
@ Warung Pasta Kemang

@ Warung Pasta Kemang
Februari, bulan yang katanya penuh cinta. Yap, bagi saya itu memang benar, namun bukan karena bulan ini adalah bulan kematian seorang saint bernama Valentine, tapi justru karena bulan ini adalah bulan lahirnya saint pribadi saya. Yah, siapa lagi kalo bukan Nyonya saya yang satu itu.

Tepat 5 Februari kemarin, saint saya itu genap berusia sekian-sekian. (Demi kepentingan bersama, silakan tanya saja sendiri usianya. She is a she, you know
).
Selamat ulang tahun ya Sayang, semoga kamu semakin dewasa, semakin gak riwil dan semakin bisa menjalani hidup dengan tegar.
Oh ya, aku cuma minta satu hal saja: Jangan buru-buru minta dilamar dulu ya..
Sebenernya ini berita basbang. Jadi, Microsoft membikin sebuah event unik untuk mempromosikan produk unggulan terbarunya, Internet Explorer 8. Event tersebut berjudul Rock Air Guitar, di mana setiap peserta yang ikut berpartisipasi diharuskan membuat sebuah video di mana mereka bermain Air Guitar. Apa itu Air Guitar? Ya gitar yang terbuat dari udara, maksudnya gitar-gitaran. Jadi si peserta akan berakting seolah-olah mereka memegang gitar dan bermain dengan gitar imajiner tersebut. Ide yang unik, karena jadinya yang ditantang bukan skill bermain gitar, tetapi kretivitas dan akting dalam berimajinasi
Saya kurang begitu tertarik sebenernya karena ada beberapa faktor:
Tapi beberapa hari yang lalu ada seorang teman yang mengirimkan sebuah pesan di Facebook. Pesan tersebut berisi informasi yang mengatakan bahwa dia juga ikut kompetisi Air Guitar tersebut. Tertarik, saya buka link yang disertakan di pesan tersebut. Dan saya pun hanya bisa terkagum melihat video bikinan temen saya itu. Iri juga sebenarnya, sama-sama berangkat dari garis start yang sama, tapi saya malah belum ngapa-ngapain
)
Silakan dicekidot video-nya gan.. Silakan juga dicek TKP buat ngasih komentar
Btw good job guys! Godspeed.
Kelanjutan dari part I
Setelah di rontgen, saya kembali menghadap ibu dokter yang baik. Beliau sedang mengamati foto X Ray dada saya. Saya sudah ga enak aja melihat foto itu. Dan saat ibu dokter yang baik ngomong ke saya, perasaan saya semakin tidak karuan. Perkataan ibu dokter tersebut membawa kabar baik sekaligus kabar buruk. Kabar baiknya, prasangka saya yang menduga bahwa jantung saya yang bermasalah ternyata salah! Jantung saya sehat-sehat saja. Berita buruknya: “Mas, ada cairan yang menyumbat paru-paru Mas”. Mampus!
Saya lemes mendengar diagnosis itu. Lha wong saya ini jarang sakit, lha kok sekali sakit kok ya bagian itu yang kena. Ibu dokter yang baik ini kemudian memberi saya surat rujukan agar saya bisa menemui dokter spesialis paru-paru. Mendengar kata spesialis, saya menjadi tambah lemes. Yaaa.. dokter spesialis bagi saya berarti semakin banyak duit yang harus keluar hari itu. Tapi mau bagaimana lagi, nafas saya sudah semakin menyakitkan waktu itu. Akhirnya dengan lemas, saya berjalan ke poli paru-paru. Singkat cerita, saya diterima pak dokter yang budiman. Beliau melihat foto X Ray saya dan membaca rujukan dari ibu dokter umum yang baik. Sambil masih menerawang foto X Ray, pak dokter berkata dengan enteng. “Wah ini sih harus operasi”. Semakin lunglai saya.
Pak dokter yang budiman tersebut kemudian memeriksa saya kembali. Setelah beberapa lama beliau mengatakan satu hal yang (seharusnya) sedikit melegakan saya. “Ga usah operasi bisa kok, Mas. Tapi harus opname. Gimana?”. Wanjrot! Opname? Euthanasia saya saja dok!! Saya gelagapan menjawab pertanyaan pak dokter. Lha wong pilihannya sama-sama ga enak dari segi moral maupun finansial. Saya mikirnya kalo saya opname, siapa yang bakal menemani saya di rumah sakit? Keluarga ga ada, temen-temen pada sibuk. Bisa-bisa mati bengong saya di sana, bukan gara-gara paru-paru ini.
Melihat gelagat saya ini, pak dokter yang budiman sepertinya paham. “Rawat jalan sih juga bisa, cuma sembuhnya agak lama. Dan juga belum tentu sembuh sampai tuntas”. Melihat ada sedikit celah untuk berkilah, saya pun menyambarnya. “Rawat jalan saja Dok!”. Pak dokter yang budiman, meski tampak enggan, menjawab “Ya sudah kalau gitu. Saya ambil dulu cairannya sedikit buat dites”. What?! Paru-paru saya mau dikeluarin terus diperes gitu?! Lagi-lagi pak dokter paham. “Cuma disedot pake suntikan sedikit di dada”.