The Dark Knight

The Dark Knight ini adalah film tentang superhero Marvel, Batman. Entah kenapa tidak ada embel-embel nama Batman di judul film tersebut layaknya film-film superhero pada umumnya.

Seperti film-film sebelumnya, tokoh utama film ini adalah Bruce Wayne, milyarder muda asal kota Gotham yang mempunyai kepribadian ganda di kala malam, yaitu sebagai pahlawan berdarah dingin, yang dikenal sebagai Batman.

Para gang boss di Gotham diceritakan risau dengan munculnya seorang “pahlawan” baru di kota Gotham selain Batman, yaitu D.A. (district attorney / jaksa wilayah) Harvey Dent, yang benar-benar serius dalam mengatasi masalah kriminal di kota Gotham. Perampokan yang dilakukan Joker pada bank milik mereka, ternyata mempunyai buntut. Uang “haram” mereka terendus oleh polisi serta Dent. Lau, seorang mafia, menawarkan sebuah solusi untuk membawa uang mereka jauh dari jangkauan hukum Gotham.

Joker, sang perampok, tiba-tiba muncul dan menawarkan cara yang lebih tepat, yaitu dengan membunuh Batman. Meski awalnya dia ditertawakan, para gangster itu akhirnya menyetujuinya seiring diculiknya Lau oleh Batman dari tempat persembunyiannya di Hong Kong.

Di luar dugaan para gangster, Joker ternyata sama sekali tidak tertarik dengan uang. Uang para gangster yang berhasil diselamatkannya justru ia bakar semuanya (wow). Ia ingin lebih dari itu. Ia terobsesi untuk menciptakan kekacauan. Chaos. Berulang kali ia berusaha mempermainkan perasaan para warga Gotham, antara lain dengan mangancam akan terus membunuh sampai Batman membuka topengnya, atau dengan mengadu domba penumpang dua buah kapal agar salah satu dari mereka meledakkan kapal yang lain sebelum penumpang kapal yang lainnya itu meledakkan kapal mereka.

Batman sampai merasa frustasi menghadapi Joker yang begitu licin. Sempat ia tertangkap, tapi ternyata ia sendiri yang merencanakan untuk ditangkap, agar rencananya yang lebih besar dapat terlaksana. Ia bahkan sempat ingin membuka topengnya untuk menghentikan kegilaan Joker, tapi Harvey Dent, sang jaksa wilayah, sudah terlebih dahulu mengaku bahwa dirinya adalah Batman untuk memancing keluar Joker.

Di sisi lain, Dent, sang pahlawan-putih-tanpa-topeng, berhasil diubah menjadi monster oleh Joker. Ia benar-benar merasa depresi lantaran kekasihnya, yang juga mantan kekasih Bruce Wayne, Rachel Dawes, dibunuh oleh Joker. Joker berhasil meyakinkan dirinya bahwa kematian Rachel disebabkan oleh pejabat serta polisi korup yang bersekongkol dengan para gangster. Terbakar dengan rasa dendam, Dent pun berubah menjadi monster Two Face yang memburu orang-orang yang dianggapnya bersalah atas kematian Rachel.

Dalam film ini, Batman tampil dalam sisi tergelapnya. Ia tidak menjadi seperti Superman yang dielu-elukan warga Metropolis. Hal ini cukup kontras dengan film-film sebelumnya, seperti Batman Forever, Batman Returns atau Batman & Robin. Dalam film-film tersebut, Batman hanya digambarkan sebagai sosok yang dingin dan misterius. Tapi dalam film ini, ia benar-benar tampil dalam sosok yang has no limits alias bersedia melakukan apa saja untuk menegakkan keadilan, mulai dari mengatasi para penjahat dengan cara “radikal” sampai dengan menculik mafia yang kabur ke Hong Kong untuk menghindari hukum kota Gotham. “I am whatever Gotham needs me to be”, katanya.

Dan perhatian besar yang lain tertuju pada sosok kriminal Joker. Permainan-permainan jahatnya benar-benar membuat gregetan, lantaran ia selalu bisa membuat kejutan di setiap rencananya. Tingkah laku serta kata-katanya benar-benar mampu membolak-balikkan hati.

Film ini terasa begitu cepat dan menegangkan, seolah tidak memberi sedikit jeda pada para penonton untuk meresapi apa yang sebenarnya terjadi. Hampir setiap detik selalu ada konflik, apalagi dengan aksi Joker yang ugh itu. Perkenalan tokoh pun tidak disajikan secara bertele-tele. Malah bisa dibilang tokoh-tokohnya dikenalkan ketika dalam konflik, tidak seperti tiga film terdahulu Batman yang saya sebutkan di atas, di mana awal dari film selalu bercerita tentang masa lalu para penjahat.

