Terminator Salvation

Terminator Salvation

Terminator Salvation

Bisa dibilang, film ini adalah salah satu film yang saya tunggu tahun ini. Karena katanya, film ini adalah the missing link, yang menjelaskan tentang asal muasal cerita di 3 film pertama.

Film ini dimulai dengan cerita di tahun 2003, di mana seorang terpidana mati bernama Marcus, memberikan tubuhnya untuk digunakan sebagai riset sains. Kemudian beralih ke masa depan, di mana John Connor, tokoh sentral dalam serial ini, telah tumbuh dewasa dan ikut dalam sebuah misi untuk merebut informasi dari pihak mesin. John Connor sendiri di mata para pemberontak adalah sang juru selamat, yang diramalkan akan mengakhiri perang antara manusia melawan mesin. Dalam misi tersebut, John menjadi satu-satunya yang selamat setelah seluruh pasukan dibombardir oleh pasukan mesin. Tanpa diketahui John, dalam misi tersebut mereka membangunkan sosok Marcus yang telah dieksekusi 15 tahun yang lalu.

Continue reading

iBerry: Indosat Blackberry Mobile Portal

Finally, sebuah beban berat terangkat dari ubun-ubun saya. Hari Senin kemarin, Indosat meluncurkan mobile portal untuk pengguna Blackberry Indosat bersamaan dengan launching produk terbaru mereka, Indosat Blackberry Storm di Senayan City. Portal tersebut diberi nama: iBerry. Para pengguna Blackberry Indosat dapat mengakses portal tersebut lewat Blackberry browser mereka di url http://i-berry.mobi/.

Setelah melakukan registrasi & aktivasi account, para pengguna bisa mendapatkan promo menarik dari merchant-merchant yang telah melakukan kerjasama dengan Indosat, serta memperoleh theme-theme menarik untuk mempercantik Blackberry mereka. Semuanya gratis. Tak lupa juga, banyak info serta tips & trik seputar dunia Blackberry.

Lantas apa hubungannya antara portal ini dengan saya? Yaa.. soalnya saya yang bikin itu portal :P Karena itulah, saya jarang online akhir-akhir ini, online hanya untuk coding saja. Update blog & blogwalking hanya kadang-kadang saja. Yang paling parah adalah para pengguna theme WordPress bikinan saya, Smells Like Facebook. Banyak yang mengirim pertanyaan & request untuk Smells Like Facebook versi 2.0, tapi dengan terpaksa saya abaikan karena tuntutan tugas.

Tapi sekarang saya sudah sedikit bebas (karena masih ada banyak bug fixing, serta fitur-fitur baru yang harus ditambahkan), so bersiaplah untuk Smells Like Facebook 2.0! Yay!

Sepakbola, Drama & Emosi

Anda menonton pertandingan Chelsea vs Barcelona tadi pagi? What a game! Sebuah drama yang sangat emosional. Bagaimana tidak? Setelah satu kaki Chelsea sudah ada di Roma, tempat final Liga Champions digelar, di menit terakhir, Iniesta membuyarkan segalanya. Keunggulan 1-0 yang tampaknya sudah akan menjadi hasil akhir, musnah dengan satu gol, yang membuat Barcelona lolos karena unggul dalam away goal. Fans Chelsea yang sudah terbang di atas langit, seolah langsung jatuh berdebam di tanah yang keras. Sementara fans Barcelona yang sudah pasrah, seolah merasa surga pindah ke bumi. Saya memang bukan fans keduanya, tapi saya menjadi saksi euforia salah seorang fans tersebut.

Tapi bukan itu maksud postingan ini. Tapi lihatlah bagaimana reaksi manusia-manusia yang terlibat dalam drama tersebut. Drogba mungkin memang emosi dan mengejar wasit dan melontarkan kata-kata yang pedas padanya seusai pertandingan. Tapi ya itu saja, tidak ada bogem yang melayang atau kaki yang tiba-tiba terangkat. Begitu pula dengan Ballack saat ia memprotes keputusan wasit yang tidak memberikan penalti. Dengan berteriak-teriak penuh emosi, ia mengejar wang wasit. Tapi ya cuma itu saja.

Josep Guardiola, pelatih Barcelona, bahkan menyalami Hiddink saat ia mengira tim-nya sudah kalah. Kalo soal pelatih Chelsea, Guus Hiddink, saya benar-benar menaruh hormat padanya. Ia sama sekali tak terprovokasi dengan tensi panas yang terjadi di dalam lapangan. Ia tetap memasang tampang cool. Tidak ada aksi caci maki atau bahkan tendang-tendangan.

Fans, bagian yang paling rentan, pun bereaksi sama. Mereka memang menangis dan beberapa kali melontarkan hinaan kepada wasit. Tapi ya itu saja, tidak ada batu atau botol minuman yang terbang ke lapangan. Tidak ada yang ngguruduk ke lapangan sambil mempertontonkan jurus karate.

Ah, tampaknya kita masih jauh dari itu. *menghela nafas*

Up to date

Salah seorang teman saya, di suatu malam sepulangnya ia kerja, dengan bangga mempertontonkan laptop-nya sambil berkata, “Lihat nih, operating system-nya sudah saya update, sekarang sudah pake Ususbuntu versi Jangkrik Jamput. Ini yang pertama lho, bahkan dirilis saja belum, tapi saya sudah up to date.” Tapi setelah itu, yang dibuka ya tetep Music Player, PDF Reader dan hal-hal lain yang sebenarnya sudah ada di versi sebelumnya.

Heran rasanya, buat apa membuang bandwith sebanyak itu, tapi tidak ada peningkatan fungsi yang dirasakan? Kalau memang cuma memakai “itu-itu” saja, kan bisa memakai versi sebelumnya. Apakah label “up-to-date” itu sedemikian pentingnya? Kalau saya pribadi sih, bila tidak ada kegunaan yang penting, saya malas untuk upgrade software-software yang saya pakai. Daripada buang-buang waktu & bandwith sia-sia.

Tapi kalau memang jelas ada manfaatnya, baru saya akan upgrade. Seperti WordPress yang dipakai sebagai engine blog ini. Saya upgrade langsung ke versi 2.7 karena saya memang ingin memanfaatkan fungsi Automatic Upgrade-nya. Versi-versi di antara 2.5 sampai 2.7 sama sekali tidak saya gunakan. Toh, di changelog-nya sendiri biasanya cuma minor change saja.

Tampilan yang lebih bagus, biasanya menjadi faktor yang membuat orang mau repot-repot untuk upgrade. Padahal dia tidak mengetahui ada apa di balik versi yang terbaru itu. Upgrade Windows XP ke Vista, karena tampilannya lebih cool. Lebih nggilap. Padahal ya sama saja, cuma dipakai nge-game yang itu-itu saja. Kalau memang dipakai buat game khusus Vista sih mungkin tak masalah.

Tapi yah, itu kembali ke masing-masing individu. Memang ada beberapa orang yang ingin selalu tampil “baru” atau “mengikuti trend”. Padahal yah, kalau dengan yang lama saja sudah bisa, buat apa repot-repot cari yang baru?