasilitas sumbangan Anda di masjid. Semacam Pay To Click, bahasa kerennya. Nah, kalau pengunjung masjidnya habis? Yah, terputuslah amal jariyah Anda, dan Anda akan kembali mendapat siksa kubur yang pedih.

Nah, jika Anda merasa tidak punya ilmu yang pantas untuk disumbangkan (memang ada?), bagaimana? Wah, saya ndak tahu, saya bukan Tuhan yang membuat “Term of Payment” soal transfer pahala itu. Tapi kalau menurut saya sih, dengan menyumbang materi pada bidang pendidikan, Anda juga akan dianggap ikut membantu menyebarkan ilmu itu.

Ah, tapi kan kalau menyumbang masjid, maka sudah jelas yang kita bantu adalah saudara-saudara kita sesama muslim, kalau pendidikan kan bisa saja tujuan kita nyasar ke kaum kafir! 😐

Err.. lantas bagaimana memulainya? Wah, banyak caranya . Kalau Anda mampu, Anda bisa membuka semacam kursus gratis bagi anak yang tidak mampu. Atau kalau Anda mau menyumbang dana, alihkan saja tujuan sumbangan dana Anda yang semula ke masjid itu ke sekolah atau instansi pendidikan terdekat. Atau jika Anda punya buku-buku yang sudah Anda baca, bisa Anda sumbangkan ke gerakan 1000 buku. 🙂

Semoga Tuhan menerima amal Anda. Amen!!

Categories
social

1000 Buku

Err.. hanya ingin memberi sedikit saran, jika sampeyan punya buku-buku yang sudah sampeyan khatam-kan, daripada berdebu di rak, dipinjam teman lantas tak tentu rimbanya (curcol), atau sampeyan loak-kan demi recehan uang lantas hanya menjadi bungkus kacang, mendingan sampeyan sumbangkan saja buat gerakan 1000 buku yang digalang BHI bersama CA itu..

Soal apa itu gerakan 1000 buku, silahkan baca sendiri blognya di sini..

Terima kasih..


Categories
Movie

Hancock

Tak selamanya superhero itu “baik”. Mungkin itulah maksud yang ingin disampaikan oleh sutradara film ini. Tokoh utama film ini, John Hancock, yang mempunyai kekuatan super, tidaklah seperti yang superhero pada umumnya. Ia bukanlah superhero yang dicintai warga Los Angeles. Hampir semua orang membencinya, baik itu pihak yang jahat, karena ia menumpas mereka, serta warga kota yang lain, karena ia benar-benar slengekan dan tidak terkendali. Kerusakan yang disebabkannya jauh lebih besar dibandingkan dengan yang ditimbulkan oleh para penjahat ketika beraksi.

[SPOILER ALERT]

Di awal cerita, John Hancock beraksi dengan menangkap sekelompok geng mafia yang melarikan diri dengan mobil. Anggota geng itu bersenjata serta berbahaya. Hancock, yang memiliki kekuatan layaknya Superman, tanpa kesulitan mengatasi mereka. Tapi gara-gara sifat ugal-ugalannya, bukannya terima kasih yang diterimanya, justru warga kota dan polisi mencaci maki dirinya lantaran ia meledakkan mobil polisi yang mengejar, merusak jalan tol, serta menancapkan mobil mafia itu di atap pencakar langit. Bahkan ketika terbang saja, ia sambil mabuk dan menenggak alkohol.

Sementara itu, Ray Embrey, yang gagal dalam rapat mempromosikan program amalnya kepada perusahaan besar, menghadapi bahaya maut. Mobilnya macet di tengah perlintasan kereta saat sebuah kereta api tengah melaju kencang ke arahnya. Saat kereta sudah sangat dekat, Hancock pun muncul dan menyelamatkannya, tentu saja dengan cara yang “tidak biasa”. Bukannya terbang membawa mobil Ray, Hancock malah menghentikan kereta dengan menabrakkan dirinya ke lokomotif, yang membuat semua gerbong kereta berhamburan ke jalan.

Saat itulah titik balik kehidupan Hancock. Di saat orang mencaci maki dirinya, Ray justru berterima kasih dan menawarkan cara untuk mengubah kehidupan serta pandangan orang lain terhadap Hancock. Hancock yang awalnya tak setuju, merasa tertarik. Diapun menuruti semua saran Ray untuk mengubah citra dirinya, termasuk bersedia untuk dipenjara atas keugal-ugalannya.

