Ternyata Sakit itu Mahal, Excuses Part II

Kelanjutan dari part I

Setelah di rontgen, saya kembali menghadap ibu dokter yang baik. Beliau sedang mengamati foto X Ray dada saya. Saya sudah ga enak aja melihat foto itu. Dan saat ibu dokter yang baik ngomong ke saya, perasaan saya semakin tidak karuan. Perkataan ibu dokter tersebut membawa kabar baik sekaligus kabar buruk. Kabar baiknya, prasangka saya yang menduga bahwa jantung saya yang bermasalah ternyata salah! Jantung saya sehat-sehat saja. Berita buruknya: “Mas, ada cairan yang menyumbat paru-paru Mas”. Mampus!

Saya lemes mendengar diagnosis itu. Lha wong saya ini jarang sakit, lha kok sekali sakit kok ya bagian itu yang kena. Ibu dokter yang baik ini kemudian memberi saya surat  rujukan agar saya bisa menemui dokter spesialis paru-paru. Mendengar kata spesialis, saya menjadi tambah lemes. Yaaa.. dokter spesialis bagi saya berarti semakin banyak duit yang harus keluar hari itu. Tapi mau bagaimana lagi, nafas saya sudah semakin menyakitkan waktu itu. Akhirnya dengan lemas, saya berjalan ke poli paru-paru. Singkat cerita, saya diterima pak dokter yang budiman. Beliau melihat foto X Ray saya dan membaca rujukan dari ibu dokter umum yang baik. Sambil masih menerawang foto X Ray, pak dokter berkata dengan enteng. “Wah ini sih harus operasi”. Semakin lunglai saya.

Pak dokter yang budiman tersebut kemudian memeriksa saya kembali. Setelah beberapa lama beliau mengatakan satu hal yang (seharusnya) sedikit melegakan saya. “Ga usah operasi bisa kok, Mas. Tapi harus opname. Gimana?”. Wanjrot! Opname? Euthanasia saya saja dok!! Saya gelagapan menjawab pertanyaan pak dokter. Lha wong pilihannya sama-sama ga enak dari segi moral maupun finansial. Saya mikirnya kalo saya opname, siapa yang bakal menemani saya di rumah sakit? Keluarga ga ada, temen-temen pada sibuk. Bisa-bisa mati bengong saya di sana, bukan gara-gara paru-paru ini.

Melihat gelagat saya ini, pak dokter yang budiman sepertinya paham. “Rawat jalan sih juga bisa, cuma sembuhnya agak lama. Dan juga belum tentu sembuh sampai tuntas”. Melihat ada sedikit celah untuk berkilah, saya pun menyambarnya. “Rawat jalan saja Dok!”. Pak dokter yang budiman, meski tampak enggan, menjawab “Ya sudah kalau gitu. Saya ambil dulu cairannya sedikit buat dites”. What?! Paru-paru saya mau dikeluarin terus diperes gitu?! Lagi-lagi pak dokter paham. “Cuma disedot pake suntikan sedikit di dada”.

Saya lalu disuruh buka baju dan mengangkat tangan sebelah kiri. Kontan bau tak sedap segera menyeruak di hidung saya. Saya baru ingat belum mandi sejak saya mulai sakit😛 . Saya melirik mbak suster yang membantu pak dokter yang budiman mempersiapkan alat-alatnya. Dari ekspresi wajah, saya yakin dia juga mencium aroma eksotis tersebut :)) . Saya memejamkan mata saat pak dokter yang budiman mulai mengangkat jarum suntik dan mengarahkannya ke dada saya. “Ga sakit kok”. Tapi aww! Maaak! Rasanya dada saya ngilu. Saya merasakan jarum suntik pak dokter yang budiman yang dingin masuk melewati rusuk saya kemudian membentur sesuatu yang keras. Dan saat pak dokter yang budiman mencoba menyedot, rasa sakitnya benar-benar tak tertahankan. Saya tidak kuasa untuk tidak meringis kesakitan.

Pak Dokter yang budiman berkata “Wah cairannya sudah agak mengeras”. Saya cuma melongo membayangkan paru-paru saya berisi cairan seperti semen yang akan mengeras menjadi beton. Pak Dokter yang budiman berkata lagi “Nanti saya kasih obat biar bisa mencair sendiri”. Saya kembali melongo membayangkan ada cairan di paru-paru yang kemudian menetes-netes ke organ tubuh yang lain. Pak Dokter yang budiman berkata lagi, “Nanti kalo sudah encer, bisa diserap oleh tubuh”. Saya pun tidak melongo lagi. Lalu beliau melukis abstrak di sebuah kertas kemudian menyerahkannya ke saya, “Ini resepnya, silakan ditebus di apotek. Jangan lupa ke lab juga buat tes darah. Lekas sembuh ya”.

Singkat kata saya menuju kasir untuk membayar biaya dokter, obat dan tes lab. Setelah lemes di combo bu dokter yang baik dan pak dokter yang budiman, kali ini mbak kasir yang memberi jurus ultimate: “Semuanya jadi satu juta enam ratus ribu rupiah”. Saya langsung K.O. Lha wong berangkat ke RS cuma bawa duit seratus ribu, lha kok ditagih lebih separo gaji saya sebulan😐 . Ya sudah, mau tak mau, mau bagaimana lagi, dengan segala daya dan upaya akhirnya saya berhasil menebus tagihan itu semua.

Setelah lemes dihajar pihak RS, saya menelepon orang tua saya mengabari kondisi saya yang mengenaskan. Tentu saja mereka kaget mendengar berita itu. Dengan serta merta mereka memberi titah saya harus segera meninggalkan Jakarta dan menuju ke Headquarter di Malang. Saya disuruh nyari pesawat keesokan harinya. Saya pun nurut, langsung mencari info tiket pesawat yang berangkat keesokan harinya, dan yak, total lebih dari gaji saya sebulan habis hanya dalam satu hari. Gara-gara cairan rese itu. Menyebalkan. Tapi meski begitu saya bersyukur, berkat obat dari pak dokter yang budiman serta perawatan dari orang tua saya, penyakit saya sudah tak terasa lagi sampai sekarang. Paru-paru saya sekarang bersih dari cairan aneh seperti halnya juga kantong saya bersih dari duit😉 .

Maka dari itu, Anda yang masih belum merasakan sakit yang parah, rawatlah diri Anda sendiri. Toh kalau ada apa-apa, kita juga yang menderita secara moral maupun finansial. Kata pak dokter yang budiman: “Makan 3 kali sehari, 4 sehat 5 sempurna. Jangan lupa olahraga dan istirahat yang cukup”. That’s it!😀

PS: Maap saya kurang update selama ini, saya masih berusaha menata hidup. Mencari ritme yang tepat agar saya bisa menikmati setiap segmen-nya dengan banyak orang lain yang saya kenal. Selama ini terlalu fokus di satu segmen saja, hingga saya mungkin sudah jadi stranger bagi orang-orang di segmen lain. Maafkeun, bukan maksud hati sombong atau memutus tali silaturahmi. Semoga kita bisa kembali bersua suatu saat nanti😉

33 thoughts on “Ternyata Sakit itu Mahal, Excuses Part II

  1. apalagi kalau minum air bio , lendir hijau yang bikin sesak didada amblas keluar,enteng ,”airbio /btl isi 1,5 ltr =rp25.000″ diminum pagi sebelum sikat gigi=1 gls (250cc) kira2 habis 3 btl kelihatan hasilnya.semua karena pengalaman sendiri.

    Like

  2. hmmm……. Terharu bercampur lucu bacanya😀. Lucunya pada bagian “mencium aroma eksotis” wkwkwkw,
    semoga sehat selalu deh ke depannya om Nazieb🙂
    @maria beli air bio dimana ya ? di apotik ada ga?

    Like

  3. Salam kenal mas Nazieb, saya kagum dengan kehandalan mas Nazieb menciptakan blogskin yang mirip banget sama Facebook. Saya prihatin membaca artikel tentang penyakit yang sedang menimpa mas Nazieb dan saya hanya bisa mendoakan agar mas Nazieb dapat segera sembuh kembali..

    Like

  4. Alhamdulillah,nazieb dah sembuh….memang kita harus membagi waktu untuk bekerja,bersosialisai,dan beristirahat.Sukses selalu buat Anda,saya tunggu ya inovasi template facebooknya..kayaknya yg ngegunain template bikinan anda dah ribuan….!

    Like

  5. salam kenal…
    sedikit saran, mohon di cek ulang ( rontgen dan lab-nya ) untuk memastikan cairan itu sdh ga ada.
    soale kebanyakan pasen sy merasa sdh baekan tp ga mau cek ulang, ternyata msh tersisa cairan disana. lama2 ngumpul lagi…sakit lagii

    Like

  6. Apalagi kalau sudah sakit parah dan seperti mo mati…..
    Kita jadi maunya deket buanget deh sama Sang Khalik dan baikin supaya jangan dimasukin ke neraka…..(habisnya baru dikasih sakit aja dach setengah mati…..)

    Like

  7. Kita seharusnya memang harus mensyukuri setiap waktu, jam, menit, detik yang kita lalui, dengan selalu menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya

    Like

  8. Howdy very cool web site!! Man .. Beautiful .. Amazing .. I will bookmark your web site and take the feeds additionally

    Like

  9. The revolutionary iPhone has become so much a part and parcel of our lives today that m&#1072ny people call the present the iPhone era instead &#959f the digital era. One of the reasons that life without an iPhone has become unthinkable are th&#1077 splendid iPhone apps hundreds and thousands of them that are m&#1072king our life simpler in any way we can think of, starting from social n&#1077tworking, to &#406if&#1077sty&#406&#1077, to business, to education.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s