Keyakinanku tidak membutuhkan keyakinan orang lain
– Morpheus, Matrix: Reloaded
Otak adalah otot terakhir yang dipakai manusia
– Oromis, Eldest (buku kedua trilogi Inheritance)
Keyakinanku tidak membutuhkan keyakinan orang lain
– Morpheus, Matrix: Reloaded
Otak adalah otot terakhir yang dipakai manusia
– Oromis, Eldest (buku kedua trilogi Inheritance)
Dasar anak muda jaman sekarang…
Pengennya cari perhatian doank…
Sudah tahu mereka budeg…
Malah protes pake jahit mulut…
Lha wong yang treak-treak pake TOA aja dicuekin…
Oalah..
Hanya pamer..
Ini postingan keseratus saya lho..
😀
Tadi pagi, saya nonton pertandingan Euro antara Prancis lawan Italia. Saat mendengar lagu kebangsaan Prancis, saya kaget, nadanya mirip banget dengan lagu “Dari Sabang sampai Merauke” :-O
Atau saya yang salah?? :-??
Silaken klik di sini untuk mendengarkan versi instrumen dari “La Marseillaise”
Pagi ini Malang berkabut..
Dingin..
Ah, biarlah.. Aku memang rindu kabut..
Setelah lama menghirup gumpalan asap di sana..
Ah, kabut..
Sengajakah engkau mewakili pikiranku?*
—
*cuplikan lagu Menjaring Matahari karya Ebiet G. Ade
Hari Sabtu kemarin (07/06) ketika tengah berkencan dengan nyonya saya, ternyata warga kampung tengah berontak. Minta dikasih jatah. Ah, sial. Pagi-pagi begitu masih jarang ada warung yang sudah buka di daerah Rajajowas. Setelah sempat muter-muter, pandangan mata kami pun terpaku pada sebuah warung yang belum pernah kami lihat sebelumnya di saat masa-masa indah SMA dulu. Namanya Warung Bu Haji. Entah Bu Haji siapa, tidak ditemukan petunjuk lebih jauh. Sebut saja Bunga.
Warung itu terletak pas di samping warung P. To yang sudah familiar dengan kami sebelumnya. Tepatnya di Jl. Danau Maninjau Selatan D1-D25 Sawojajar, Malang, Jawa Timur, Indonesia. Tidak diketahui secara pasti hubungan P. To dengan Bu Haji ini. Beredar isu bahwa mereka adalah suami-istri yang menikah secara diam-diam. Ah, daripada makan yang sudah pernah, maka saya dan nyonya saya pun memutuskan untuk mencoba warung baru itu.
Membaca daftar menu yang ditempel di dinding, saya jadi teringat ayam goreng roker yang juga ada di Rajajowas itu. Menunya hampir sama, yaitu ayam bakar dan ayam goreng kriuk. Mirip dengan ayam goreng manis dan ayam goreng krutug ala Roker. Fasilitas yang disediakan pun hampir mirip, yaitu adanya paket murah 5000 yang sudah mendapat ayam, nasi serta minum.
Dan dilatarbelakangi oleh keinginan membandingkan dengan menu Roker serta keterbatasan dana, saya dan nyonya pun memutuskan untuk memesan paket hemat itu. Agar bisa saling mencoba, saya pesen yang ayam bakar sementara nyonya pesen yang ayam goreng kriuk.
Setelah sekitar 15 menit terlewati sementara saya dan nyonya tengah berasyik-masyuk, mbak pramusajipun datang membawa pesanan kami. Dan, wow… satu hal yang jarang saya temui di restoran yang tidak mengizinkan pembeli mencangkul mengambil nasi sendiri, nasinya ternyata seambreg!! Warga kampung tengah pun semakin brutal berdemo dan mulai terlibat aksi saling pukul dengan FPI.
DISCLAIMER: Bagi Anda yang ndak ngerti basa Jawa, saya mohon maap, hampir 68%™ 100% bahasa yang saya pakai di postingan ini adalah bahasa Jawa, bahasa Malang-an tepatnya. Bukannya saya bersikap rasis atau chauvinis, saya hanya kangen memakai bahasa itu.
Suwatu hari, di sebuah kota-yang-katanya-adem-tapi-ndak-adem-lagi-ituh, di sebuah warung nasi, terjadilah sebuah percakapan…
Ainun: Sam, tuku oges karo oskab ageh, ayas ewul durung nakam blas..
Nazieb: Orip?
Ainun: Ubires ae..
Nazieb: Lha ojobmu gak masak ta?
Ainun: Kadit, nang owutrem, kangen jarene..
Nazieb: Lha dadi umak saiki rudit dewe?
Ainun: Oyi
Nazieb: Owutrem-mu dadi opo seh?
Ainun: Sing Ebes biyene silup, tapi wes ketam, kewut soale..
Nazieb: Lha sing kodew?
Ainun: Mbuh ayas kadit itreng..
Nazieb: Ooo.. mantu nade!!
Ainun: Adapes-e sampeyan ndi?
Nazieb: Kenek silup wingi..
Ainun: Lha gak sampeyan kek-i ojir ta?
Nazieb: De’e kadit uam
Ainun: Lha opo’o?
Nazieb: Ayas mek nggowo amil ubir
Ainun: Yo mesti ae jess…
Nazieb: Lha mari tak gawe tuku kitip karo pakane sudew..
Ainun: Lha tekan hamur iki maeng uklam?
Nazieb: Kadit, melok libom-e nawak-ku..
Ainun: Owalah.. Yowis Sam.. aku tak ngalup disik..
Nazieb: Oyi, ati-ati..
[Update]
Ternyata masih banyak kesalahan dalam kemampuan saya berbahasa Ngalam. Untuk koreksinya silakan lihat komen dari om Gum ini. ^:)^
Berikut ini jawaban beberapa orang yang dimintai komentarnya seputar penyerangan FPI
Ainun : Ah, saya ini orang Islam tapi gak merasa dibela sama Front Pembela Islam ituh..
Ah, berarti Anda Islam ga bener!! Sesat!! Murtad!!
Nazieb: Hmm.. Ternyata film Fitna itu ada benernya juga yak..
Apanya yang bener?! Yang diceritakan di situ salah semua!! FPI-lah yang bener, soalnya kekerasannya sesuai dengan petunjuk penggunaan Tuhan!
Nuina : Sebenernya yang sesat itu siapa sih?
Yang sesat itu ya bloger-bloger itu
Zibane : FPI itu fraksi DPR dari partai mana sih?
Haiah, OOT!!
Zanieb : Saya ini bekas tukang pukul, dulu saya ditakut-takuti dengan api neraka biar tobat, lha kok ini mukuli orang kok malah dijanjikan sorga…
Ah ya.. Ternyata harga sorga itu cuma sebesar harga sorban & baju koko