Out of Topic

Hari ini sebenarnya saya ingin memposting tentang kebatalan kunjungan tim Manchester United ke Indonesia. Entah kenapa akhirnya saya malah nyasar ke situs salah satu partai di Amerika Serikat yang mempunyai nama unik: Boston Tea Party.

Jadi, begini ceritanya (gambar berubah ngeblur kayak di tipi-tipi):

Calo 3 in 1

Di dekat kantor saya, persis di seberang jalan depan kantor, sering saya jumpai banyak orang berjajar di trotoar sambil mengacungkan jari kepada setiap mobil yang melintas. Dulu saat pertama datang di Jakarta, saya tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Biasanya orang melakukan itu untuk “mencegat” angkot atau bus kota agar berhenti dan mereka bisa naik. Tapi ini mereka lakukan kepada mobil-mobil pribadi, dan banyak di antaranya adalah mobil dengan merk-merk mewah. Jadi tak mungkin kalau mereka mau “numpang” di situ. Seorang kawan saya waktu itu memberi tahu kepada saya, bahwa orang-orang itu adalah calo 3 in 1. Dia lalu menjelaskan bahwa di Jakarta ada beberapa jalan protokol yang dalam waktu-waktu tertentu tidak boleh dilewati mobil yang berisi kurang dari 3 orang. Jadi para calo tersebut menawarkan jasa agar para pengendara mobil dapat melintasi jalan-jalan tersebut tanpa ditilang pak polisi bertampang galak yang suka malak. Bagaimana caranya? Ya mereka akan berpura-pura menjadi penumpang dalam mobil tersebut, sehingga ketentuan 3 orang dalam mobil bisa terpenuhi.

Pekerjaan seperti ini memang sangat menggiurkan. Hampir tidak dibutuhkan skill apapun untuk melakukannya. Hanya perlu kesabaran untuk mencegat setiap mobil yang lewat, plus dandanan yang rapi dan sopan. Yah, mungkin agar calon pemakai jasa mereka, yang sebagian besar adalah orang-orang berduit tidak risih dengan penampilan mereka saat mau menggunakan layanan mereka. Seringkali ketika saya berangkat ke kantor, saya berjalan bareng dengan seorang yang tampak seperti orang kantoran: menggunakan kemeja & celana kain + sepatu kulit. Rapi sekali, tapi ketika sampai di tempat biasanya calon-calo ini mangkal, eh, dia kok ikut-ikut mengacungkan jari mencegat mobil.

Uang yang dihasilkan pun terhitung lumayan. Saya pernah bertanya kepada sopir pribadi direktur tempat saya bekerja. Menurut beliau, biasanya pak direktur paling sedikit memberi uang sepuluh ribu rupiah jika menggunakan jasa para calo. Kalau jarak yang ditempuh lumayan jauh, biasanya dari Senayan ke Thamrin, pak direktur memberi 20 ribu. Dan kalau sedang baik hati, tak jarang uang lima puluh ribuan yang diberi. Tidak ada tarif resmi, kata pak sopir saya. Semua tergantung tingkat kebaikan si pemakai jasa.

Tapi yang saya sayangkan, tampaknya pihak Satpol PP dan pra petugas yang lain tidak setuju dengan kehadiran para calo ini. Sering saya jumpai mereka semua lari berhamburan ketika mendengar sirene mobil patroli Satpol PP, atau suara derap sepatu bot para petugas yang tengah mencari ceperan bertugas. Entah apa alasan para petugas yang menghalau kehadiran mereka. Toh, mereka tidak melakukan hal-hal yang merusak. Mereka hanya stand-by di saat-saat tertentu, saat jam 3 in 1 aktif. Merusak ketertiban kota? Saya rasa tidak, mereka toh hanya berbaris dengan stelan rapi di sepanjang trotoar, mereka juga tidak merugikan pengguna jalan lain atau pejalan kaki (alasan yang biasanya dipakai alasan untuk mengobrak PKL).

Bagi saya calo-calo itu hanya orang-orang yang berusaha mencari rejeki dengan cara yang halal tanpa meminta-minta. Tapi entah mengapa para Satpol PP yang seharusnya mengayomi masyarakat-masyarakat kecil seperti mereka justru menjadi musuh yang menakutkan. Bila sedang ada patroli, tak jarang beberapa calo laki-laki memanjat pagar besi untuk bersembunyi di dalam lingkungan Gelora Bung Karno. Yang lain biasanya lari dan sembunyi di gedung-gedung lain di sekitarnya. Mereka bersembunyi begitu ketakutan, saya pernah melihat dengan mata saya sendiri, seorang calo, wanita muda yang tengah hamil tampak begitu takut bersembunyi di halaman gedung kantor saya. Dia bersembunyi sambil mengintip-intip apakah para petugas mencari ke tempat dia bersembunyi.

Entahlah, terkadang bila saya merasa hidup saya kekurangan, setiap memandang orang-orang seperti calo-calo ini, saya jadi merasa tertohok. Masih ada yang hidup jauh lebih susah daripada saya. Toh, saya tidak perlu berdiri berjam-jam mencegat setiap mobil menawarkan jasa untuk mendapat uang. Saya juga tak perlu khawatir bakal ada petugas yang mengobrak dan mengejar-ngejar saya. Humpf…

Smells Like Facebook 2.0

Update (10/07): Smells like Facebook now on version 2.2, to see what’s new visit Smells like Facebook blog.

After a long development, the newest version of Smells like Facebook theme is now available to download. Smells like Facebook 2.0 has many major changes from its first version. What’s new on this version? Here you are:

  1. Advanced Javascript & AJAX effect available. With WordPress jQuery, you’ll think that you’re really on Facebook and forget that you are actually reading your own blog.
  2. Right sidebar. So many people asked to me how to add second sidebar, and now it’s available. It clones the ads sidebar on your Facebook profile page.
  3. Customizable sidebar avatar & site logo. Now you can choose what picture that will be displayed on the sidebar, not only gravatar of the administrator. Option to add a site logo that will be displayed on the top left corner (like Facebook logo) now also available
  4. New dashboard page for Smells Like Facebook options. If you think AJAX effect will make your blog slow, or if you don’t want the right sidebar on your homepage, now you can customize it on the Smells Like Facebook dashboard. It’s available on “Appearance” menu.
  5. Some CSS fixes: bullet & numbering now will displayed correctly on posts.

In 2.0.2 version, some bugs have been discovered. Thy are including:

  • “Show older post” link will append the same content if clicked more than once (Ajax mode).
  • The loading image will mutiply everytime “Show older post” is clicked.
  • fixURL() method doesn’t work on Safari because Safari will decode “#” sign in URL if it appears more than once (Ajax mode).
  • Adblock (Firefox addon) considers the right sidebar as an ads bar and block it.
  • If blog homepage is different from the directory where WordPress is installed, link to Dashboard will still be loaded AJAX-ly

But in now live 2.0.3 version, those bugs have been terminated. Bad news, it seems that I totally forgot about “famous” Internet Explorer when developing this theme. Almost all Javascript & AJAX event doesn’t work on 3 versions of IE: IE6, IE7 & IE8. Even in IE6 some CSS is messed up. Phew, thanks IE for giving an extra work.

Anyway, you can download the newest version on WordPress Theme Directory. If you find some bugs or want to suggest something for next development, please visit the new blog dedicated for Smells Like Facebook. And don’t forget to follow our update on Facebook, Twitter or Plurk.

Enjoy!