Saya adalah fans serial Nickelodeon, Avatar: The Last Airbender, atau yang di Indonesia berjudul The Legend of Aang. Maka gempar-lah saya saat melihat trailer film live-actionnya untuk pertama kali. Ini adalah salah satu film yang paling saya tunggu tahun ini. Akan tetapi ketika mengetahui bahwa sutradara film ini adalah M. Night Shyamalan yang popularitasnya menurun dalam beberapa tahun belakangan, saya jadi khawatir film ini akan menjadi seperti film Dragon Ball Evolution yang hancur itu.

The Last Airbender
Dan ya, saat akhirnya saat dirilis film ini banyak menuai kritik pedas. Shyamalan dinilai gagal mengadopsi serial TV yang dianggap lucu sekaligus menegangkan. Bahkan protes paling keras datang dari orang-orang yang menilai bahwa film ini sangat rasis. Jalan cerita yang harusnya berlatar belakang kebudayaan Asia justru dibawakan oleh aktor-aktor kulit putih. Justru tokoh-tokoh protagonis-nya yang diperankan oleh orang India.
Sampai di situ hilanglah sudah gairah saya menonton film ini. Saat akhirnya diputar di Indonesia, saya lebih memilih untuk menunggu sampai seminggu sebelum akhirnya menonton film ini di bioskop. Dan ketika akhirnya saya menonton film ini, saya sampai tidak tega menayangkan versi gagal dari serial favorit saya.
Apa saja kekurangan film ini? Banyak! Shyamalan terlalu bernafsu membungkus satu season yang berisi 20 episode ke dalam 1,5 jam film. Hasilnya: hancur! Tidak ada pendalaman karakter seperti di serialnya. Aang sang avatar, yang dalam serialnya sangat ceria, di film ini malah tampak seperti balita baru belajar bicara. Noah Ringer sang pemeran, terlihat seperti Baim Cilik yang sedang main sinetron Indonesia. #ampuniBaimYaAllah. Jangan pula berharap ada aksi kocak dari Sokka yang humoris. Jackson Rathbone memang cocoknya jadi vampir berwajah dingin saja. Momo dan Appa yang imut? Lupakan. Malah yang saya kagumi adalah Dev Patel yang memerankan Pangeran Zuko yang emosional. Meskipun bekas luka yang menjadi khas sang Pangeran malah tidak jelas terlihat.

Dev Patel as Prince Zuko
Konflik yang diceritakan juga terkesan datar. Shyamalan berusaha menjejalkan semua peristiwa yang terjadi dalam 20 episode dengan banyak memotong sekian adegan yang harusnya menjadi penjelasan kepada penonton. Maka seandainya saya tidak menonton serialnya, saya tidak akan paham seberapa gentingnya konflik yang terjadi.
Efek CGI yang menjadi satu-satunya harapan saya juga ternyata biasa-biasa saja. Malah saya merasa rugi saat menonton versi 3D. Hampir tidak terasa 3D-nya, sama saja dengan yang 2D.
Sebenarnya sah-sah saja andaikan Shyamalan hanya mengangkat cerita di 10 episode pertama, asal benar-benar digarap dengan serius. Bagi saya lebih baik ini jadi film yang panjang dengan banyak sekuel daripada menjadi 3 film dengan kualitas buruk.
Semoga Nickelodeon bisa lebih bijak memilih sutradara untuk sekuel-nya. Kalau bisa Peter Jackson saja lah
. Jangan sampai Book 2: Earth ikut-ikutan hancur. Sebab di sana akan muncul karakter favorit saya: Toph Bei Fong.
untung belum nonton…untung belum nonton…
hore!
ah, donlot saja sudah
untung langsung delete dari hard disk, gajadi nonton [-(
hehehe….untung belom ngeluarin duit buat nonton ke bioskop.
Salam Kenal dariku, nice artikel
Sekalian mau bilang Met Puasa bagi yang puasa. Met sejahtera bagi yang gak njalanin. Semoga selamat & damai dimuka Bumi. Amin
untung baru tau dan gak mau nonton hihihi
Rated 2.5/5
Setuju bagian cerita yang miskin pendalaman; dan juga karakter Aang yang justru depressing.
salam kenal…
entah kenapa saya kartun nya kok nggak suka ya? jadinya juga ga minat nonton versi layar lebarnya hehe
saya udah nonton juga,dan hasilnya memang mengecewakan,apalagi nontonnya yg 3D,mahal banget tapi gak sebanding sama kepuasannya
untung jarang nonton versi nickolodeon-nya, jadi ga ngeh sama ceritanya..
jadi ya nonton film ini rasanya biasa-biasa aja..
beughhh….
memang belum nonton, tapi sudah bisa membayangkan gimana mengecewakannya…
sekian panjang episode di book1 dimampatkan hanya dalam 1,5 jam…ckckckck…
sayang banget padahal serialnya keren dan karena itulah jadi banyak yang menanti versi layar lebarnya, eh lha kok…
setuju klo yang bikin peter jackson…te o pe be ge te….
mending nonton serialnya lagi aja deh…wekekekeke…..
ooo… begitu ya rupanya…
kalo untuk menikmati film hancur gini mending beli dvd bajakannya ajalah.
lumayan kan hanya dg 5rb perak sdh bs nonton.
ajib… ajib…
untung bukan saia sutradaranya..jd gak bakalan dicela
Exactly my thoughts! Padahal Shyamalan mengaku dia dan anak-anaknya suka banget nonton A:TLA di rumah, tapi kenapa kenapa KENAPA casting-nya beda jauh dari karakter-karakter original? Gita suka banget Jackson Rathbone karena dia cakep (hehe) tapi pas tau dia bakal jadi Sokka, sumpah kaget dan shock setengah mati (in a very bad way). I guess I was a fool to even think about seeing Jackson in tan… -_- Seriously Shyamalan what were you thinking?
More of my thoughts here: http://gitadine.wordpress.com/2010/08/06/the-last-airbender-movie/
Jadi bener-bener nggak sabar nunggu spin-off A:TLA yang bakal rilis insya Allah akhir taun ini deh! =) More info here: http://gitadine.blogspot.com/2010/08/avatar-legend-of-korra.html
bagus-bagus filmnya. bisa download gak? kalo gak bisa yah.. beli deh.