Musuh

Musuh. Ya, musuh adalah antonim dari teman. Sinonim dari lawan yang juga kebalikan dari kawan. Seseorang yang Anda tidak sukai, atau merupakan tandingan yang harus Anda kalahkan dalam sebuah pertandingan atau pertarungan. Mana menurut Anda yang paling enak? Punya teman atau punya musuh? Banyak teman, of course. Tapi apakah punya musuh itu tidak penting dan tidak mengenakkan? Saya rasa kok tidak. Sadar atau tidak, kita, menurut saya, sangat membutuhkan musuh. Sebab tanpa ada musuh, kita akan menjadi kurang menghargai teman kita, dan malah bisa jadi akan memposisikan mereka menjadi musuh yang baru. Sementara jika kita memiliki musuh, bukannya tidak mungkin, musuh-musuh yang kita hadapi di “pertarungan” yang lain akan berbalik menjadi teman kita.

Contohnya saja, masih ingatkah Anda soal pencaplokan budaya negeri ini oleh negara tetangga? Kala itu, beberapa warga negara ini langsung mengecap negara tersebut sebagai musuh. Dan melakukan perlawanan sengit dengan cara mencaci maki serta menyumpahi negara tersebut. Pada saat “perang” itu, beberapa warga negara ini yang lain langsung ikut turun membantu. Dan jadilah, mereka yang sebelumnya tidak pernah kenal, menjadi sekutu yang solid dalam melakukan pencacimakian terhadap “musuh”. Bahkan warga negara ini yang sebelumnya pernah berseteru, langsung bahu membahu memisuhi sang musuh. Sungguh sebuah pertemanan yang erat. Tapi lihatlah, ketika perang usai, ketika sekutu itu telah kehilangan musuh, apa yang terjadi? Mereka sesama kawan mulai renggang, dan bahkan ada yang memulai kembali pertikaian yang sebelumnya tertunda gara-gara mereka harus bersatu melawan “musuh yang lebih besar”

Contoh lain, ada sebuah agama yang pengikutnya cukup banyak. Tapi di dalam agama itu, para pengikutnya saling terpecah dan tak jarang bertikai. Masing-masing saling hujat atas ibadah yang dilakukan aliran lain. Saling men-cap sesat, menajiskan, dan meng-kafir-kan. Tapi ketika ada sebuah peristiwa di mana gambar orang suci mereka muncul di media, mereka segera melupakan perselisihan itu, dan langsung bersatu melakukan demo, protes, mengisi petisi dan somasi, serta menghujat sang pemasang foto. Mereka kembali menjadi “saudara” yang saling bantu, seperti yang diajarkan agama mereka.

Dan sekarang, setelah perang mereda, mereka merasa gatal untuk kembali berperang di jalan Tuhan mereka. Tapi akibat ketidak adaan musuh, mereka akhirnya menciptakan musuh sendiri. Dari apa? Ya dari rekan-rekan seperjuangan mereka dulu. Dengan tema perang yang lain tentunya. Kini rekan se-kompatriot itu kembali bertikai, mencela dan menghujat akibat yang satu merayakan ulang tahun orang suci mereka sementara yang lain tidak. Yah, kita memang makhluk yang sangat suka, atau mungkin butuh, lebih tepatnya, untuk bermusuhan.

“He who has a thousand friends has not a friend to spare, And he who has one enemy will meet him everywhere.” – Ali ibn-Abi-Talib

Mau jadi musuh saya? >:)

51 thoughts on “Musuh

  1. mauuuu…..πŸ˜€
    _________________
    tidak sadar memang musuh dibutuhkan, atau dicari? jadi zieb, apakah harus mengasihi musuh? kalau saya iya. Misalnya, saya akan melukai dengan penuh perasaan, mau zieb?πŸ˜†

    Goop’s last blog post..Sisa

    Like

  2. lebih milih punya lawan daripada musuh. kalau sama lawan, ada beda pendapat/pemikiran yang berpotensi bikin kekayaan pengalaman dan pemikiran kita sendiri berkembang karena berhadapan dengan lawan. tapi di sisi lain masih bisa asik main2 & bercanda2 dengan lawan juga. kalo musuh, wah … wahπŸ˜€

    Like

  3. Musuh membuat kita berusaha untuk tetap bertahan. Musuh bisa berupa apa saja. Baik phisik maupun non phisik. Dalam dunia marketing, musuh (pesaing) justru membuat semua jadi lebih baik.

    Lihat saja TV/Radio, yang dulunya segede gambreng, sekarang imut secuil pun ada. Juga HP yang dulu pake antena, sekarang .. saking kecilnya malah sering hilang hehehe ..

    Jadi .. musuh itu perlu.

    erander’s last blog post..Be yourself

    Like

  4. Gyahahaha!!!! kalo gidu sekarang kita jadi musuh kawand!!! jadi musuh!!!
    nah, terus kapan dikau traktir daku makan-makan? terus jalan-jalan? gimana? gimana? musuh khan? musuh khan?!!! Gahhhh!!!!
    *binun sendiri*
    _______________________
    eniwei, musuh memang terkadang berguna ko’, kek ditipi-tipi, si lakon jadi punya kemampuan tembak menembak, membunuh orang dengan sadis, terus jadi keren waktu ngledakin mobil juga gara-gara musuhnya yang mbunuh semua keluarga si lakon….
    tapi bentar…
    kayanya ndak nyambung afa ya? *ditendang*

    hoek soegirang baru bangun tidur’s last blog post..The Sleeper Has AwakenÒ€¦

    Like

  5. Vicky: gak masalah mas, enjoy ajaReni: hehheeh, bisa aja bosBlog bisnis: tergantung pakai vendor mana dulu, ada yang OK ada yang tidak, kalao transaksinya langsung lewat forum banyak juga yang mau kok.hendrawan: OK bos setuju, OK juga sih dia

    Like

  6. Kalau saya sih, seandainya punya musuh misalnya dalam sebuah perlombaan, saya akan jadikan dia sebagai motivasi saya, yaitu sebagai pemberi juara untuk saya..πŸ™‚

    Salam kenal om, sukses selalu..πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s