Pesta Blogger+ 2010

Me at #pb2010

Me at #pb2010. Courtesy of Taufikn

Iya, saya kemarin datang ke Pesta Blogger+ 2010 ituh. Meski diawali dengan buruk lantaran saya ditilang Pak Polisi dengan sukses ketika dalam perjalanan menuju Epicentrum Walk yang belum jadi ituh, saya benar-benar menikmati momen di PB+ 2010 kemarin.

Datang agak telat dikit untuk menghindari sesi pidato-pidato dan sambutan-sambutan, saya langsung shock melihat goodie bag yang disediakan panitia di meja registrasi. Tas laptop. Ya, tas laptop. Bukan cuma soft case, tapi bener-bener tas laptop segede gaban. Jadilah saya rempong karena bawa 2 tas gede-gede, goodie bag ituh dan tas punggung saya sendiri.

#pb2010 Goodie Bag

#pb2010 Goodie Bag

Cerita soal bagaimana jalannya Pesta Blogger+ 2010 kemarin nggak akan saya tulis. Sudah banyak bertebaran di mana-mana dan ditulis oleh blogger beneran pula :P Saya cuma mau pamer apa saja yang saya dapatkan sepanjang acara kemarin: Continue reading

Komjen (Pol) Hans Landa

Hans Landa

Hans Landa

Sudah nonton film Inglorious Basterds? Kalau belum silakan tonton dulu, keren kok. Film karya sutradara Quentin Tarantino ini bercerita tentang Perang Dunia kedua dalam versinya sendiri. Dalam film ini, super villain alias tokoh antagonis utamanya bukanlah si “Jojon” Adolf Hitler, tapi seorang Kolonel (Standartenführer) tinggi di organisasi Schutzstaffel (SS), semacam polisi rahasia Nazi, bernama Hans Landa. Landa adalah seorang pemimpin yang cakap dan ahli strategi. Dialah orang kepercayaan Hitler untuk melakukan pemusnahan bangsa Yahudi sebagai kebijakan anti-semit Nazi. Saking ahlinya dalam menumpas bangsa Yahudi, ia mendapatkan gelar yang sangat dibanggakannya: Jews Hunter alias Pemburu Yahudi.

Meski terlihat sangat loyal di awal-awal cerita film, ternyata Landa membelot saat mendekati akhir cerita. Saat pasukan Basterds menjalankan operasi Kino untuk membunuh semua petinggi Nazi, Landa mengetahui hal itu. Tapi bukannya menangkap para anggota Basterds, Landa malah mengajak berdiskusi Kapten Aldo “the Apache” Rein, pemimpin Basterds. Ia bersedia membiarkan para Basterd melakukan aksinya asal ia mendapat jaminan dari pemerintah Amerika Serikat. Ia “menjual” rekan-rekan dan atasannya demi mendapatkan penghargaan dari tentara Sekutu. Ia meminta pemerintah Amerika Serikat mengakuinya sebagai double-agent dan menganggap semua kejahatannya sebagai “necessary evil” yang harus ia lakukan demi menggulingkan Hitler. Bahkan ia minta sebuah pulau di daerah tropis untuk dijadikan properti pribadinya.

Sampai di situ, saya merasa ada sesuatu yang mengganjal. Sebuah deja vu. Saya seperti melihat implementasi nyata adegan di film tersebut di dunia nyata ini. Tepatnya di negara yang saya tinggali saat ini, Indonesia. Saat membaca media-media saya seperti tengah menonton film Inglorious Basterds tadi. Di mana ada adegan seorang perwira tinggi di sebuah institusi hukum “menjual” rekan-rekannya demi mendapat “perlindungan hukum dan politik” dan mungkin untuk menghapus kejahatan masa lalu-nya.

Saat organisasi yang dibelanya selama ini sedang terancam oleh organisasi lain, tiba-tiba dia muncul, bernegosiasi dengan organisasi “lawan” agar mereka bisa menumpas penjahat-penjahat yang ada dalam organisasinya. Hanya satu perbedaannya, dia mengaku bahwa dia “bukan” seorang penjahat, tidak seperti Landa yang mengakui semua kejahatannya. Lucu juga sih kalau si Hans Landa Indonesia ini mengaku lantas minta semuanya disebut sebagai “necessary evil“. Ah, tapi itu kan menurut dia saja, hati orang siapa yang tahu.

Jadi bagaimana nasib Hans Landa Indonesia ini? Apakah dia akan mendapatkan tanda penghargaan karena jasa-nya mengungkapkan borok institusi yang dibelanya selama ini? Atau dia akan ikut tersandung masalah yang dimulainya sendiri? Kita lihat saja nanti. Sebagai perbandingan, di akhir film Inglorious Basterds, Hans Landa masih belum jelas dia dapat pulau pribadi atau tidak. Yang ada dia malah mendapat sayatan berbentuk swastika di dahinya.

Pesta Blogger 2009

Oke, jadi ini cerita tentang Pesta Blogger kemarin ituh.

Saya ndak ikut rame-ramenya soalnya saya cuma dateng setengah hari. Cuma ikut sesi pagi (pidato, diskusi, performance dari Pandji) lantas dilanjut makan siang, dan chaw! saya menghilang, menuju kampus untuk ikut ujian. Ternyata konsisten itu cobaannya banyak. sigh. Selesai ujian, balik ke venue, dah tinggal acara bagi-bagi door prize. Ga dapet lagi.

Jadi yaaa, jangan tanya saya acara kemaren seru apa nggak. Katanya siiih, acara kemaren membosankan. Kalo saya sih pokoknya ada acara ngumpul-ngumpul gitu pasti seru :D Lagian what do you expect with a thousand people together inside a room? Di mana-mana acaranya ya gitu itu. Kalau mau beneran asik sih ya tinggal pinggirin kursinya, lalu summon DJ. Ajojing dah.. :P

Tapi meski saya tidak, ehm, eksis, bukan berarti saya tidak exist. Berikut sedikit bukti tentang keberadaan saya di sana:

Me & PB09

Me & PB09

Duduk di belakang Pak Menteri

Duduk di belakang Pak Menteri

Saya juga mengucapkan selamat dan terima kasih kepada mas Iman Brotoseno serta crew panitia atas terselenggaranya PB 09 kemarin. Semoga PB2010 bisa lebih seruuu! Yeah!!

Surrogates: A More Modern, Meaningless Life

Surrogates

Surrogates

Bumi 17 tahun di masa mendatang. Teknologi manusia diceritakan mencapai puncak tertinggi. Revolusi paling besar dalam sejarah umat manusia. Surrogates, adalah istilah untuk menyebut robot pengganti manusia. Dengan Surrogates, manusia tidak perlu melakukan semua aktivitas outdoor-nya dengan diri mereka sendiri. Mereka cukup mengendalikan robot mereka dari dalam rumah menggunakan semacam sensor yang dihubungkan dengan otak mereka. Dikatakan sebagai revolusi terbesar dalam sejarah umat manusia, karena dengan Surrogates, mereka bisa tetap beraktivitas tanpa khawatir terkena masalah. Mereka bisa berkendara tanpa khawatir cedera karena kecelakaan lalu lintas. Mereka bisa berhubungan dengan orang lain tanpa tertular penyakit.

