Renungan Menjelang Tidur

Pagi-pagi saya berangkat menuju kantor naik angkot dari kontrakan teman. Karena merasa bosan, saya kemudian menyalakan Music plyaer di handphone saya dan mulai mendengarkan lagu seperti Linkin Park, My Chemical Romance, System of a Down lewat headset saya. Karena lagunya yang nge-beat dan cenderung keras, rasa kantuk saya pun hilang. Sampai di sebuah perempatan, seorang pria masuk. Dia duduk di sebelah saya. Kemudia dia mengeluarkan semacam alat yang ukurannya sedikit lebih besar dari handphone saya. Awalnya saya tidak tahu alat apa itu, kemudian orang itu menancapkan headset di salah satu port, dan membuka casing dari alat tersebut serta mulai menyalakannya.

“Ah, MP3 player jenis lama,” batin saya.

Kemudian saya mulai berpikir macam-macam. Bahwa kalau MP3nya masih sebesar itu, berarti orang itu masih out-of-date, dan orang seperti itu biasanya musik yang didengar juga musik-musik lawas semacam Iwan Fals yang lama, atau mungkin juga Koes Plus. Saya mulai sedikit besar kepala. Tapi saat alat tersebut menyala, saya sungguh terkejut. Yang muncul di layar monochrome-nya bukan playlist yang berisi daftar lagu yang saya pikirkan tadi, tapi sebuah tulisan Arab yang di bawahnya terdapat terjemahan latinnya. Tulisan tersebut berbunyi: Al-Maidah.
Ya, ternyata itu bukan MP3 Player jadul seperti dugaan saya, tapi justru semacam Al Quran digital. Saya jadi malu sendiri, lalu headset saya langsung saya lepas, dan music player saya langsung saya matikan.

Saya malu pada diri saya sendiri. Orang tersebut masih sempat-sempatnya mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al Quran walau dalam kondisi di dalam angkot seperti itu. Sementara saya, bahkan di waktu terluang saya pun kitab tersebut masih tersimpan rapi di dalam almari saya. Saya lalu berpikir, apa gunanya dulu saya disuruh mengaji pada saat kecil? Apa gunanya saya dulu disekolahkan di sekolah Islam? Kalau ternyata saat saya dewasa, semua yang saya pelajari tidak pernah saya lakukan.

Tanpa bermaksud tinggi hati, saya dulu waktu masih SD, di antara teman-teman sebaya saya, sayalah yang ngaji-nya paling lancar dan fasih, dengan ukuran untuk anak seusia itu tentunya. Ilmu-ilmu tajwid seperti hukum bacaan, mad, qalqalah dan hal semacam itu, saya sudah hafal di luar kepala. Saat saya SMP, saya di-pondok-kan, walau cuma sebentar, dan telah hafal satu juz, yaitu juz ‘Amma alias juz 30, juz yang berisi surat-surat pendek yang biasanya dihafalkan terlebih dahulu oleh para hafidz-hafidz pemula. Tapi sekarang? Bahkan membaca surat Al Ikhlas pada saat shalat pun saya masih sering salah dan lupa. Masya Allah.

Saya lalu sadar atas kelalaian saya dalam ibadah terhadap Tuhan selama ini. DUlu hampir setiap waktu shalat, orang tua saya selalu ngoprak-ngoprak untuk shalat berjamaah di masjid. Tapi sekarang setelah saya jauh dari mereka, saya jadi semakin sering shalat Subha (Subuh-Dhuha), Sarib (Ashar-Maghrib), atau juga Masya’ (Maghrib-Isya’)

Saya kemudian menjadi takut, bahwa sewaktu-waktu nyawa saya dicabut oleh Izrail, apa yang saya bawa? Apa bekal saya? Shalat saya sudah berantakan begitu. Al Quran saya sudah tidak lagi saya indahkan seperti itu. Yang akan saya bawa mungkin malah hutang. Hutang dosa pada Tuhan, hutang bakti pada orang tua saya.

Ah, saya jadi ingat orang tua saya. Bagaimana mereka berangkat dini hari sekitar jam 1 pagi, untuk mencari bahan dagangan hari itu, lalu sepulang dari kulakan (istilah Jawa) mereka langsung berangkat lagi ke pasar untuk berdagang, sampai siang hari hanya untuk memberi saya dan adik saya uang saku sekolah. Mereka berdua pekerja keras, tapi juga tak pernah lupa untuk mendidik anak-anaknya tentang agama. Saya tidak pernah merasa kurang perhatian dari mereka. Saya ingat saya dulu pernah terbangun di suatu malam, karena kebelet buang air kecil. Saat melintasi musholla yang ada di dekat kamar mandi, saya mendengar suara seorang wanita, suara ibu saya, yang sedang berdoa setelah beliau shalat tahajud. Saya kurang begitu jelas dalam mendengar doa beliau, tapi saya dapat menyimpulkan bahwa beliau tengah berdoa untuk anak-anaknya. Untuk saya. Saya menjadi sangat malu bila mengingat hal tersebut. Saya nyaris tidak pernah berdoa untuk mereka setelah shalat. Langsung kabur menuju televisi atau komputer.

Sekarang saat saya jauh dari mereka, saya menjadi sadar bahwa kesempatan saya untuk berbakti kepada mereka semakin sedikit. Justru kesempatan untuk berbuat dosa-lah yang semakin besar. Bagaimana bila tiba-tiba maut menjemput saya? Saya masih belum cukup berbakti pada mereka. Saya semakin takut saat membayangkan bila saya ada di dalam kubur yang sempit itu. Gelap. Sendiri. Ya Allah.

Tapi saya lebih takut andai saja salah satu dari mereka yang dipanggil Tuhan terlebih dahulu? Apakah saya masih sempat bertemu untuk yang terkahir kali? Apakah saya masih mampu melihat beliau tersenyum kepada saya? Apakah saya masih sempat mendampingi beliau di saat terakhir? Apakah saya masih sanggup memohon maaf pada beliau?

Saya gemetar membayangkan ibu atau bapak saya terbaring di rumah sakit, dengan nafas yang sudah susah… ah, saya tidak sanggup meneruskan.
Sekarang saya hanya memohon kepada Tuhan agar saya masih diberi kesempatan untuk bertemu orang tua saya dan saya pun akan berusaha membalas segala apa yang sudah mereka lakukan pada saya.

Ah, jauh sekali topik saya melenceng. Tapi memang keduanya saling berhubungan. Saya merasa sudah berdosa pada orang tua saya karena saya sudah melalaikan pesan mereka untuk tetap beribadah dengan benar kepada Allah, bukan asal ibadah untuk menggugurkan kewajiban seperti yang selama ini saya lakukan. Ya Allah, please give me one more chance..

Mohon maaf bila isi dari tulisan ini tidak berkenan di hati Anda, saya hanya menceritakan isi hati saya.🙂

15 thoughts on “Renungan Menjelang Tidur

  1. ya ampun! sedih amat sih postingan lo inih…!

    eh, tp gw jg dulu2 ky org itu siy… di jalan dengerin al Qur’an digital… ya mana tau ajal gw di angkot. tp udah ga lagi sejak al Qur’an digital gw rusak beberapa bulan yg lalu. payah deh! benerin dimana yak… secara garansi nya udah lama abis nya…

    Like

  2. Yah, namanya juga renungan menjelang bobo mbak..
    Kalo renungan menjelang makan itu lain lagi
    :))

    Wah, kalo saya setelah insyaf.. henpon saya saya isi surat-surat Al Qur’an dlam bentuk MP3, jadi imbanglah dunia-akhirat
    B-)

    Like

  3. I am not certain where you are getting your info, however great topic. I need to spend some time learning more or understanding more. Thanks for the fantastic information I was looking for this info for my research paper.

    Like

  4. Dengan adanya artikel ini kita diingatkan untuk tidak selalu memikirkan hal-hal yang bersifat keduniawian.. Terima kasih gan udah di share pengalamannya, sangat menginspirasikan para pembacanya..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s