Benar saja, hanya beberapa minggu Hancock menghilang, kejahatan di Los Angeles menigkat tajam. Puncaknya adalah sebuah perampokan di sebuah bank di mana para pelakunya bersenjata lengkap serta membawa bahan peledak. Hancock, yang sebelumnya telah mendapatkan seragam superhero baru, serta diajari tata krama serta oleh Ray, kembali diharapkan oleh warga kota. Dan diapun sukses menangkap para penjahat serta membuat warga kota terkejut dengan perubahan sikapnya.

Semenjak itu, hubungan Hancock dan Ray semakin dekat. Dari kedekatan itulah, Hancock mengetahui bahwa Mary, istri Ray ternyata juga mempunyai kekuatan seperti dirinya. Hancock pun mulai mengingat kembali hal-hal yang dilupakannya semenjak ia mengalami amnesia 80 tahun yang lalu. Sebuah fakta yang ternyata membahayakan dirinya serta keluarga Ray, bahwa sebenarnya Mary adalah istri Hancock yang juga sesama makhluk super.

Dalam kehidupan makhluk super seperti Hancock dan Mary, dua orang super yang memiliki hubungan dekat, apalagi menikah, akan kehilangan kekuatannya, agar mereka bisa merasakan kehidupan sebagai manusia biasa. Nah, pada saat Hancock dan Mary kehilangan kekuatannya inilah, para perampok bank yang ditangkap Hancock melarikan diri dari penjara dan membalas dendam pada Hancock yang telah sepenuhnya menjadi manusia biasa. Meski akhirnya berhasil mengatasi mereka, Hancock serta Mary mengalami luka yang cukup fatal. Maka agar mereka berdua dapat bertahan, Hancock menjauh dari Mary untuk memperolah kekuatannya kembali.

Ternyata selama menjauh itu, Hancock menggambar hati lambang program amal Ray di bulan, sebagai bentuk terima kasihnya pada Ray.

[/SPOILER ALERT]

Film ini mendapat respon yang cukup buruk dari para kritikus, termasuk juga saya. Setidaknya penilaian saya adalah “tidak terlalu bagus”. Dengan awal yang cukup memukau, ceritanya mulai ngelantur dan bisa dikatakan tidak konsisten di tengah sampai akhir. Jika makhluk super akan kehilangan kekuatannya saat berdekatan, kenapa pada awal cerita saat pertama bertemu dengan Mary, Hancock masih perkasa? Mereka berdua bahkan sempat bertarung dengan kekuatan super masing-masing.

Asal-usul Hancock sendiri, bagi saya, terlalu kabur dan tidak jelas, sehingga sulit untuk mengatakan apa dan siapa sebenarnya dirinya. Tapi di samping semua itu, film ini cukup menghibur, apalagi dengan konsep berbeda yang ditawarkan. Lucu juga melihat seorang super hero ugal-ugalan, tidak “serius” seperti superhero pada umumnya. Why so serious? 😀

Rating: =D>

Categories
Hobbies

Versi Buku vs Versi Film

Sudah tahu film terbaru Harry Potter? Saya sendiri, sebagai salah satu penggemar cerita (bukan tokohnya, apalagi pemeran dalam film!!) Harry Potter, kurang antusias dengan film terbaru itu. Satu-satunya alasan yang membuat saya pergi nonton nantinya adalah karena saya kangen dunia sihir bikinan JK Rowling yang sudah cukup lama berakhir ceritanya itu.

Kenapa saya kurang menyukai film yang diangkat dari novel adalah karena beberapa hal, yaitu

1. Pemaksaan Citra

Ketika Anda membaca novel / buku, pengarang memberi kebebasan kepada Anda untuk membayangkan seperti apa sebenarnya cerita yang terjadi. Seperti apa rupa tokoh-tokohnya, seperti apa suasana yang tercipta lewat deskripsi serta penggambaran yang menjadi petunjuk bagi pembaca untuk melakukan hal itu. Bisa jadi antara satu pembaca dengan yang lain berbeda dalam hal penggambaran itu.

Sementara dalam versi film, hanya ada satu cara untuk menggambarkan cerita, tokoh & latar, yaitu sesuai dengan pemeran serta lokasi diambilnya gambar. Tidak ada yang lain. Suka atau tidak, itulah ceritanya. Anda hanya bisa pasrah pada sutradara tentang bagaimana cerita akan berjalan.

Jujur saja, saya kurang begitu suka tokoh Harry Potter yang terlalu “tampan”, serta Dumbledore yang terlalu tua dalam film-film Harry Potter. Tokoh Severus Snape juga tak terlalu jahat, meski memang terkesan dingin dan licik.

