Bantengan

Pada bulan Agustus seperti ini, acara-acara yang katanya memperingati Hari Kemerdekaan negeri ini banyak digelar. Mulai dari acara lomba-lomba itu, sampai dengan festival di jalan-jalan. Nah, di daerah tempat saya tinggal, ada satu festival yang unik, yang selalu membuat jalanan penuh dengan orang-orang dari luar kampung, bahkan luar kabupaten.

Saya tidak tahu nama festival ini di tempat lain, tapi kalau di tempat saya, namanya Bantengan. Festival ini mirip dengan festival encierro di Spanyol, di mana beberapa ekor banteng akan dilepaskan di jalanan, mengamuk serta menakut-nakuti warga yang menonton. Tapiyang di tempat saya ini, bukan banteng asli yang dilepas, tapi banteng jadi-jadian. Lebih mirip seperti barongsai, di mana dua orang akan mengenakan kostum yang menyerupai banteng.

Para pemain bantengan tersebut biasanya akan menjalani sebuah ritual khusus yang penuh dengan kemenyan dan dupa sebelum memulai pawai. Kemudian saat pawai digelar di jalan, mereka akan menari-nari mengikuti musik gendingan yang disetel lewat sound-system besar di atas bak truk yang mengikuti pawai.

Saat tarian sudah mulai panas, banteng-banteng itu akan mulai “kesurupan” dan mengamuk. Mencoba melepaskan diri dari dua orang yang memegangi tali yang melilit di tanduk banteng tersebut, serta menyeruduk ke arah penonton. Pada saat inilah, keasyikan festival ini dimulai. Para penonton yang menyaksikan adegan kesurupan itu, justru malah memancing emosi sang pemain dengan ber-suit-suit serta meneriakinya. Tentu saja, banteng-banteng itu akan mengamuk dengan semakin buas dan liar, berusaha menerjang para penonton yang lari tunggang langgang.

Pawai bantengan biasanya diawali oleh tarian reog serta beberapa kuda lumping. Biasanya reog dan kuda lumping ini hanya menari-nari, tapi tak jarang juga ada yang ikut-ikut kalap dan mengamuk. Bila para pemain sudah terlalu kalap, mereka biasanya akan tak sadarkan diri. Seorang pawang akan meletakkan sebuah cemeti / pecut yang berbau kemenyan di hidung mereka. Setelah itu, bila sang pemain sadarkan diri, maka ia akan bangun dan mulai menari-nari lagi, tapi bila masih tidak sadarkan diri, maka beberapa orang akan menggotongnya untuk ditangani lebih lanjut.

Menonton festival bantengan ini memiliki kesan tersendiri dan memacu adrenalin, apalagi bila menonton di barisan paling depan ketika sang banteng mulai mengamuk. Tapi meski sedikit takut, tak sedikit penonton yang berteriak-teriak dan memancing sang banteng agar mengejar mereka.

Kemarin sebenarnya ada acara bantengan di kampung saya, tapi karena diselenggarakan pada malam hari, sementara saya hanya punya hengpon dengan kamera pas-pasan, maka saya tidak bisa mengambil skrinsyut yang layak. Maafkeun..

Anthem

Tadi pagi, saya nonton pertandingan Euro antara Prancis lawan Italia. Saat mendengar lagu kebangsaan Prancis, saya kaget, nadanya mirip banget dengan lagu “Dari Sabang sampai Merauke” :-O

Atau saya yang salah?? :-? ?

Silaken klik di sini untuk mendengarkan versi instrumen dari “La Marseillaise”

Ayas Genaro Ngalam, jess…

DISCLAIMER: Bagi Anda yang ndak ngerti basa Jawa, saya mohon maap, hampir 68%™ 100% bahasa yang saya pakai di postingan ini adalah bahasa Jawa, bahasa Malang-an tepatnya. Bukannya saya bersikap rasis atau chauvinis, saya hanya kangen memakai bahasa itu.

Suwatu hari, di sebuah kota-yang-katanya-adem-tapi-ndak-adem-lagi-ituh, di sebuah warung nasi, terjadilah sebuah percakapan…

Ainun: Sam, tuku oges karo oskab ageh, ayas ewul durung nakam blas..
Nazieb: Orip?
Ainun: Ubires ae..
Nazieb: Lha ojobmu gak masak ta?
Ainun: Kadit, nang owutrem, kangen jarene..
Nazieb: Lha dadi umak saiki rudit dewe?
Ainun: Oyi

Nazieb: Owutrem-mu dadi opo seh?
Ainun: Sing Ebes biyene silup, tapi wes ketam, kewut soale..
Nazieb: Lha sing kodew?
Ainun: Mbuh ayas kadit itreng..
Nazieb: Ooo.. mantu nade!!

Ainun: Adapes-e sampeyan ndi?
Nazieb: Kenek silup wingi..
Ainun: Lha gak sampeyan kek-i ojir ta?
Nazieb: De’e kadit uam
Ainun: Lha opo’o?
Nazieb: Ayas mek nggowo amil ubir
Ainun: Yo mesti ae jess…
Nazieb: Lha mari tak gawe tuku kitip karo pakane sudew..
Ainun: Lha tekan hamur iki maeng uklam?
Nazieb: Kadit, melok libom-e nawak-ku..
Ainun: Owalah.. Yowis Sam.. aku tak ngalup disik..
Nazieb: Oyi, ati-ati..

[Update]
Ternyata masih banyak kesalahan dalam kemampuan saya berbahasa Ngalam. Untuk koreksinya silakan lihat komen dari om Gum ini. ^:)^