Sayangnya, durasinya yang cukup lama membuat film ini terasa sedikit membosankan. Ya, melihat penjahat selalu menang itu cukup membuat bosan. Tapi secara keseluruhan, film ini menurut saya benar-benar luar biasa!

Rating for this movie: :-bd

Tuhan Saja Golput

Saya baru saja baca soal MUI Madura yang mengharamkan Golput pada Pemilu 2009 nanti di blognya Kang Slamet. Mbanyol. Atas dasar apa pengharaman Golput itu? Dari Al Quran dan Hadist, katanya.

Ahahaha… Lha masak ya saya mau maksa milih orang yang sama sekali ndak saya percayai memimpin negara ini lantaran nanti Tuhan akan murka dan mencemplungkan saya ke neraka? Bukankah tambah bahaya kalau saya memilih tidak dengan hati nurani? Negara bisa saja dipimpin orang yang salah, dan tambah kacau balau. Bukannya tambah dosa itu?

Lagipula, Tuhan sendiri lho Golput. Kenapa Anda tidak? ;) )

Fasilitas Itu Penjara

… or vice versa?

Jadi begini, di tempat kerja saya yang baru, berhubung baru saja pindahan (untuk menyambut saya mungkin :mrgreen: ), para petinggi-petinggi itu mendatangkan dan membangun banyak sekali fasilitas guna memanjakan para pegawainya, dengan harapan nantinya mereka akan kembali semangat bekerja dan hasil kerja mereka dapat bertambah.

Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain, pembaharuan PC, yang meski hanya ganti monitor jadi LCD, it is still an upgrade, eh? Kemudian ada 3 layar televisi plasma yang ditempel di tembok kantor, 2 di ruang para pegawai, sementara 1 di tempat bos. Ya, timing-nya pas sekali sebab televisi-televisi itu dipasang tepat saat Euro dimulai awal Juni lalu, sehingga manusia kalong seperti saya tidak khawatir ketinggalan informasi soal Euro.

Ada juga fasilitas cafetaria, err… saya tidak tahu gimana enaknya nyebutnya, pokoknya sudah ada ada nasi + lauk di dapur (or pantry?) serta meja makan dengan peralatan makan yang lengkap, serta ada satu set sofa tempat para ahli hisab (ahli hisab rokok alias smoker) melampiaskan nafsunya. Tak tanggung-tanggung, asbak yang disediakan ndak cuma satu, tapi sekitar 10 buah :shock: . Buat apa? Alasannya agar setiap smoker bisa pegang satu asbak sehingga asbak tidak sampai penuh.

Lantas ada satu rak penuh sandal jepit yang dapat digunakan di lingkungan kantor. Memang sejenis, tapi ada berbagai macam ukuran, mulai 36 – 43. Ya, di sini Anda tidak perlu pakai sepatu. Untuk masalah yang merasa ber-KTP dengan kolom agama bertuliskan Islam, telah disediakan musholla yang, yaaaahh… cukup luas lah, di mana tempat wudhunya tersedia sendiri (tidak perlu di toilet / kamar mandi) yang juga dilengkapi banyak handuk kecil sekali pakai (setelah dipakai untuk mengeringkan air wudhu, handuk akan masuk keranjang untuk kemudian dibuang dicuci).

Well, semuanya tampak menyenangkan bukan? Tapi, efek dari semua itu, mau tidak mau para pekerja harus bisa mengimbangi dengan mematuhi segala aturan serta dituntut untuk bekerja lebih baik. Hmmm, ya ya ya, memang begitu sebaiknya. Tapi saya agak “bosen” juga mendengar pak bos beberapa kali berteriak “Tolong sandal & sepatu yang belum masuk di rak, silahkan dimasukkan” atau “Bagi para perokok, silahkan pegang asbak tiap orang satu. Saya tidak mau lihat ada puntung atau abu rokok di taman” atau “Yang selesai minum di meja makan, tolong dikembalikan ke dapur”.

Oke-oke, itu memang contoh atasan yang baik, yang menegur bawahannya bila ada yang tidak mematuhi aturan. But ummm.. tidakkah itu terlalu berlebihan? Atau saya saja yang terlalu rule-breaker? Kalo soal kerjaan, datang terlambat misalnya (yang untungnya sudah jarang saya alami), bolehlah. Tapi kalo soal itu?

Kalau melakukan sebuah aktivitas di luar pekerjaan, makan atau ngobrol saat istirahat misalnya, jadi agak kurang nyaman, soalnya harus begini, mesti begitu. Tapi untungnya, bagi pekerja kalong macam saya, pada saat malam hari pak bos sudah tiada (pulang ke rumah maksudnya), sehingga yaaa… ada sedikit kebebasan lah.. :P


Hmmm… tampaknya memang saya yang terlalu “ugal-ugalan” :mrgreen: