Happy F(e)asting!

Astaga, saya sama sekali ndak ngerasa kalau sudah masuk Ramadhan lagi. Sumpah, setahun ini terasa begitu cepat. Yah, mungkin efek dari 4 bulan menjadi sampah masyarakat itu :D .

Ya sudah, saya cuma mau mengucapkan:
Selamat berpuasa,
Selamat makan yang enak-enak,
Selamat berburu diskon,
Selamat memakai baju yang bagus-bagus,
Selamat berleha-leha di tempat kerja,
Selamat menikmati tunjangan hari raya,
Selamat bermalas-malasan dan bermanja-manja,

Happy f(e)asting, everybody!!

Calo 3 in 1

Di dekat kantor saya, persis di seberang jalan depan kantor, sering saya jumpai banyak orang berjajar di trotoar sambil mengacungkan jari kepada setiap mobil yang melintas. Dulu saat pertama datang di Jakarta, saya tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Biasanya orang melakukan itu untuk “mencegat” angkot atau bus kota agar berhenti dan mereka bisa naik. Tapi ini mereka lakukan kepada mobil-mobil pribadi, dan banyak di antaranya adalah mobil dengan merk-merk mewah. Jadi tak mungkin kalau mereka mau “numpang” di situ. Seorang kawan saya waktu itu memberi tahu kepada saya, bahwa orang-orang itu adalah calo 3 in 1. Dia lalu menjelaskan bahwa di Jakarta ada beberapa jalan protokol yang dalam waktu-waktu tertentu tidak boleh dilewati mobil yang berisi kurang dari 3 orang. Jadi para calo tersebut menawarkan jasa agar para pengendara mobil dapat melintasi jalan-jalan tersebut tanpa ditilang pak polisi bertampang galak yang suka malak. Bagaimana caranya? Ya mereka akan berpura-pura menjadi penumpang dalam mobil tersebut, sehingga ketentuan 3 orang dalam mobil bisa terpenuhi.

Pekerjaan seperti ini memang sangat menggiurkan. Hampir tidak dibutuhkan skill apapun untuk melakukannya. Hanya perlu kesabaran untuk mencegat setiap mobil yang lewat, plus dandanan yang rapi dan sopan. Yah, mungkin agar calon pemakai jasa mereka, yang sebagian besar adalah orang-orang berduit tidak risih dengan penampilan mereka saat mau menggunakan layanan mereka. Seringkali ketika saya berangkat ke kantor, saya berjalan bareng dengan seorang yang tampak seperti orang kantoran: menggunakan kemeja & celana kain + sepatu kulit. Rapi sekali, tapi ketika sampai di tempat biasanya calon-calo ini mangkal, eh, dia kok ikut-ikut mengacungkan jari mencegat mobil.

Uang yang dihasilkan pun terhitung lumayan. Saya pernah bertanya kepada sopir pribadi direktur tempat saya bekerja. Menurut beliau, biasanya pak direktur paling sedikit memberi uang sepuluh ribu rupiah jika menggunakan jasa para calo. Kalau jarak yang ditempuh lumayan jauh, biasanya dari Senayan ke Thamrin, pak direktur memberi 20 ribu. Dan kalau sedang baik hati, tak jarang uang lima puluh ribuan yang diberi. Tidak ada tarif resmi, kata pak sopir saya. Semua tergantung tingkat kebaikan si pemakai jasa.

Tapi yang saya sayangkan, tampaknya pihak Satpol PP dan pra petugas yang lain tidak setuju dengan kehadiran para calo ini. Sering saya jumpai mereka semua lari berhamburan ketika mendengar sirene mobil patroli Satpol PP, atau suara derap sepatu bot para petugas yang tengah mencari ceperan bertugas. Entah apa alasan para petugas yang menghalau kehadiran mereka. Toh, mereka tidak melakukan hal-hal yang merusak. Mereka hanya stand-by di saat-saat tertentu, saat jam 3 in 1 aktif. Merusak ketertiban kota? Saya rasa tidak, mereka toh hanya berbaris dengan stelan rapi di sepanjang trotoar, mereka juga tidak merugikan pengguna jalan lain atau pejalan kaki (alasan yang biasanya dipakai alasan untuk mengobrak PKL).

Bagi saya calo-calo itu hanya orang-orang yang berusaha mencari rejeki dengan cara yang halal tanpa meminta-minta. Tapi entah mengapa para Satpol PP yang seharusnya mengayomi masyarakat-masyarakat kecil seperti mereka justru menjadi musuh yang menakutkan. Bila sedang ada patroli, tak jarang beberapa calo laki-laki memanjat pagar besi untuk bersembunyi di dalam lingkungan Gelora Bung Karno. Yang lain biasanya lari dan sembunyi di gedung-gedung lain di sekitarnya. Mereka bersembunyi begitu ketakutan, saya pernah melihat dengan mata saya sendiri, seorang calo, wanita muda yang tengah hamil tampak begitu takut bersembunyi di halaman gedung kantor saya. Dia bersembunyi sambil mengintip-intip apakah para petugas mencari ke tempat dia bersembunyi.

Entahlah, terkadang bila saya merasa hidup saya kekurangan, setiap memandang orang-orang seperti calo-calo ini, saya jadi merasa tertohok. Masih ada yang hidup jauh lebih susah daripada saya. Toh, saya tidak perlu berdiri berjam-jam mencegat setiap mobil menawarkan jasa untuk mendapat uang. Saya juga tak perlu khawatir bakal ada petugas yang mengobrak dan mengejar-ngejar saya. Humpf…

Sepakbola, Drama & Emosi

Anda menonton pertandingan Chelsea vs Barcelona tadi pagi? What a game! Sebuah drama yang sangat emosional. Bagaimana tidak? Setelah satu kaki Chelsea sudah ada di Roma, tempat final Liga Champions digelar, di menit terakhir, Iniesta membuyarkan segalanya. Keunggulan 1-0 yang tampaknya sudah akan menjadi hasil akhir, musnah dengan satu gol, yang membuat Barcelona lolos karena unggul dalam away goal. Fans Chelsea yang sudah terbang di atas langit, seolah langsung jatuh berdebam di tanah yang keras. Sementara fans Barcelona yang sudah pasrah, seolah merasa surga pindah ke bumi. Saya memang bukan fans keduanya, tapi saya menjadi saksi euforia salah seorang fans tersebut.

Tapi bukan itu maksud postingan ini. Tapi lihatlah bagaimana reaksi manusia-manusia yang terlibat dalam drama tersebut. Drogba mungkin memang emosi dan mengejar wasit dan melontarkan kata-kata yang pedas padanya seusai pertandingan. Tapi ya itu saja, tidak ada bogem yang melayang atau kaki yang tiba-tiba terangkat. Begitu pula dengan Ballack saat ia memprotes keputusan wasit yang tidak memberikan penalti. Dengan berteriak-teriak penuh emosi, ia mengejar wang wasit. Tapi ya cuma itu saja.

Josep Guardiola, pelatih Barcelona, bahkan menyalami Hiddink saat ia mengira tim-nya sudah kalah. Kalo soal pelatih Chelsea, Guus Hiddink, saya benar-benar menaruh hormat padanya. Ia sama sekali tak terprovokasi dengan tensi panas yang terjadi di dalam lapangan. Ia tetap memasang tampang cool. Tidak ada aksi caci maki atau bahkan tendang-tendangan.

Fans, bagian yang paling rentan, pun bereaksi sama. Mereka memang menangis dan beberapa kali melontarkan hinaan kepada wasit. Tapi ya itu saja, tidak ada batu atau botol minuman yang terbang ke lapangan. Tidak ada yang ngguruduk ke lapangan sambil mempertontonkan jurus karate.

Ah, tampaknya kita masih jauh dari itu. *menghela nafas*

Kampanye & Sampanye

Yak, Pemilu legislatif tinggal menghitung hari sodara. Sudahkah Anda menentukan caleg mana yang Anda pilih? Jangan lupa ada 3 macem lho yang harus dipilih, yaitu buat DPR RI, DPRD tingkat I dan DPRD tingkat 2. Jadi nanti Anda harus mencontreng di 3 surat suara. Sekedar informasi sajah, ada 34 partai yang ikut Pemilu kali ini, dan masing-masing partai akan mencalonkan 8 orang (cmiiw). Jadi Anda harus memilih 3 orang di antara kurang lebih 816 orang. Jangan lupa juga, hati-hati dengan tanda contreng yang Anda bikin, kalau sampai tandanya salah mengenai nama caleg lain, soalnya, ndak kayak ujiannya anak sekolah, tanda yang Anda bikin ndak bisa dihapus atau di tip-ex. Juga ndak bisa sampeyan tambahin lagi tanda contreng di caleg yang Anda maksud, sebab kalau ada 2 tanda contreng, surat suara Anda dinyatakan tidak sah.

Good luck with it.. :lol: :lol: :lol: Continue reading