Agatha Christie

Agatha Christie
Agatha Christie

Belakangan ini, gara-gara kesibukan serta kemalasan yang cukup akut, rasa-rasanya saya jadi jarang menjalankan hobi membaca saya. Sering belanja buku, tapi ya begitu, langsung masuk rak buku lalu terlupakan. Entah kenapa, begitu melihat buku yang agak tebal, mood membaca saya langsung turun. Padahal waktu di toko buku rasanya bergairah banget pengen menamatkan.

Akhirnya sebagai “terapi” untuk memulihkan kembali minat membaca saya, saya pilih buku-buku yang tidak begitu tebal untuk dibaca-baca. Pilihan saya pun jatuh pada novel-novel karangan sang maestro kriminal, Agatha Christie.

Awalnya saya kurang begitu tertarik dengan novel-novel beliau. Maklum, kadang-kadang saya bisa jadi orang yang fanatik sekali. Dan waktu itu kalau soal detektif saya pasti mikir Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle. Saya pun mendoktrin diri saya sendiri bahwa tidak ada detektif yang lebih baik dari Sherlock.

Lalu seorang teman meminjami saya novel Christie yang berjudul “Murder on Orient Express” yang menceritakan sang detektif Belgia, Hercule Poirot dalam memecahkan pembunuhan aneh di atas kereta. Setelah agak malas-malasan membaca di awal, saya malah jadi terbius plot yang disusun Christie. Dan akhirnya saya jadi menertawakan diri sendiri gara-gara terpelintir twist yang cerdas.

Murder on Orient Express
Murder on Orient Express

Sejak itu, saya mulai rajin membaca Agatha Christie, terutama yang menampilkan Hercule Poirot sebagai tokoh utama. Bukan apa-apa, karena dia tokoh yang pertama saya baca, maka saya merasa wajib menamatkan seluruh serialnya dulu sebelum beranjak ke tokoh-tokoh Christie yang lain, seperti Miss Marple dan Tommy & Tuppence.

Satu hal dari Agatha Christie yang menarik minat saya adalah gaya berceritanya yang senang mempermainkan pikiran pembaca. Christie sering sekali memberikan fakta-fakta yang melencengkan penafsiran. Red herring istilahnya. Saya yang sudah dengan arogannya menebak ending berkali-kali harus merasa malu gara-gara twist yang tidak tertebak.

Maka komplitlah itu dengan minat saya kepada latar tempatnya; Inggris. Iya, saya memang tertarik dengan negeri sang Ratu itu. Novel-novel yang berlatar di sana pun selalu menarik minat saya; Sherlock Holmes, Harry Potter dan Bartimaeus Trilogy adalah beberapa di antaranya. Begitu pula kebanyakan cerita-cerita Christie, meski mungkin saya lebih menikmati deskripsi London yang mencekam di zaman Holmes daripada London sewaktu perang dunia di masa Hercule Poirot. Lebih eksotis rasanya.

Dan saya sekarang sedang berburu novel Christie yang berjudul “And Then There Were None” yang katanya adalah karya terbaik beliau. Ada yang bersedia meminjami?😀

gambar dari wikipedia & gramedia.com

52 thoughts on “Agatha Christie

  1. sudah menamatkan Agatha Christie sekitar rentang tahun 92-93. waktu itu pikirannya adalah naik kelas dari 5 Sekawan ke cerita detektif yang lebih menantang
    *halah*

    Like

  2. kalo saya dulu senang novel detektif Trio Detektif karya Aflred Hitchcock dan sudah baca habis semuanya.. Agatha Christie belum pernah baca, dari ulasan di atas kelihatannya menarik sekali ya.. cari2 ah😀

    Like

  3. favoritku yang mana ya.. lupa tiap baca ya baca aja gitu😆

    satu hal yang aku pelajari dari novel2nya agatha christie, jangan sok nebak duluan berdasarkan “petunjuk” yang ada sepanjang alur cerita karena biasanya malah tebakan kita salah hahahaha

    Like

  4. agatha christie sih bacaanku jaman kuliah, itu juga jaman masih baca di taman bacaan. sekarang udah tua, udah gak cocok sama buku begituan, cocoknya sama harry potter (lah kebalik :D)

    Like

  5. Pertama baca Agatha Christie jaman SD kelas 6. Kemudian berpaling ke 5 Sekawan dan cerita2 sejenisnya. Hingga akhirnya sekarang mentok di novel romansa.😀 Sdh agak tidak tertarik dgn tema detektif dan misteri lagi.

    Ingat dl gimana hrs nyisihin duit jajan buat beli novel-novel dari pengarang terkenal ini. sampai akhirnya buka peminjaman buku dgn koleksi ala kadarnya yang sekarang entah dimana.😦

    Like

  6. jadi ingat waktu smp dulu sering baca agatha…tapi sekarang udah kerja, malah suka baca komik hehe, soalnya udh capek kerja, pengennya kalau baca, bacaan yang ringan dan menghibur.

    Like

  7. Rentang SMP-SMA saya baca Agatha Christie, mdoal pinjem di perpustakaan umum setelah SD bacanya bacaan Robert Arthur, Enid Blyton (Betul nggak nulisnya?). Saya paling baca belasan doang, tapi lupa yang mana aja.

    Yang suka itu yang pembunuhan keluarga yang ada kaitannya dengan pembuat taman. Entah apa judulnya.

    Tapi kalo yang memorable itu kalo saya trio Detektif. masih inget aja kisahnya Jupiter Jones, sama Pete & Bob kalo ga salah. Pete apa Peter ya, lupa.

    Yang belum kesampaian pengen namatin Wiro Sableng. Setelah dari Latanahasilam, cuma sempat baca beberapa seri kemudian keputus. Om Nazieb punya?:mrgreen:

    Like

  8. sayang paling suka “the murder of Roger Ackroyd”
    saya malah punya dua versi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
    And then there were none punya juga sih… sayang saya gak di Jakarta Zieb…

    Like

  9. wah suka aghata juga ya… saya suka skali.. hampir skua serial poirot udah dibaca.. klo agatha nulis tu.. gaya bahasanya elegan banget… pokoknya top deh… klo di tanya bagusan mana ketimbang shelock ku masi bilang bagusan serial poirot. heheh🙂

    Like

  10. dulu waktu SMP suka baca karya Enid Blyton yang Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu, lalu beralih ke Trio Detektif-nya Alfred Hitchcok, masih SMP juga,nah pertama kali baca novel Agatha Christie, waktu kelas 3 SMP dipinjami teman,judulnya “N atau M” dengan sepasang Detektif Mr. & Mrs. Tuppence. Lalu ketemu dengan serial H.Poirot dan baca beberapa yang serial Miss Marple. Yang paling suka di serial H.Poirot yang Hotel Majestic dan Curtain (Tirai), yang Miss Marple juga ada yg favorit, tapi lupa judulnya. Nah kalo Sherlock Holmes dulu pernah baca juga sesudah sebelumnya baca Agatha Christie. Baru baca satu bukunya,koq kurang greget ya, ga kayak Agatha. Beda algoritma dalam memecahkan suatu kasus kriminal,dan saya lebij suka dengan agoritma-nya Agatha Christie,walaupun keduanya suka hal2 yang detail. Terakhir nonton movie-nya Holmes, eh jadi kepingin baca Holmes. Asli,movie-nya lebih keren dibanding novel-nya.

    Like

  11. Waktu smp aku sering pinjem novel agatha di persewaan buku dekat rumah, skrg udah kerja aku koleksi sendiri kurang lebih 80 judul. Pokoknya ceritanya mantap, bikin mataku minus 5. Yg paling bagus menurutku Pembunuhan atas Roger Ackroyd + Pembunuhan di Orient Expres.

    Like

  12. Novel Agatha yang paling saya suka sampai sekarang ini adalah Buku Catatan Josephine dan Empat Besar…Keduanya sangat seru dan untuk Buku Catatan Josephine tidak ketebak siapa pembunuhnya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s