This is My December

Astaga.. tak terasa Desember sudah mendekati ujungnya, dan saya nyaris tidak menyentuh blog ini selama bulan ini… (lirik list Archive). Gara-gara kemalasan itu, saya jadi lupa kalau Desember ini bulan istimewa saya. Ya, selain datangnya hari itu, ternyata pada bulan Desember pula blog saya ini lahir, tepatnya pada tanggal 13 yang lalu. Pada hari itu setahun yang lalu, saya posting untuk pertama kalinya di sini. Dan saya lupa (doh)

Ya sudah, berhubung saya punya perusahaan untuk diurus, saya tidak bisa berlama-lama.. Saya mengucapkan selamat Natal semuanya… :mrgreen:

Pertamax yang Kian Mendunia dan Kemalasan

Fenomena ‘Pertamaxx’ di dunia blog mungkin memang sudah jarang terdengar lagi. Para bloger semakin beradab dan semakin tahu cara berkomentar yang baik di postingan orang lain. Tapi siapa yang tahu, bahwa di satu sisi dunia maya yang lain, fenomena ini malah semakin membuat nama negeri kita menjadi tenar. Ya, siapa di antara Anda yang tahu game browser Erepublik? Erepublik adalah game browser yang menawarkan permainan second-life, di mana kita seolah menjadi diri kita sendiri di sebuah dunia lain, yang merupakan cerminan dari dunia nyata saat ini. Di dunia tersebut terdapat negara-negara dan wilayah yang sama dengan dunia nyata, ada Indonesia, Amerika, Inggris dan lain-lain, dan kita bisa melakukan hal-hal yang mungkin tidak bisa kita lakukan di dunia nyata. Kita bisa jadi presiden, anggota dewan, direktur, atau bahkan pahlawan perang.

Nah, di dalam game ini, Indonesia adalah salah satu negara yang paling terkenal. Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di sana. Indonesia juga adalah salah satu negara yang armada perangnya (ABeRI, Angkatan Bersenjata eRepublik Indonesia) paling ditakuti di dunia. Australia hampir saja terhapus dari peta dunia karena seluruh wilayahnya sudah ditaklukkan tentara-tentara ABeRI. Negara-negara anggota pakta pertahanan terbesar di dunia sana, PEACE, selalu meminta bantuan ke Indonesia bila diserbu musuhnya, pakta pertahanan lain yaitu ATLANTIS yang dibekingi Amerika dan Inggris.

Tidak hanya itu, Indonesia juga dikenal karena ulah para warga negaranya yang selalu menulis kata-kata “Pertamaxx!!” (dan kroni-kroninya itu) di setiap kolom komentar artikel koran di sana, baik koran dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini kemudian banyak ditiru warga negara asing (presiden saat itu menganggap hal ini sebagai kemajuan kebudayaan Indonesia), tapi tak sedikit pula yang geram karena artikelnya dikomentari sampah. Puncaknya adalah ketika sang administrator, yang asli Rumania menulis artikel resmi, ia menambahkan satu baris di bagian bawah

”Pertamaxx’ comments to this article will be deleted. :shock:

Dasar orang Indonesia, masih ada saja yang mencoba menulis, dan si admin mengeluarkan jurus ampuhnya tanpa ampun, si orang Indonesia itu di-ban. :lol:

Lalu apa hubungannya dengan kemalasan?

Ya, gara-gara diberi tahu game itu oleh orang ini, saya jadi semakin jarang mengupdate blog, terlalu asyik menjadi diri yang lain di sana (di sana saya punya perusahaan lho.. :mrgreen: ). Jadi mohon maaf kalau belum sempat berkunjung ke blog Anda, segera setelah saya bosan (kapan??) saya pasti akan aktif ngeblog dan blogwalking kembali. Atau Anda mau ikut bergabung di eIndonesia?

TransJakarta vs MetroMini / Kopaja

Siapa yang tak kenal TransJakarta? Sistem transportasi umum terobosan Pemda DKI yang memiliki jalur tersendiri (yang kemudian memunculkan kekeliruan penyebutan armada bis ini menjadi Busway) ini seolah sudah menjadi salah satu ciri khas ibukota. “Belum lengkap kalau ke Jakarta tapi tidak ke Monas dan naik Busway”, begitu kelakar yang saya pernah dengar dari seorang teman yang sempat berkunjung ke Jakarta.

Lalu MetroMini dan Kopaja? Bagi yang sudah cukup lama tinggal di Jakarta pasti sudah paham dengan duet maut raja jalanan ini. Bus-bus kota yang “diproduksi” dua perusahaan tersebut memang cukup dikenal dengan tingkah sopirnya yang ugal-ugalan, dan suka berhenti semaunya sendiri, bahkan di tengah jalan.

