Smells Like Facebook 2.4.1

UPDATE: To follow Smells Like Facebook updates, go to http://smells-like-facebook.nazieb.com/

Hello folks, in this very end of 2009 year, the newest update of Smells Like Facebook theme is available. Major changes made to this theme including:

  • Fix on unregistered comments. Now if someone which is not registered as member post a comment, no errors will be found.
  • Multiple pages post support. The theme now support posts with multiple pages. The <!–nextpage–> tags will split pages correctly, and links to next and previous page will be available below the post content. Note: this is a compulsory for new theme hosted in WordPress Theme Directory
  • An anchor that with target “_blank” will open the link correctly in new tab / window. There are some reports that in the older version, the link will be opened ajaxly.

You may see that the update of this theme is very slow. The last version, 2.4 was uploaded on July. I’m very sorry about this, since I have a lot of work to do to feed myself. I also got a serious health problem last month, so I can’t focus myself to this theme. But if you intend to give me some penny, I think I’ll quit my job and focusing on this theme, seriously ;) You can send the donation to my paypal. Every donations is very helpful. I thank you for you who have donated to me :)

After all, some bugs may still appear. Please let me know if you encounter one. I’m very happy (and also tired :P ) to see many responses from people about this theme. Thank you for using my work.

Happy New Year, everybody!

Another December Anniversary

Bulan Desember memang bulan saya. Banyak kejadian penting dalam hidup saya yang terjadi pada bulan Desember. Ulang tahun saya ituh ya pas Desember. Ulang tahun blog ini pun sebenarnya bulan Desember juga, tapi saya lupa merayakannya kemaren :lol: . Lalu ada satu lagi momen spesial di bulan Desember ini, yaitu ulang tahun jadian saya dengan Nyonyah :oops:

Hihihi, jadi saya dan nyonyah saya itu jadian sebanyak 3 kali, di bulan Agustus, November, dan Desember. Kenapa kok 3 kali? Jadi begini, yang Agustus itu adalah penembakan untuk yang pertama kali, yaaa seperti yang di pilm-pilm itulah. Lalu November itu pas saya dan dia lagi berjauhan, karena harus menjalani PKL (Praktek Kerja Lapangan) di dua kota yang berjauhan. Yah, daripada diserobot orang, ya saya tembak lagi aja :lol: Dan yang terakhir adalah setelah PKL selesai dan kami ketemu lagi, sekalian memastikan jangan-jangan sudah diserobot orang :P

Dan kemarin itu, tanggal 27, adalah ulang tahun jadian ketiga saya untuk ketiga kalinya. Genap sudah 3 tahun saya lalui dengan nyonyah, meski kebanyakan adalah hubungan SLJJ, tapi gak tau kenapa masih gak bosen-bosen :lol:

Ya sudah,

Happy anniversary, dear.. Terima kasih atas perhatian yang kamu berikan selama ini. Semoga Dia mengijinkan kita untuk terus bersama di tahun-tahun berikutnya. Dan semoga kamu gak semakin riwil di tahun-tahun berikutnya.

Me 2.0

Welcome to 2.0 era

Welcome to 2.0 era

Akhirnya berakhir sudah masa ke-remaja-an saya. Secara resmi, tanggal 9 Desember kemarin, saya meninggalkan status saya sebagai teenager. Ya, saya ulang tahun yang ke-20. Sudah kepala dua rupanya :D

Ada satu keenakan mempunyai hari ulang tahun di bulan terakhir, bahwa saya bisa melakukan “renungan akhir tahun” bersamaan dengan “renungan ulang tahun”. Saya akan sedikit melakukan flash back apa yang terjadi di tahun 2009 sekaligus di “penghujung muda” saya.

2009 adalah tahun tersulit yang pernah saya jalani seumur hidup saya. Terbiasa hidup dalam “ketiak” orang tua tentu memberi banyak perubahan saat saya akhirnya harus terbang dari sarang mereka yang hangat & nyaman. Setahun awal (mid. 2007 – 2008) saya jalani dengan terbata-bata. Uang masih sering habis, sering homesick, hidup semrawut dll. Tapi ternyata itu belum seberapa dengan yang saya alami di 2009. Awal tahun saja saya sudah diuji dengan dibuang menjadi sampah masyarakat (thanks to Mr SHW and his cronies). 4 bulan menjadi pengangguran, kesana kemari mencari pekerjaan, mondar mandir mencari hutang, begadang di warnet mengerjakan freelance kecil-kecilan demi makan besok, ah, sungguh pelajaran kehidupan yang sangat menampar. Untunglah semua itu bisa saya lalui tanpa harus menodongkan tangan saya kepada orang tua. Sudah cukup saya merepotkan mereka.

Pertengahan tahun, Tuhan akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang status saya sebagai tuna karya. Saya diterima di sebuah perusahaan yang berisi orang-orang yang baik. Bukan perusahaan besar, hanya saja saya kerasan di sana. Suasananya nyaman dan tidak seperti kantor-kantor saya sebelumnya yang kaku dan penuh peraturan ini-itu. Everything seems to be happy ever after after all, sampai pada akhir November ketika Tuhan kembali menjewer saya. Setelah Dia puas mengambil nikmat harta (pekerjaan & penghasilan), kini Dia mengambil nikmat kesehatan. Ya, saya yang sakit ituh. Kembali saya menjadi pesakitan (literally), jangankan kerja, lha wong bangun tidur aja susah. Kali ini saya terpaksa menjilat ludah saya sendiri. Saya menelepon orang tua dan minta bantuan mereka. Terus terang, saya nggak mampu membiayai biaya pengobatan sendiri. Lha wong baru sekali periksa saja sudah habis setengah gaji.

Yah, tampaknya Tuhan memang sedang menggodok saya untuk memasuki kehidupan yang mulai tidak bisa berkompromi lagi. Di penghujung muda saya, Dia memberi pelajaran bahwa hidup tak selamanya selalu menyenangkan, bahwa saya masih harus banyak bersyukur atas apa yang telah saya raih. Seolah Dia sendiri berkata pada saya: “Playing time is over. It’s time to get serious, boy”. Thanks for your nice birthday gift, Dear Lord.

Ternyata Sakit itu Menyakitkan, Excuses Part I

Update: part II

Ternyata yang namanya sakit itu ga enak ya.. Namanya juga sakit =))

Jadi suatu hari, saya terbangun saat subuh menjelang. Hal pertama yang saya rasakan adalah dada saya terasa sangat sesak bila digunakan untuk menghirup nafas. Tapi ini ndak seperti sesek nafas yang dulu-dulu pernah menjangkiti saya juga. Rasanya di dada nyeri banget setiap saya menarik nafas, apalagi saat saya membangunkan diri dari kasur, rasanya dada sebelah kiri terbakar. Nyeriiiii. Cukup lama sampai saya akhirnya bisa menegakkan tubuh. Lalu saat terdengar suara adzan subuh, pelan-pelan saya merangkak (yes, literally) dari kamar tidur menuju kamar mandi. Maksudnya sih mau langsung sholat, siapa tahu Tuhan langsung berkenan mengurangi rasa sakit saya ini :P

Lalu setelah kembali “merangkak” ke tempat sholat, mulailah saya menjalankan ritual suci yang sebelumnya jarang saya lakukan itu :blush: Alamak! Lha kok ketika ruku’, dada saya kembali merasa nyeri, apalagi pas sujud, saya sampai tidak kuat menahan rasa sakit dan memutuskan membatalkan sholat saya. Lalu saya kembali sholat dengan posisi duduk. Setelah sholat, saya bermaksud kembali merebahkan tubuh ke kasur, aduh, tapi rasanya semakin saya memiringkan tubuh, rasanya semakin sakit. Akhirnya saya mentok tidur dengan sedikit menyandar ke dinding.

Paginya, ketika matahari sudah mulai membakar bumi, saya putuskan tidak masuk kerja. Lha wong berdiri aja susah, masak mau kerja. Beruntung saat itu ada teman saya yang sedang tidak masuk karena ganti shift, jadi saya agak tenang kalau misalnya terjadi apa-apa. Siang harinya, saya minta temen saya itu mengantarkan saya ke rumah sakit. Saat itu belum ada pikiran bahwa ini sakit yang cukup parah, mungkin cuma sesak nafas yang pernah saya alami dulu. Tujuan ke rumah sakit pun sebenarnya untuk minta surat dokter saja untuk izin ke kantor.

Di rumah sakit, saya mendaftar ke poli umum. Beruntung ibu dokter sedang ada praktek. Singkat kata, saya diperiksa ibu dokter ini, ditanyai tentang sakit saya. Jadi saya pun cerita kalau beberapa hari sebelumnya saya mengalami demam & diare yang langsung disambut dengan rasa sesak menyakitkan ini. Lha kok ternyata ibu dokter berkata dengan sedikit muram bahwa saya harus dirontgen untuk mengetahui penyebab sebenarnya. Duh, saya langsung berburuk sangka saja. Ada apa dengan organ dalam saya? Apa jangan-jangan jantung saya bermasalah, karena dada kiri yang selalu terasa nyeri?

Setelah difoto dan kembali menunggu di depan ruang poli umum, saya melihat petugas yang memfoto saya tadi datang ke ruangan ibu dokter poli umum sambil membawa sebuah hasil foto. Itu pasti punya saya, pikir saya waktu itu. Lha tapi, saya langsung shock melihat sekilas apa yang tergambar di situ. Ada kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, jantung saya tidak bermasalah (untuk saat ini). Kabar buruknya, ternyata paru-paru saya yang mengkhawatirkan. Di gambar tersebut, paru-paru sebelah kanan tampak sangat jelas, tetapi yang sebelah kiri, hanya terlihat sebagian kecil di atas. Di bawahnya semua tampak hitam.

Sakit apakah saya? Tunggu episode berikutnya..

=))