Cerita film ini sendiri dimulai ketika 2 buah Surrogates ditemukan hancur. Belakangan diketahui bahwa “pilot” kedua robot tersebut ternyata ikut mati. Hal yang menghancurkan Surrogates mereka ternyata ikut membunuh mereka, padahal salah satu fitur Surrogates adalah sang pengendali tak perlu khawatir mendapat cedera seandainya terjadi kecelakaan terhadap Surrogates mereka. Agen FBI Tom Greer (Bruce Willis) ditugaskan menyelidiki hal ini. Ia menemukan bahwa kedua Surrogates tersebut diserang oleh seseorang menggunakan sebuah senjata misterius yang dapat menghancurkan Surrogates sekaligus menembus sistem pertahanan yang melindungi pengendalinya. Kasus tersebut semakin dalam saat diketahui bahwa salah satu Surrogates yang hancur adalah milik Dr. Lionel Carter (James Cromwell), penemu Surrogates. Pengendali Surrogates tersebut, yang ikut mati adalah putranya, Jared Carter.

Greer berhasil melacak penyerang kedua Surrogates tersebut. Ia adalah salah seorang dread, orang-orang yang menentang penggunaan Surrogates atas dasar moral dan agama. Sayang dalam pengejarannya, Surrogates milik Greer dihancurkan para dread. Greer memutuskan untuk melanjutkan pengejarannya dengan dirinya sendiri, tanpa robot pengganti. Tapi sayang, sang penyerang telah ditemukan tewas. Greer curiga bahwa sang Prophet, pemimpin para dread ada di balik peristiwa tersebut.

Di sisi lain, ia mengalami masalah rumah tangga dengan istrinya, yang selalu menggunakan Surrogates tanpa pernah menjalani kehidupan dengan dirinya sendiri. Istrinya masih mengalami trauma karena mereka telah kehilangan putra mereka satu-satunya dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.

Dari segi cerita, film ini memang cukup bagus. Meski terdapat beberapa “hole”, tapi alurnya cukup menarik untuk diikuti. Banyak twist yang terjadi yang cukup mengejutkan, meski mungkin dapat dengan mudah ditebak oleh Anda yang sering menonton film macam begini.

Tapi ada satu hal lain yang membuat saya suka film ini, yaitu pesan moralnya. Bahwa tindakan manusia yang semakin mengeksploitasi ilmu pengetahuan justru membuat mereka semakin kehilangan arti hidup. Sains yang diciptakan untuk membantu hidup mereka justru malah membuat manusia lupa siapa diri mereka sebenarnya. Surrogates ini adalah salah satu contohnya, bagaimana manusia telah kehilangan arti diri mereka. Apa pentingnya tubuh mereka, jika mereka bisa menggunakan sebuah tubuh yang tidak bisa merasa sakit. Definisi manusia sendiri telah menyempit menjadi sebuah gumpalan sel bernama otak. Ya, hanya otak lah satu-satunya tanda keberadaan manusia.

Cogito ergo sum, memang Descartes pernah mengatakan hal tersebut. Tapi ada alasan kenapa Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan perangkat tubuhnya, tak hanya dengan segumpal otak untuk berpikir dan merasakan kenikmatan saja. Agar manusia sadar, bahwa dirinya adalah makhluk lemah, yang dapat merasakan sakit. Agar mereka tahu, bahwa ada batas-batas di setiap perbuatan mereka. Agar mereka tidak semena-mena terhadap diri mereka dan orang lain.

Saya teringat kepada film lain yang juga bercerita tentang manusia yang sudah keblabasan: Wall-E. Dalam film animasi tersebut, bahkan manusia sudah lupa cara berjalan. Mereka tidak perlu repot-repot melakukan aktivitas yang dapat melelahkan, karena mereka sudah punya alat yang dapat menyediakan kebutuhan mereka serta mampu membawa mereka kemana-mana.

Ah, memang selalu ada dua sisi koin. Teknologi memang dapat membantu kehidupan kita, tapi bila digunakan secara berlebihan, kita sendiri yang akan mengalami kerugian. Itulah kenapa beberapa hari ini saya sempat absen dari dunia maya dan lebih fokus kepada kehidupan nyata saya. :)

Kapan ya, ada film Indonesia dengan aksi keren plus pesan moral yang bagus kayak begini? :roll: