Ada Apa Antara Chika Sama Tika?

Woh, judulnya unik juga ya™, berakhiran “a” semua :D

Well, bukan itu yang akan saya bahas dalam postingan ini. Ini menyangkut sebuah hal serius, yang mungkin menggegerkan jagad blogosphere. Ya, ini tentang identitas dua orang seleblog™ yang selalu menjadi perhatian publik.

Mereka adalah Chika dan Tika….

Well, ada apa dengan mereka? Bukannya mereka sudah menampakkan diri dan tidak anonim? Ya memang, tapi yang saya maksud adalah: siapa sebenarnya mereka berdua ituh™? Perhatikan baik-baik, ada beberapa kesamaan dalam diri mereka:

1. Nama mereka yang hampir mirip: Chika dan Tika
2. Sama-sama seorang bloger, seleb pula..
3. Hobi berat sama yang namanya kopdar
4. Dan, yang mungkin banyak yang tidak tahu, mereka berbagi blog di sini!!

Nah lho, bagaimana ini? Siapa Chika? Siapa Tika? Ada hubungan apa antara keduanya? Bagaimana mereka bisa sedekat itu? Saya punya 2 dugaan atas pertanyaan-pertanyaan itu, yaitu:

1. Teori Saudara Kembar
Sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang lahir bareng-bareng. Entah kembar siam dempet di bagian mana, saya tidak tahu. Lalu karena suatu hal, kedua orang tua asli mereka berpisah, si ibu ke Jogja membawa bayi dari Tika dan ayah ke Jakarta membawa bayi Chika. Dan setelah saling berkenalan di dunia maya, mereka kemudian merasakan adanya sebuah persamaan dalam diri mereka yang seolah-olah menyatukan mereka, kemudian mereka pun bertemu dan saling berbicara sampai mereka yakin bahwa mereka adalah saudara kembar yang terpisah sejak bayi. Mereka kemudian berpelukan dan bertangisan, dan setelah itu mereka hidup bahagia bersama selamanya… 8-|

2. Teori Kepribadian Ganda
Menurut teori ini, mereka sebenarnya adalah satu orang yang sama. Menurut teori tersebut, dia memiliki dua kepribadian yang berbeda, yaitu sebagai mahasiswa serta sebagai seorang jurnalis. Tapi tentang bagaimana mereka bisa berada di dua tempat sekaligus (Jogja dan Jakarta), masih menjadi misteri yang sedang diselidiki para pakar™. Beredar desas-desus bahwa dia menggunakan kekuatan makhluk alam lain. Kemungkinan besar, sebenarnya dia hanya memiliki satu nama, yaitu Tika. Akan tetapi ketika tengah berada di Jakarta, dia bertemu Cincha Lawra yang dengan logat khasnya memanggil dirinya “Chika”. Sehingga nama itu pun dia pakai sebagai nama samaran ketika tengah di Jakarta.

Bagaimanapun juga misteri ini masih tetap kabur, belum ada kejelasan tentang penjelasannya. Entah, mungkin hanya Tuhan yang tahu…

FOSS: The Solution for HaKI Crisis

Hak Cipta atau Hak Atas Kekayaan Intelektual memang tak hanya menjadi milik para pembikin film dan buku saja. Para pembikin piranti lunak komputer sebenarnya juga punya hak atas ciptaan mereka. Bila diperhatikan lebih teliti, jumlah pelanggaran hak cipta pada produk piranti lunak akan jauh lebih banyak daripada ciptaan yang lain. Bentuknya pun beragam, mulai dari pembajakan software yang memiliki lisensi berbayar, sampai dengan penjiplakan source code sebuah program yang kemudian dikomersilkan dengan nama yang lain tanpa penyertaan sumber code yang asli.

Faktor-faktor yang banyak menimbulkan hal tersebut terjadi, biasanya karena software tersebut memiliki keunggulan-keunggulan yang canggih, akan tetapi memasang bandrol yang tinggi untuk dapat menggunakannya, sementara biasanya user yang menggunakannya biasanya berkantong cekak. Akhirnya jalan pintas pun diambil. Dan terjadilah software piracy yang kian marak itu.

Sebenarnya ada satu cara lagi yang sudah ada sebelumnya, dan juga lebih safe. Yaitu penggunaan Free Open Source Software. Tak sedikit pula para pembikin piranti lunak yang memberi label software bikinan mereka sebagai free atau open source alias “milik umum”. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah demi kemajuan produk itu sendiri. Khalayak umum jadi mempunyai hak untuk mengubah source code program dan syukur-syukur memberi tambahan pada produk tersebut. Kalaupun hanya untuk dipakai pun tidak masalah, bukankah tujuan membuat software itu memang untuk dipakai? :P

Masalahnya adalah, biasanya software semacam ini, bila dibandingkan dengan produk-produk wah yang berbayar, memiliki fitur dan teknologi yang kurang serta tidak terlalu user-friendly. (Ya, maklumlah, namanya juga membuat tanpa bayaran). Sehingga kebanyakan end-user akan lebih memilih software wah tadi, meski lewat jalan yang tidak halal. Tapi sebenarnya bukan pada hal tersebut letak permasalahannya, tetapi pada kemauan untuk belajar. FOSS, juga ikut memberi jalan bagi para developer pemula untuk ikut memberi sumbangsih kepada masyarakat. Daripada mereka menghabiskan waktu membuat program-program cracking, bukankah lebih baik ikut memberi bantuan agar program tersebut lebih friendly dan lengkap?

The Dying Nation

Pemerintahan amburadul ?

Pejabat-pejabat korup ?

Kacaunya kehidupan sosial ?

Harga hidup yang semakin tinggi ?

Ketidakmerataan kesejahteraan sosial pada seluruh rakyat Indonesia ?

Para agamawan yang sibuk adu aliran ?

Hukum yang semakin tak terjangkau ?

Aktivis-aktivis yang semakin gemar rusuh ?

Politikus yang sibuk berebut tahta ?

Lingkungan yang semakin tak mendidik ?

Pendidikan yang semakin kacau ?

Dan seorang bloger yang kerjanya protes saja ?

Maaf, bagi saya negeri ini sudah mati. Teronggok di puing-puing “NKRI Harga Mati“.
Ya, saya sudah terlalu skeptis pada negeri ini. Negeri gemah ripah loh Jiancuk!!

Iron-Man

Satu lagi keluarga super hero bikinan Marvel diangkat ke layar lebar. Entah, mungkin Hollywood sedang terserang virus komik, atau mungkin para pembuat film tengah ingin bernostalgia dengan masa kecil mereka. Dan biasanya, film-film jenis seperti ini akan sangat “mencengangkan” karena dipenuhi oleh adegan-adegan CGI untuk mem-visualisasikan kemampuan sang super hero yang “di luar kemampuan manusia biasa” itu. Namanya juga super hero…

Nah, sekarang giliran sang Manusia Setrika Besi alias Iron Man yang muncul di bioskop. Well, karena dulu sewaktu saya kecil saya tidak begitu suka dengan tokoh ini, saya jadi kurang ngeh aslinya. Tapi sepertinya sang sutradara juga sudah paham dengan kondisi tersebut, jadinya alur ceritanya dibuat flash back terlebih dahulu, lengkap dengan masa lalu sang tokoh utama.

Jadi ceritanya, Tony Stark (Robert Downey Jr.) seorang jenius yang merupakan ahli waris dari sebuah perusahaan senjata “Stark Industries” milik ayahnya, diculik gerombolan teroris saat dalam perjalanan di Afghanistan. Sang pemimpin gerombolan (Faran Tahir) menginginkan Tony untuk membuatkannya rudal Jericho, yang merupakan rudal paling mutakhir yang diproduksi Stark Industries. Tony terkejut mengetahui bahwa gerombolan teroris tersebut ternyata menggunakan senjata buatan perusahaannya.

Akhirnya diapun menyanggupi keinginan sang teroris. Tapi ternyata, tanpa sepengetahuan sang teroris, dia dan teman sepenjaranya, Yinsen (Shaun Toub) malah membuat sebuah armor perang dari peralatan bekas.

Dan ketika dia akhirnya bebas dan pulang ke Amerika, dia menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan dengan memproduksi senjata. Karena barang buatannya itu justru membunuh orang-orang yang seharusnya dilindungi dengan senjata-senjata itu. Akhirnya dia pun memutuskan untuk menghentikan produksi senjata perusahaannya.

Tapi ternyata niatnya itu terhadang oleh Dewan Direksi yang dibekingi Obadiah Stane (Jeff Bridges). Akhirnya tanpa sepengetahuan siapapun, Tony mengembangkan kembali armor perangnya itu untuk menumpas teroris yang dulu menyekapnya. Tapi dia malah mengetahui sebuah skandal untuk menjatuhkan dirinya. Apa itu? Silakan tonton sendiri sajah :D

Film ini cukup baik dalam segi cerita, karena orang yang belum pernah tahu Iron Man pun (seperti saya) dapat memahami alurnya. Syarat wajib film super hero alias CGI pun, bisa dikatakan jempolan, hanya saja ada satu kekurangan. Yah, karena sang sutradara harus menjelaskan alur cerita film ini, jadinya film ini kurang dengan adegan pertarungan sang pahlawan dengan musuh-musuhnya. Pergolakannya seringnya hanya pergolakan batin, intrik dan cinta saja.

But overall, with a shocking ending, you won’t be sorry for watching this movie… :D

Rating: =D>