2. Penambahan & Pengurangan Cerita

FIlm, memang tidak sebebas buku. Cerita dalam film tidak boleh terlalu panjang dan bertele-tele. Tidak seperti di buku yang bisa sampai ke mana-mana. Film dengan durasi yang terlalu panjang kebanyakan tidak disukai penonton. Akhirnya untuk penyesuaian, dilakukanlah pemotongan cerita serta penambahan bagian-bagian tertentu agar cerita masih tetap nyambung. Hanya detil-detilnya saja yang diambil.

Tapi bagi saya, hal itu cukup mengganggu. Bagaimana alur yang sudah terpatri di kepala setelah membaca novel, tiba-tiba harus diubah menjadi alur cerita baru dalam versi film. Hal ini tampaknya sudah jamak terjadi pada film-film yang diangkat dari novel. Sepanjang pengetahuan saya, satu-satunya film yang nyaris sesuai dengan buku adalah Lord of The Rings garapan Peter Jackson. Hampir semua cerita yang ada di buku ada di film. Hanya saja di film pertama ada satu cerita yang hilang, yaitu ketika Frodo dan kawan-kawan bertemu Tom Bombadil, sebelum mencapai Bree.

Tapi bila Harry Potter disebut parah dalam kasus ini, maka ada satu film yang bisa disebut hancur. Yaitu Eragon, yang ditulis oleh Christopher Paolini. Jalan ceritanya serta settingnya semua benar-benar berbeda. Adegan-adegan penuh efek, yang tidak ada dalam buku, ditambahkan secara “brutal”. Mungkin dengan maksud agar film semakin menarik. Tapi bagi pembaca bukunya, setidaknya saya, hal itu adalah dosa besar, karena akan mempengaruhi cerita secara keseluruhan.

Karena itulah, saya pikir kenapa sekuelnya, Eldest, tak kunjung dibuat. Mungkin karena sutradaranya harus berpikir bagaimana “menambal” cerita yang seharusnya ada di film pertama.

3. Penonton Bukanlah Pembaca

Mungkin ini alasan saya pribadi yang sedikit dibuat-buat. Yaitu karena menjadi pembaca itu lebih menyenangkan daripada menjadi penonton. Ketika menjadi penonton, kitalah yang menjadi pihak yang aktif. Kita yang memutuskan kapan cerita akan berlanjut atau berhenti, bahkan mungkin mundur. Berkaitan dengan alasan pertama, pembaca jugalah yang berhak menentukan seperti apa cerita berjalan. Tidak seperti penonton yang hanya bisa “terima jadi”.

Well, itulah beberapa alasan saya lebih menyukai versi buku daripada versi film. Anda mungkin berpendapat bahwa film itu memang tidak harus sama dengan buku karena beberapa alasan seperti “perbedaan cara pandang antara penulis dan sutradara” dan lain-lain. Tapi bagi saya pribadi, film itu adalah visualisasi dari buku, jadi tidak boleh ada perbedaan sedikit pun, karena hal itu akan membentuk sebuah cerita baru, yang membuat film tak lagi menjadi visualisasi dari buku, tapi adalah sebuah media cerita yang baru.

🙂

Categories
Agama & Tuhan

God is a Programmer

DISCLAIMER: Sesuai dengan janji saya di postingan sebelumnya, kali ini saya akan mengemukakan teori saya tentang siapa itu Tuhan. Tidak ada dalil yang saya ambil, karena ini memang hasil pemikiran saya sendiri. Dan jika Anda kira saya ini sesat lantaran pemikiran saya ini, ketahuilah bahwa saya semakin percaya tentang Tuhan setelah memikirkan ini.

Apakah Anda tahu apa kira-kira tujuan Tuhan menciptakan makhluk-makhlukNya? Untuk beribadah pada-Nya? Ya, itu kata kitab suci. Tapi apa untungnya bagi Dia? Dia toh sudah Maha Segalanya, tanpa kita sembah, bahkan tanpa kita ada pun, Dia tetap Tuhan, meski entah menuhani apa.

Lantas, apa sebenarnya tujuan Dia? Sebelum membahas tentang tujuanNya, saya akan membahas tentang bagaimana Dia menciptakan dan mengatur kita, apakah Dia akan terus menerus memantau perkembangan kehidupan makhluknya seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya? Well, that must be joke. Indeed. Mungkin yang lebih tepat menggambarkan bagaimana Dia menjadi Tuhan adalah komentar dari Nabi Danalingga di postingan tersebut.

Kalo saya jadi Tuhan. Saya ciptakan saja hukum yang mengatur kehidupan ciptaan saya. Lantas saya tinggal ongkang-ongkang kaki menikmati tontonan menarik dari ciptaan saya.

Pemikiran saya ternyata hampir mirip dengan beliau!! B-) Saya berpikir bahwa Tuhan itu adalah seseorang, eh, sesuatu, eh, Dzat yang telah merencanakan segala hal sebelum menciptakan makhluk-makhluknya. Ah, mudahnya, dia adalah seorang programmer, sementara kehidupan ini adalah program yang tengah berjalan. Segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi telah diprogram sebelumnya, pada saat Zaman Azali alias Developing Mode. Kala itu Tuhan tengah sibuk dengan IDE serta blok-blok kode, serta meng-compile serta men-debug kode buatannya, sebelum Dia menjalankannya, tepat pada saat waktu dimulai dalam istilah kita.

Jadi, mirip dengan postingan saya yang lain, sesuai dengan quote dari game Prince of Persia, You Cannot Change Your Fate, fate alias takdir, adalah alur bagaimana program kehidupan ini berjalan dari awal dimulainya waktu, sampai nanti program berakhir atau istilahnya Kiamat. Semuanya telah diperkirakan serta dihitung dengan Maha Tepat. Jadi jangan terlalu bangga dengan istilah “mengubah takdir”, sebab usaha Anda mengubah alur program itu, sudah diatur oleh Tuhan dalam kode programNya.

Oleh karena itulah, ada beberapa ayat di Kitab Suci, entah yang mana, saya lupa, yang kira-kira memiliki arti bahwa kita tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan Tuhan. Ya, itu betul, sebagai sebuah object dalam sebuah program, Anda tidak bisa tiba-tiba melenceng dari flow yang sudah diatur Tuhan. Seandainya pun terjadi, hal itu (melencengnya alur karena “usaha” Anda) adalah sebuah event yang sudah diperkirakan akan terjadi oleh sang Programmer. Hanya sang Programmer yang bisa mengubah dan mengatur bagaimana sebuah object (makhlukNya) berperilaku (behavior), bagaimana sebuah kejadian (event) terjadi dalam alur takdir.

Hal itulah yang, menurut saya, dimaksud dalam sebuah ayat yang mengatakan bahwa kita ini sesungguhnya sama sekali tidak berdaya. Ya, kita hanya bisa mengikuti alur program (takdir) Tuhan, tanpa tahu bagaimana kira-kira nantinya alur program membawa Anda.

var nazieb = new Human(); //create a new human
with(nazieb) {
.setSex(“male”); //set the sex to male
.setAge(60); //set the age to 60
.setJodoh(angelndutz); //set the “Jodoh” to another Human variable, angelndutz
.setWealth(100000); //set the wealth to 100000

.learn(“blog”); //make the object learn about blog
.meet(bloggers); //meet the object with “bloggers” group
.doAction(“post about God”); //make the object post something about God

.decWealth(“90000”); //decrease the wealth of the object by 90000
.setFeel(sad); //make the object feels sad
.think(“suicide”); //and make the object think about suicide

.listen(“religion”,”motivation”); //make the object listen about religion and motivation
.cancel(“suicide”); //cancel the object’s will to suicide
.doAction(“change my fate!!!”); //make the object do something to “change his fate”

.incWealth(“1000000”); //then increase the wealth by 1000000
.setFeel(happy); //set the feels to be happy
.think(“I’ve changed my fate successfully!!”); //make object thinks that he has changed the fate

.die(); //finally, destruct the object
}

Kira-kira begitulah contoh sederhana kode yang dibuat Tuhan untuk saya. Jadi ketika saya berpikir bahwa saya telah berhasil mengubah nasib saya, sesungguhnya hal itu sudah diprediksi oleh Tuhan, bahkan Dia sendiri-lah yang membuat saya melakukan usaha “mengubah takdir” itu.

Kemudian, apakah tujuanNya menciptakan super-program ini? Nah, sebenarnya saya tidak punya sebuah pemikiran yang jelas soal itu, hanya sebuah pemikiran yang jauh lebih ngawur: Bahwa sebenarnya Programmer kita ini adalah seorang peserta lomba membuat program di mana kehidupan ini sebenarnya adalah program yang tengah dinilai oleh juri lomba tersebut. :-j

Hmmm, jadi bagaimana? Apakah Anda tadi diprogram untuk membaca postingan ini? Atau Anda telah diprogram untuk melakukan fast reader? 😛 Lantas bagaimana lanjutan alur program Anda? Berkomentar setuju? Tidak setuju? Atau misuh-misuh? Do your part..

Categories
Agama & Tuhan

Jadi Tuhan Itu Membosankan

Pernahkah Anda berpikir untuk jadi Tuhan? Saya pernah. Alasannya simpel. Saya tidak kepingin mati. Membayangkan ngerinya Hari Akhir serta neraka yang pedih yang diceritakan di Kitab Suci ituh, saya jadi takut untuk diadili. Tapi pasti menyenangkan jika saya yang mengadili.

Sempat membuat rancangan agama baru bernama Naziebiyah, serta mulai menyusun Kitab Suci, saya urungkan niat saya itu. Kenapa? Selain karena beberapa hal (tidak ada pendidikan di sekolah / universitas manapun yang mengajarkan cara untuk menjadi Tuhan serta posisi Tuhan saat ini sedang tidak lowong), saya punya sebuah alasan: menjadi Tuhan itu pasti membosankan.

Bayangkan, Anda harus melek setiap hari melihat makhluk-makhluk ciptaan Anda yang jumlahnya triliunan itu, selama 24 jam mulai dari sejak Anda menciptakannya pertama kali dulu. Sudah begitu, Anda harus mendengar rengekan ciptaan-ciptaan Anda serta pisuhan-pisuhan mereka bila Anda tidak segera mewujudkan keinginan mereka. Bisa saja Anda beri mereka adzab yang pedih, tapi kalau itu Anda lakukan secara merata, bisa dipastikan ciptaan Anda yang berakal dan pandai merengek itu bakal musnah, dan Anda harus memulai segalanya dari awal.

Selain itu, apa tidak bosan bila harus mendengar para malaikat memuji Anda terus? Well, dipuji itu memang menyenangkan, tapi kalau dilakukan secara terus menerus dalam waktu yang lama oleh orang yang banyak? :O Belum lagi pujian oleh makhluk mulia ciptaan Anda yang pandai menjilat itu? Kemudian, apa pula enaknya hidup sendirian*? Tidak ada teman, tidak ada pacar, tidak ada blog, kopdar ataupun teman chatting? Ugh. Sahabat itu, katanya lebih berharga dari apapun. Lha Tuhan?

Memang Anda bisa saja membuat hiburan Anda sendiri dengan membikin makhluk mulia ciptaan Anda itu saling hina bahkan sampai perang gara-gara Anda*. Atau dengan membuat beberapa dari mereka tidak percaya terhadap Anda. Ya ya, cukup menyenangkan sih, tapi kok rasanya tidak sebanding dengan job description Anda.

Yah, mungkin karena beberapa hal itulah, saya memutuskan untuk jadi manusia saja. Menjalani satu episode dan mati. Sudah. Cukup. Membusuk di dalam kubur tampaknya lebih menyenangkan daripada duduk di atas langit sana terus menerus.

Tapi, mengingat betapa tidak menyenangkannya pekerjaan tersebut, saya menaruh hormat kepada Anda yang sekarang menjabat jadi Tuhan. Semoga Anda betah menjalani profesi Anda.


Postingan ini diilhami oleh postingan Pakde Goop yang mengingatkan saya pada guyonan saya tentang Tuhan itu.

PS:
*) Saya punya teori tersendiri mengenai hal tersebut, mungkin di postingan yang akan datang

Categories
my life

At All Cost

Berbagai cara akan ditempuh manusia untuk mencapai apa yang diinginkannya. Terlepas baik atau buruk keinginannya itu. Bahkan dia akan melakukan hal yang paling tidak disukainya. At all cost.

Termasuk di dalamnya adalah ibu saya yang tersayang. Beliau rela melakukan apa saja demi membuat anaknya ini mandi :mrgreen: Ya, beberapa hari ini beliau sudah melakukan beberapa cara untuk menyuruh saya mandi, dengan kekerasan, tidak mempan. Dengan cara yang halus (menyuruh baik-baik) pun tidak berhasil. Akhirnya sore tadi beliau menggunakan cara terakhir. Memasakkan air hangat buat saya mandi. Perlu diketahui, beliau sama sekali tidak suka dengan mandi air hangat. “Seperti orang sakit”, begitu katanya. Tapi akhirnya, hal itu dipakainya sebagai jurus pamungkas melawan jurus andalan saya: “Dingin”. Dan jadilah, saya mandi untuk pertama kalinya minggu ini. :mrgreen: