Statpress vs Google Analytics

Seperti layaknya seorang bloger (halah), tentu saya ingin tahu tentang statistik kunjungan orang lain ke blog saya. Tidak bermaksud munafik, tentu saja saya masih merasa senang bila ternyata blog saya banyak dikunjungi. Berarti tulisan saya memang layak baca. Berarti pula popularitas saya meningkat, dan statu seleblog sudah semakin dekat 8) .

Okay, forget it, intinya saya ingin tahu tentang data-data orang yang mengujungi blog saya. Titik. Nah, maka daripada itu, dulu saat awal-awal meng-install WordPress di domain ini, saya menggunakan salah satu plugin-nya yang bernama Statpress. Statpress ini akan mencatat semua kunjungan (kecuali user yang login tentu sajah) dan disimpan di dalam database kita, tidak seperti plugin-plugin statistik pada umumnya, yang menggunakan third-party, alias server orang lain, sehingga kita nggak punya hak penuh dan hanya bisa pasrah kepada siapa data itu dititipkan :mrgreen: .

Awalnya cool, karena semua data, mulai dari referrer dari mana si visitor datang, sampai keyword apa yang dia pakai di search engine sehingga bisa nyasar ke sini, semuanya terekam dengan baik. Tapi… karena jumlah kunjungan semakin banyak (yang berarti saya semakin terkenal 8) ) *ahem*, jumlah data yang dimasukkan ke dalam database blog ini juga semakin banyak. Ya mau bagaimana lagi, setiap ada kunjungan, si Statpress ini pasti nambahin satu row di database. Dan bayangkan, sudah berapa juta orang yang berkunjung ke blog ini? *lebay* Sudah pasti database saya kebanjiran data. Dan mulai beberapa hari yang lalu, permasalahan ini semakin serius, saya semakin lemot membuka dashboard WordPress, apalagi membuka report statistik, sounds impossible.

Continue reading

The Alchemyst: The Secret of the Immortal Nicholas Flamel

The Alchemyst: The Secret of the Immortal Nicholas Flamel

The Alchemyst: The Secret of the Immortal Nicholas Flamel

Buku karangan Michael Scott ini bercerita tentang sepasang anak kembar, Josh & Sophie Newman, dua orang remaja biasa-biasa saja yang harus terlibat dalam pertempuran penuh sihir. Gara-garanya ternyata pemilik toko buku tempat Josh bekerja ternyata adalah seorang manusia abadi, seorang Alchemyst termasyhur dalam sejarah dan legenda, yaitu Nicholas Flamel. Saat Josh sedang bekerja, tiba-tiba musuh bebuyutan Flamel, Dr. John Dee datang untuk merebut Codex, buku Abraham sang Magus yang berisi rahasia-rahasia sihir paling kuat.

Di tengah pertarungan sihir, Dee berhasil merebut Codex serta menculik Paranelle, istri Nicholas. Nicholas membawa Josh & Sophie kabur untuk mencari bantuan. Mereka menemui para Tetua untuk meminta bantuan melawan Dee dan majikannya, para Tetua Gelap serta untuk merebut kembali Codex dan menyelamatkan Paranelle. Saat itulah Josh & Sophie menemukan bahwa dalam diri mereka ada sebuah bakat terpendam yang telah diramalkan sejak 10 ribu tahun yang lalu.

Continue reading

Star Trek

Star Trek

Star Trek

Kemarin malam, setelah mendapat bantuan finansial, akhirnya saya menonton film ini. Awalnya saya tidak terlalu tertarik, karena seri Star Trek sendiri masih asing bagi saya. Film dan serial TV-nya sih memang sudah sangat terkenal, tapi entah kenapa saya enggan untuk menelusuri. Tapi yah, gara-gara banyak rekomendasi serta review yang mengatakan bahwa film ini memang bagus, (bahkan Rotten Tomattoes memberikan rating 95%) saya jadi penasaran, seperti apa sih film ini.

* spoiler alert *

Film dimulai saat pesawat Armada Bintang USS Kelvin sedang memeriksa sebuah lubang hitam. Tiba-tiba dari lubang hitam tersebut muncul sebuah pesawat raksasa dan segera menembaki Kelvin. Saat sudah hampir hancur, Nero, seorang bangsa Romulan yang juga kapten pesawat asing tersebut menghubungi Kelvin dan meminta kapten-nya untuk datang ke pesawat dan melakukan perundingan. Sesaat sebelum pergi, Kapten Robau mengangkat perwira utamanya, George Kirk, untuk menjadi kapten dan mengambil alih pesawat. Benar saja, saat melakukan perundingan di pesawat asing tersebut, Nero membunuh Kapten Robau dan memerintahkan anak buahnya untuk mengahancurkan Kelvin. George segera memerintahkan seluruh awak pesawat untuk melakukan evakuasi dengan pesawat sekoci, termasuk istrinya yang akan melahirkan. George sendiri terpaksa tinggal di USS Kelvin dan terus melakukan perlawanan agar pesawat asing tersebut tidak menyerang pesawat sekoci. Pada saat-saat terakhir, saat ia akan menabrakkan USS Kelvin, ia masih berkomunikasi dengan istrinya, yang saat itu sudah melahirkan putranya. George memberinya nama Jim sebelum akhirnya pesawatnya meledak.