Membandingkan TransJakarta dengan MetroMini / Kopaja hampir sama seperti membandingkan surga dan neraka. Salah satu pihak adalah sebuah proyek prestise yang mendapat support penuh dari pemerintah, serta identik dengan hal-hal mewah dan fasilitas-fasilitas yang sungguh nyaman. Jalur tersendiri, AC, BBG, halte-halte yang telah diatur sehingga penumpang tidak bisa naik atau turun seenaknya, suara cewek dingin yang menyebutkan pemberhentian selanjutnya serta sopir berdasi dan berkacamata hitam jelas menggambarkan TransJakarta seperti sebuah “kehidupan beradab”. Tak seperti pihak yang lain, yang identik dengan bus kumuh dan kotor, penuh corat-coret, cara mengemudi ugal-ugalan, panas, pengamen, pengemis, tukang minta sumbangan masjid, teriakan kondektur serta ketukan nyaring di kaca jendela. Tampak sangat biadab dan barbar.

Tapi tak selamanya TransJakarta yang modern itu dianggap selalu lebih unggul dengan MetroMini & Kopaja yang primitif. Berikut beberapa review saya tentang TransJakarta dan MetroMini / Kopaja:

- TransJakarta, sebagai anak emas Pemprov, tentu akan berusaha menampakkan wajah baik dan penurut. Lihat saja, mereka selalu mengalah bila ada kendaraan lain melintas di jalurnya. Bus-bus TransJakarta juga hampir tidak pernah terlihat melaju dengan kecepatan tinggi, paling-paling kecepatan standar 60 – 70 kmph. Tapi justru di situ bisa menjadi blunder, mereka akan patuh sepatuhnya pada peraturan, tak peduli apakah sedang macet dan sedang ada penumpang di dalamnya yang sudah deg-degan karena akan tertinggal kereta atau sejenisnya. Ini Jakarta Bung! Jakarta itu keras, hanya yang berani ambil resiko yang bisa mencapai tujuannya dan tepat waktu. Bandingkan dengan MetroMini atau Kopaja itu, yang dengan beraninya menembus kerumunan mobil-mobil pribadi yang ber-merk tapi terlalu pengecut itu. Jakarta tidak akan terlalu macet bagi mereka.

- Pangaturan halte, memang bisa jadi merupakan sebuah solusi ketika transportasi-transportasi primitif selalu dikeluhkan sebab tidak menggunakan halte pinggir jalannya dengan sebaik-baiknya dan malah suka berhenti sewaktu-waktu di sembarang tempat. Tapi lagi-lagi, ini bisa jadi merupakan bumerang, ketika para calon penumpang datang berduyun-duyun ke satu halte dan saling berdesak-desakan seperti sarden. Apalagi di sebagian besar halte masih belum terpasangi sistem AC yang layak. Tidak seperti saat kita hendak naik MetroMini / Kopaja, bisa saja kita menunggu di bawah naungan pohon rindang, tidak terbatas pada satu tempat tertentu.

- Kedua hal di atas, akan semakin diperparah dengan terbatasnya armada bus, terutama untuk koridor-koridor tertentu. Sudah armadanya terbatas, di jalan selalu terhambat kendaraan lain, dengan antrian menumpuk yang tidak hanya ada di halte Anda, bisa dipastikan Anda akan semakin lama tersiksa menunggu bus TransJakarta datang. Berbeda dengan bila Anda menunggu MetroMini / Kopaja, bila Anda merasa penumpang lain terlalu banyak, Anda bisa pindah ke tempat lain, tanpa harus takut dipungut biaya.

Jadi pesan moral postingan ini: “Jangan pernah naik TransJakarta bila Anda sedang terburu-buru”

Just Another Iteration

Ah, hari ini akhirnya datang juga. Sebuah penggenapan atas semakin berkurangnya jatah nafas saya di dunia ini. Meski tidak ada perubahan berarti semenjak penggenapan sebelumnya, kecuali dalam beberapa hal sepele, setidaknya penggenapan kali ini patut diingat, sebab today is the first day of my last year for being a teenager. Pada penggenapan berikutnya, jika saya masih ada, dapat dipastikan akan ada perubahan signifikan dalam data saya. Digit pertama pada salah satu kolomnya akan berupa angka “2″, tidak lagi “1″ seperti satu dekade terakhir.

Begitulah, dan bila ada doa yang ingin, atau harus, diucapkan pada hari ini, maka doa itu adalah, semoga ini bukan yang terakhir.