25 tahun kemudian, James Tiberius Kirk telah tumbuh dewasa. Ia adalah pemuda yang cerdas, tapi selalu bertingkah ugal-ugalan. Setelah mengalami perkelahian dan mendapat wejangan dari Kapten Pike, Kirk akhirnya bersedia bergabung dengan Akademi Starfleet. Kapten Pike memberinya tantangan untuk menyamai kehebatan ayahnya, yang menjadi kapten selama 12 menit tapi telah menyelamatkan 800 nyawa. Di dalam akademi tersebut, Kirk mengambil tes Kobayashi Maru, sebuah simulasi untuk menyelamatkan sebuah pesawat. Dalam usahanya yang ketiga, Kirk dengan santainya menyelesaikan tes tersebut, sehingga memunculkan kecurigaan dari para pengujinya. Benar saja, Kirk langsung dituduh telah memprogram ulang tes tersebut oleh sang pencipta tes tersebut, Spock. Saat tengah beradu argumen tentang tes tersebut, masuk laporan bahwa di planet Vulcan, kampung halaman Spock telah terjadi sebuah bencana. Komando Starfleet segera memerintahkan bantuan evakuasi ke Vulcan.

Kirk, yang tengah dalam masa skorsing, ternyata tidak disertakan dalam misi tersebut. Tapi dengan bantuan temannya Leonard McCoy, yang memiliki keahlian medis, Kirk dapat menyusup ke dalam pesawat baru Starfleet, USS Enterprise. Saat berada di dalam Enterprise, Kirk menyadari bahwa gejala yang terjadi Vulcan sama dengan gejala yang terjadi saat hari kelahirannya, atau saat pesawat ayahnya diserang dan dihancurkan oleh pesawat asing milik bangsa Romulan. Ia segera memperingatkan kapten USS Enterprise, Kapten Pike untuk menghentikan misi, karena mungkin itu adalah jebakan dari bangsa Romulan. Tapi Kapten Pike, dengan saran logis dari perwira utamanya, Spock, meneruskan misi. Benar saja, setelah melakukan warp, mereka melihat sebuah pesawat raksasa telah menghancurkan pesawat Starfleet yang lain dan sedang mengebor ke dalam planet Vulcan. Narada, pesawat Romulan itu, juga hampir menghancurkan Enterprise ketika kapten Nero memberi perintah untuk berhenti. Ia juga menghubungi Enterprise dan meminta sang kapten untuk datang ke pesawatnya untuk berunding. Sama seperti yang dilakukannya 25 tahun yang lalu.

Continue reading

Pekerjaan: Freelance

Terhitung sejak tanggal 1 Februari kemarin, saya resmi menjadi seorang yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Perusahaan tempat saya bekerja, sebuah perusahaan koran yang petingginya dipenjara (?) karena terlibat dalam kasus pembunuhan, secara sepihak memutus hubungan kerja saya dan rekan-rekan satu divisi. Tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mereka (para direksi) beralasan bahwa perusahaan akan melakukan audit aset-asetnya, jadi kami diminta (atau dipaksa?) untuk berhenti bekerja selama proses audit berjalan. Kata mereka, kami akan dipanggil lagi dalam waktu 2 minggu. Tapi, dalam sebuah surat yang kami terima, yang berisi tentang keputusan untuk “meniadakan hubungan antara karyawan dan perusahaan” yang harus kami tanda tangani, sama sekali tidak ada kata-kata akan dipanggil kembali. Kami pun mengerti bahwa itu adalah surat pemecatan secara sepihak. Kata-kata mereka tentang pemanggilan itu hanya abang-abang lambe, pemanis mulut, supaya kami mau-mau saja diputus hubungan kerjanya.

Tentu ini tidak adil, tapi yah, sudahlah, mau bagaimana lagi. Berurusan dengan orang berduit memang bukan hal yang mudah. Bisa-bisa saya mendahului Pak Nasrudin kembali ke pangkuan Malaikat Izrail. Ikhlaskan saja, easy come, easy go. Sejak saat itu, kehidupan saya dan beberapa rekan berubah. Yang tadinya bisa berfoya-foya terpaksa harus meniadakan beberapa kebiasaan yang cukup menghabiskan banyak dana. Tapi selain kondisi ekonomi, yang paling terasa perubahannya adalah status sosial. Ibu kost sudah cukup curiga melihat tingkah saya dan beberapa rekan yang terus-terusan ada di rumah. Mungkin kuatir kami akan ngutang duit kos bulan depan. Pada saat saya pulang kampung untuk ikut Pemilu Legislatif kemarin, banyak teman, tetangga dan saudara yang sudah lama tidak berjumpa, bertanya kepada saya: di Jakarta kerja di mana? Walhasil, saya pun kebingungan. Bagaimana tidak, bila saya jujur, bisa hancur image anak kebanggaan orang tua saya, yang pergi mencari kerja di ibukota dalam usia yang masih cukup belia seperti saya. Tentu, ini aib yang harus ditutup rapat. Saya pun menjawab: Freelance. Bukan sebuah kebohongan, karena memang saya sedang memiliki beberapa proyek freelance kala itu.

Continue reading